Saraswati laksana kembang mawar putih di tengah pekatnya gelap, dengan takdir yang menyedihkan sebagai seorang abdi pelayan.
Takdir jugalah mempertemukannya dengan seorang Juragan Devan yang menghadirkan benih cinta di hatinya. Namun ia sadar siapa...
Baca secara lengkap Saraswati di Kbm app atau Karyakarsa Aqiladyna.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam ini suasana rumah sangatlah sepi. Ndoro Ratih dan para Juragan belumlah kembali dari acara undangan selamatan di rumah besar Ndoro Ainun. Tak ada yang Saraswati kerjakan usai Kinasih pulang tadi sore selain hanya berada di bilik kamarnya. Saraswati berbaring di atas dipan memejamkan matanya meski ia belumlah mengantuk.
"Saraswati!" seru suara lelaki memanggilnya lantang seketika membuka kelopak mata Saraswati yang mengenali suara Juragan Devan. Saraswati segera bangun menjuntaikan kakinya beranjak dari dipan buru-buru melangkah ke luar dari bilik kamar. Di kejauhan Saraswati menatap Juragan Devan yang terhuyung melangkah masih memanggil namanya yang di papah Paklik Anung.
Saraswati segera menghampiri, menatap cemas pada Juragan Devan lalu pandangannya beralih pada Paklik Anung.
"Ada apa dengan Juragan Devan?" tanya Saraswati pada lelaki paruh baya itu.
"Juragan terlalu banyak minum tuak di acara barusan. Saras tolong papah Juragan sampai ke kamarnya. Paklik masih ada kerjaan di luar."
Saraswati mengangguk mengantikan Paklik Anung memapah Juragan Devan menuju bilik kamar beliau.
Kini Juragan Devan sudah di baringkan di atas dipan, mata beliau terpejam dengan wajah memerah karena pengaruh minuman tuak. Baru kali ini Saraswati melihat Juragan Devan mabuk. Saraswati menghela nafasnya melepaskan alas kaki Juragan Devan lalu menaruhnya di bawah dipan. Di ambilnya kain di mata kaki Juragan Devan, melebarkannya untuk menyelimuti tubuh beliau.
Saraswati tercekat saat tangannya di sambar Juragan Devan---menggenggamnya erat. Kelopak mata Juragan Devan terbuka memperlihatkan warna legam yang lekat menatap.
"Juragan--- Juragan ingin sesuatu?" tanya Saraswati seketika memekik saat tubuhnya tertarik duduk di sisi dipan. Juragan Devan yang bangkit dari pembaringan begitu dekat jarak wajahnya dengan Saraswati, membuat perempuan itu salah tingkah melepas pandangannya dari Juragan Devan.
"Jangan alihkan tatapanmu." bisik Juragan Devan meraih dagu Saraswati hingga memaksanya bersitatap. Senyum samar di sudut bibir Juragan Devan terukir memandangi seksama wajah Saraswati. Detak jantung Saraswati rasanya berpacu cepat merasakan sapuan ibu jari Juragan Devan menyapu bibirnya.
"Kenapa kamu begitu sempurna." bisik Beliau serak.
Sempurna dalam hal apa yang di maksud Juragan Devan, sungguh Saraswati tidaklah mengerti, ia hanya seorang abdi pelayan yang di hadiahkan pada beliau. Kasta terlalu rendah sedikitpun Saraswati tak memiliki kesempurnaan dalam dirinya.
"Juragan sebaiknya beristirahatlah." Saraswati ingin menjauh namun Juragan Devan menahannya hingga ia terpaku kembali tenggelam di manik mata legam lelaki itu.