Saraswati laksana kembang mawar putih di tengah pekatnya gelap, dengan takdir yang menyedihkan sebagai seorang abdi pelayan.
Takdir jugalah mempertemukannya dengan seorang Juragan Devan yang menghadirkan benih cinta di hatinya. Namun ia sadar siapa...
Baca secara lengkap Saraswati di Kbm app atau Karyakarsa Aqiladyna.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Happy Reading 14 April 2021
Terbangun dari tidurnya Juragan Devan meringis menahan pening yang menghantam kepalanya. Teringat tadi malam beliau terlalu banyak menegak minuman tuak yang di sajikan di acara selamatan rumah besar Ndoro Ainun. Bukan karena Juragan Devan menyukai minuman memabukkan itu, alasan beliau terlalu jenuh berada di tengah selamatan berkumpulnya orang- orang dari kalangan berduit, saat Juragan Devan ingin pulang selalu di tahan Maharani dan juga Biyungnya.
Juragan Devan menjuntaikan kakinya menapaki lantai mengambil handuk beranjak keluar dari kamar menuju bilik kamar mandi. Di tengah lorong Juragan Devan bepapasan dengan Mbok Romlah yang menyapa ramah.
"Pagi Juragan." Mbok Romlah merundukan kepalanya saat Juragan Devan berlalu. Sesaat langkah beliau terhenti memutar tubuh menghadap Mbok Romlah yang melanjutkan langkahnya.
"Mbok!" panggil Juragan Devan hingga Mbok Romlah berbalik menatap beliau.
"Inggih ada apa Juragan?"
"Antarkan sarapanku ke bilik kamar saja."
"Inggih Juragan."
Juragan Devan melangkah kembali untuk menuju bilik kamar mandi. Sesampainya Juragan Devan melepaskan pakaian menguyur tubuhnya dengan air. Ingatan beliau terhempas pada kejadian tadi malam atas sentuhan pertama beliau pada seorang perempuan. Saraswati--- apa yang ia lakukan pada perempuan itu. Meski di pengaruhi minuman beralkohol Juragan Devan masih mengingat jelas rasa manis dari bibir yang menggoda pertahanannya.
Rasa yang menyerangnya tadi malam pasti hanya kekeliruan karena terlalu banyak menegak tuak. Tidak mungkin beliau menyukai Saraswati. Tradisi selalu Juragan Devan junjung, tak pernah sedikit pun beliau berniat melanggarnya.
Juragan Devan menyanggakan tangan di dinding kamar mandi, merenung dalam langkah yang harus ia ambil. Tak mau hubungannya dengan Saraswati merenggang atau menjadi kesalahpahaman Juragan Devan memutuskan akan meminta maaf pada perempuan itu.
Usai membersihkan diri Juragan Devan sudah berada di bilik kamarnya telah berpakaian rapi. Duduk bersila di depan meja bundar menunggu kehadiran Saraswati yang akan mengantarkan makanan.
"Ngapunten Juragan saya bawakan sarapan."
Juragan Devan mengambil nafasnya menatap pantulan tubuh perempuan di balik tirai pintu. "Masuklah Saraswati."
Tirai tersibak wajah Juragan Devan berubah datar, ternyata yang membawakan beliau sarapan bukanlah Saraswati melainkan Kinasih.
"Ngapunten Juragan Saraswati sedang berada di bilik belakang. Jadi saya mengantikan tugasnya." kata Kinasih sembari meletakan makanan di atas meja. Juragan Devan mengerutkan keningnya tidak suka, beliau berdiri melangkah ke jendela perhatian beliau tertuju pada Saraswati yang berdiri tertunduk menghadap biyungnya di kebun bunga belakang rumah. Juragan Devan menyipitkan matanya tak bisa mendengar dengan jarak lumayan jauh pada pembicaraan biyungnya pada Saras, tapi Juragan Devan menduga biyungnya sedang memarahi Saraswati.