8 Getaran

2.9K 836 83
                                        


Baca secara lengkap Saraswati di Kbm app atau Karyakarsa Aqiladyna.

Baca secara lengkap Saraswati di Kbm app atau Karyakarsa Aqiladyna

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


28 April 2021

Luka di bahu Saraswati telah di jahit Mantri, luka yang cukup dalam yang di hunuskan si penyusup untuk melindungi Juragan Devan. Usai mantri undur diri Juragan Devan memandangi wajah Saraswati yang tertidur, membiarkan malam ini Saraswati berada di bilik kamarnya.

Juragan Devan sama sekali enggan beranjak, duduk di kursi kayu menghadap dipan di baringi Saraswati. Perlahan di raih beliau tangan Saraswati yang terasa dingin dalam genggaman.

"Terima kasih." gumam Juragan Devan atas pengorbanan Saraswati yang rela menaruhkan nyawa untuk menghalau penyusup itu yang ingin menghabisi Juragan Devan.

Tak pernah Juragan Devan merasa berhutang budi sebesar ini pada seseorang. Apa yang di lakukan Saraswati jelas tentu membuat beliau semakin berempatik pada keberanian Saraswati.

Perempuan ini sangat tulus mengabdi padanya, pertama kalinya Juragan Devan bersitatap dengan Saraswati saat Tuan Karim mempertemukan meyakinkannya untuk membawa Saraswati ke rumah ini.

Juragan Devan membenarkan kain yang membungkus tubuh Saraswati. Beliau lalu berdiri beranjak keluar dari bilik kamar. Juragan Devan harus mengetahui siapa sebenarnya penyusup yang nekat memasuki rumah untuk menyingkirkannya. Tepat beliau berjalan di lorong, Wisaka berjalan berlawanan arah menghampiri beliau, sudah kembali usai menyeret penyusup itu ke pihak berwajib.

"Ngapunten Juragan, saya membawa informasi Juragan tentang penyusup itu."

"Siapa sebenarnya dia?"

"Lelaki itu seorang pekerja kebun yang dulu Juragan pecat. Namanya Mada."

Kening Juragan Devan mengerut mengingat pekerja dulu bernama Mada. Berpikir sejenak ingatan Juragan Devan tertarik akan kejadian di masa silam, tentu beliau telah mengingatnya pada pekerja bernama Mada yang telah lama di pecatnya karena telah melakukan penggelapan hasil panen perkebunan. Juragan Devan tak menyangka kejadian bertahun lamanya telah menanamkan dendam Mada padanya hingga berbuat gila ingin menghabisinya.

"Manusia ndhak tahu diri itu harus membayar kejahatannya dengan setimpal. Aku ndhak habis pikir dia berani menyusup ke rumah ini."

"Ngaputen Juragan, ini kesalahan saya yang lalai hingga ndhak menyadari penyusup telah memasuki rumah ini. Jurangan berhak menghukum saya." Wisaka tertunduk menyesal. Andai ia tak tertidur sangat lelap tentu kelalaian ini tak akan terjadi.

"Sudahlah Wisaka. Aku ndhak mau hal serupa kembali, besok carilah beberapa orang untuk mengabdi menjaga keamanan rumah ini."

"Inggih Juragan."

Juragan Devan berlalu, melewati Wisaka yang kembali melangkah ke luar untuk menjaga keamanan sekitar rumah.

Saraswati membuka matanya di sambut cahaya pagi lembut menerpa melewati jendela kayu yang terbuka. Bola matanya memindai sekeliling bilik kamar yang di tempatinya. Saraswati terperanjat karena ini bukan bilik kamarnya melainkan bilik kamar Juragan Devan. Bangkit dari dipan meringis menahan sakit di bahunya. Pandangan Saraswati mengarah pada bahunya yang di perban. Saraswati mengingat kejadian tadi malam yang telah memergoki penyusup di rumah ini. Bersyukurlah nyawa Juragan Devan terselamatkan meski ia harus menerima luka yang sungguh menyakitkan di bahunya.

SaraswatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang