12 Luka

2.3K 878 58
                                        

Follow ig saya Aqiladyna.
Ikuti cerita saya di kbm app dan KARYAKARSA
Saraswati sudah ada di sana.

Sebagian cerita saya sudah tamat bisa di beli berbentuk ebook di playstore buku ketik Aqiladyna. Atau berbentuk pdf original bisa membelinya di wa +62 822-1377-8824. (Saraswati belum ada)

31 mei 2021 part ke 12

Saraswati memejamkan matanya membiarkan udara dingin menerpa kulit tubuhnya yang duduk di bebatuan besar perkebunan kembang belakang rumah. Sejak pagi usai Juragan Devan pergi bersama Ndoro Maharani dan kini beliau baru balik sendiri di sore hari, Saraswati enggan menampakan diri pada beliau, lebih menepi di sini bersama luka hatinya. Tidak peduli dirinya di cari-cari atau nanti di marahi.

Sakit menggerogoti hatinya atas pemandangan menyesakan tadi pagi di lihatnya. Ternyata Juragan Devan selama ini membodohinya. Ciuman dan rasa hanya permainan untuk menyakiti Saraswati.

Kenapa? Saraswati terus mempertanyakan dalam hatinya kenapa Juragan Devan mempermainkan perasaannya. Saraswati memang babu, seorang abdi yang di hadiahkan cuma-cuma, tapi ia memiliki hati yang bisa terluka.

Bukankah ini salahmu Saraswati, membiarkan cinta ini tumbuh di dalam hati sejak pertama pertemuan. Mengira sang Juragan sosok lelaki yang berbeda dari Tuan lainnya. Nyatanya mereka sama, hanya menjadikan seorang abdi pelayan sebagai penyalur hasrat serta permainan rasa.

"Ya Gusti Pangeran, hapuskan rasa cinta ini." gumam Saraswati dengan manik matanya berkaca-kaca.

Tak pantas ia larut dalam rasa sakit dan emosi melihat Juragan Devan bersama Ndoro Maharani. Mereka sepadan dan sangat serasi.

Saraswati berusaha mengendalikan diri, dia tak ingin nampak murahan mengharap cinta pada majikan. Ia harus bangun dari mimpi dan mulai menata hatinya.

"Aku ndhak harus seperti ini." tekat Saraswati mulai berdiri mengibas jariknya yang sedikit kotor. Saat Saraswati ingin beranjak terdengar gemerisik langkah seseorang mendekat. Rupanya Rasmi yang nampak terkejut menatap pada Saraswati.

"Mbakyu ternyata di sini." kata Rasmi menatap heran pada Saraswati.

"Iya, tadi cari angin. Kamu sedang apa?"

"Oh, Ndoro Ratih meminta saya memetik kembang di dekat danau. Mbakyu mau bantu?"

Kening Saraswati mengerut, meneliti sekeliling kebun, tidak ada danau di sini.

"Mbakyu." sapa Rasmi menyentakan Saraswati.

"Ndhak ada danau di sini."

"Ada, di balik semak rimbun itu." tunjuk Rasmi ke arah belakang Saraswati yang pandangannya mengikuti. "Ayo Mbakyu." Rasmi menarik tangan Saraswati yang tercekat. Setengah menyeret langkah Saraswati.

"Rasmi sebaiknya kamu saja, aku takut Ndoro Ratih ndhak berkenan karena aku membantumu." kata Saraswati menghentikan langkah keduanya. Rasmi berbalik menatap datar pada Saraswati membuatnya tak nyaman. Bukan Saraswati tidak ingin membantu, teringat tamparan Ndoro Ratih yang selalu menyalahkan dirinya, bahkan Ndoro Ratih tidak sudi di layani olehnya.

"Mbakyu, Rasmi mohon. Rasmi takut sendirian." katanya memelas.

Kasihan sekali dalam hati Saraswati yang tidak mungkin menolak karena hatinya tidak tegaan. Meski Rasmi pembawaannya selalu dingin padanya.

"Aku akan menemanimu, tapi--- jangan bilang pada siapapun."

"Inggih, janji."

"Bukankah kita seumuran, ndhak perlu panggil Mbakyu, panggil Saras saja."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 2 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SaraswatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang