2 Devan Dhanurendra

5.1K 1K 99
                                        

Saraswati bisa dibaca di KBM APP ATAU KARYAKARSA Aqiladyna.

Saraswati bisa dibaca di KBM APP ATAU KARYAKARSA Aqiladyna

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Happy Reading 28 maret 2021

Sepekan tinggal di rumah besar milik Juragan Devan yang sangat asri di kelilingi pepohonan rindang Saraswati banyak tahu tentang kehidupan pribadi beliau.

Juragan Devan Dhanurendra beusia 37 tahun, memiliki paras bagus rupawan dan gagah, beliau pemilik lahan perkebunan kopi yang luas tidak jauh jaraknya dari rumah beliau tempati bersama Ndoro Ratih--- Biyung beliau dan sepupu beliau Juragan Deawa Dhanurendra.

Saraswati adalah abdi pelayan pertama di miliki Juragan Devan. Di rumah besar hanya ada Paklik Anung abdi di percayai Juragan Devan, Wisaka si tukang kebun, Mbok Romlah abdi pelayan yang dulu ikut serta mengasuh Juragan Devan dan Kinasih pelayan berusia 18 tahun yang awalnya Saraswati mengira dia juga abdi pelayan milik Juragan Devan. Semua teramat baik memperlakukan Saraswati hingga Saraswati tidak lama beradaptasi di rumah ini.

Saraswati baru saja menyelesaikan cuciannya dan menjemurnya, rasanya siang ini sangat gerah padahal mentari belum membumbung tinggi, tubuh Saraswati seluruhnya berkeringat hingga keringatnya mengalir di antara belahan payudaranya yang tampak menyembul di kain jarik yang ia kenakan. Saraswati mengangkat bakul cucian membawanya ke dapur. Memperhatikan Mbok Romlah yang sedang memasak berjongkok di depan tungku perapian.

"Mbok, biar Saras bantu." sapa Saras lembut hingga perempuan paruh baya itu menoleh padanya dan tersenyum lembut.

"Ndhak perlu Saraswati, ini makanan untuk Ndoro Ratih."

Saraswati terdiam saat nama Ndoro Rarih di sebutkan karena keberadaannya di sini masih belum di terima sepenuhnya oleh beliau yang lebih banyak diam sekaan Saraswati tak pernah ada.

"Kamu bikinkan kopi saja antarkan ke bilik kerja Juragan." pinta Mbok Romlah.

"Loh, Juragan sudah balik toh Mbok."

"Iya biasanya beliau balik cepat dari kebun di hari setu."

Saraswati tidak berkata lagi, ia membikinkan kopi untuk sang Juragan, kopi hasil panen dari perkebunan Juragan Devan memang terbaik dan wanginya sangat harum. Pantaslah pabrik kopi milik Tuan Karim ikut berkembang pesat dan malangnya Saraswati harus di jadikan hadiah dari rasa terima kasih itu. Tapi Saraswati beruntung selama tinggal di sini ia seakan memiliki keluarga baru yang sangat perhatian padanya, ia patut bersyukur pada Sang Kuasa bukan selalu mengeluh.

Kopi sudah siap di antarkan ke bilik kerja Juragan Devan, mengayunkan langkahnya Saraswati menyusuri lorong rumah yang panjang sampailah berhenti di depan tirai pintu bilik kerja Juragan Devan.

"Permisi Juragan, Saras bawakan kopi untuk Juragan."

"Masuk Saraswati."

Menyibak tirai Saraswati memasuki bilik, harum kayu manis saat khas menusuk penciumannya, seisi bilik itu sangat rapi lebih dominan perabotannya terbuat dari jati, di lihatnya Juragan Devan sedang sibuk menulis duduk di kursi kerjanya. Saraswati meletakan kopi di atas meja kerja beliau lalu berniat pamit undur diri.

SaraswatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang