Follow ig saya Aqiladyna.
Ikuti cerita saya di kbm app dan KARYAKARSA. Saraswati sudah TAMAT di sana.
Sebagian cerita saya sudah tamat bisa di beli berbentuk ebook di playstore buku ketik Aqiladyna. Atau berbentuk pdf original bisa membelinya di wa +62 822-1377-8824. (Saraswati belum ada)
24 mei 2021 part ke 11
Pagi ini langit nampak mendung namun hujan pun enggan turun, sepertinya alampun ikut merasakan hati yang kelam karena janji yang telah teringkar. Saraswati berdiri memandang pada langit dari jendela bilik kamarnya. Berbalik duduk di kursi menghadap kaca rias. Membuka pakaiannya untuk menganti perban di bahunya.
Luka di bahunya bekas tusukan masih basah, seharusnya Saraswati masih beristirahat atas titah Juragan Devan, namun ia enggan menaatinya karena tidak ingin mencari masalah dengan Ndoro Ratih yang telah balik kemarin.
Di pandanginya pantulan wajahnya yang pucat dari cermin, mengusap bawah kelopak matanya yang nampak membengkak karena semalaman hanya menangis. Saraswati menghela nafasnya kali ini perasaannya jauh lebih baik. Saraswati tidak lagi memikirkan pembicaraannya tadi malam dengan Juragan Devan. Saraswati telah memutuskan akan menghapus rasa di hatinya pada Juragan Devan agar hatinya tak semakin terluka.
Saraswati mengenakan pakaiannya kembali, beranjak keluar dari bilik kamar, menghampiri Mbok Romlah yang nampak sibuk memasak dengan Kinasih dan Rasmi.
"Mbok, Saras bisa bantu apa?" tanya Saraswati hingga Mbok Romlah menoleh padanya.
"Ndhuk bukannya kamu di haruskan beristirahat." kata Mbok Romlah meletakan sayur di atas meja.
"Saras sudah sehatan Mbok."
"Benar begitu?" tanya Mbok Romlah tidak yakin di balas anggukan Saraswati.
"Mbakyu jangan maksakan diri, pekerjaan rumah ndhak perlu di pikirkan, kan Mbok Romlah ndhak sendiri, ada saya dan Mbakyu Rasmi." kata Kinasih menatap pada Rasmi yang mengoreng ikan di tungku. "Benarkan Mbakyu Rasmi."
Saraswati mengalihkan tatapannya pada Rasmi yang tersenyum samar pada Kinasih. Perempuan itu enggan menatap ke arah Saraswati. Entah perasaan Saraswatikah sikap Rasmi tunjukan berbeda padanya, sangat dingin dan enggan menjalin perkawanan.
"Kalau begitu Saras menyapu pelataran dan halaman depan saja Mbok. Permisi." kata Saraswati menuju gudang penyimpanan alat kebersihan.
Kinasih menghela nafas atas sikap keras Saraswati. Jelas ia mencemaskan keadaan Saraswati yang masih dalam pemulihan, bagaimanapun Kinasih sangat peduli dan menyayangi Saraswati seperti mbakyunya sendiri.
Saraswati mulai menyapu pelataran depan hingga halaman. Menyingkirkan dedaunan kering yang jatuh dari pohon. Saat sibuk dengan pekerjaannya suara seseorang mengalihkan perhatian Saraswati yang menoleh mendapati lelaki muda berdiri di belakangnya. Saraswati berbalik memberi sapaan pada lelaki muda itu yang ia ketahui bernama Birawa. Abdi dalem yang baru di kerjakan kemarin.
"Ngapunten, saya bisa pinjam sapunya sebentar." katanya ramah. Lelaki itu mempunyai senyum yang manis, berkulit kecoklatan dan beralis lebat. Saraswati mengangguk memberikan sapu pada Birawa yang mengucapkan terima kasih, meraih sapu itu membawanya ke depan, tidak lama Birawa kembali memberikan sapu itu kembali pada Saraswati.
"Terima kasih, boleh saya tahu namanya siapa?"
"Saraswati."
"Nama yang sangat indah. Nama saya Birawa, semoga kita bisa jadi kawan selama mengabdi di sini."
Saraswati hanya mengulas senyum, sosok Birawa ternyata jauh lebih ramah berkenan menyapanya, berbanding terbalik dengan Rasmi. Duh Gusti kenapa harus Saraswati menilai tidak baik pada perempuan itu. Mungkin saja Rasmi sangatlah pemalu yang terlalu sungkan menyapa lebih dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saraswati
RomanceSaraswati laksana kembang mawar putih di tengah pekatnya gelap, dengan takdir yang menyedihkan sebagai seorang abdi pelayan. Takdir jugalah mempertemukannya dengan seorang Juragan Devan yang menghadirkan benih cinta di hatinya. Namun ia sadar siapa...
