9. Dilema

2.1K 707 26
                                        

Saraswati pernah tamat di watty.

Baca secara lengkap Saraswati di Kbm app atau Karyakarsa Aqiladyna.

Sabtu 15 mei 2021

"Saraswati, Ndhuk di dalam?" Mbok Romlah menyibak tirai pintu terkesiap menatap Juragan Devan ternyata berada di bilik kamar Saraswati. Mereka saling bersitatap. Juragan Devan yang berdiri begitu dekat dengan Saraswati.

"Ngapunten Juragan, Mbok ndhak tahu Juragan di dalam." kata Mbok Romlah tertunduk sungkan.

Tatapan Juragan Devan beralih dari Saraswati pada Mbok Romlah, beliau melangkah berhenti sejenak saat melewati Mbok Romlah.

"Hari ini Saraswati ndhakku izinkan melayani dan mempekerjakan tugas rumah. Tolong Mbok awasi sampai ia pulih total."

"Inggih Juragan."

Juragan Devan melangkah kembali keluar dari bilik kamar. Mbok Romlah menatap Saraswati yang bergeming di posisinya, perempuan paruh baya itu mendekat menyentuh lembut bahu Saraswati.

"Ndhuk kenapa, apakah sesuatu hal di katakan Juragan padamu?" tanya Mbok Romlah di balas gelengan Saraswati.

"Wajahmu masih sangat pucat, beristirahatlah. Nanti Mbok bawakan sarapan untukmu."

"Terima kasih Mbok. Maaf Saras merepotkan."

"Ndhak apa Ndhuk." Mbok Romlah tersenyum seraya membingkai pipi Saraswati mengusapnya lembut sebelum keluar dari bilik kamar.

Tinggallah Saraswati sendiri, membaringkan tubuhnya di atas dipan menyamping menatap dinding bilik kamar. Pikiran Saraswati berputar pada kejadian barusan antara dirinya dan Juragan Devan.

Di sentuhnya permukaan bibirnya yang meninggalkan jejak ciuman Juragan Devan.

Apakah ini mimpi? Benarkah ini mimpi namun Saraswati tidak terbangun dari mimpi itu. Juragan Devan kembali menciumnya terlebih beliau meminta hal yang tidak mungkin terjadi.

"Saraswati menikahlah denganku." kelopak mata Saraswati terpejam saat suara Juragan Devan terngiang di pendengarannya.

Ini ndhak mungkin, pasti sang Juragan hanya bercanda. Tapi Saraswati telah mengenal Juragan Devan sosok yang selalu serius dengan hal apapun, beliau tak pernah banyak bicara apa lagi melontarkan guyonan.

Andai benar ajakan itu suatu keseriusan tentu Saraswati bahagia, ia tak munafik telah jatuh hati pada Juragan Devan Danurendra. Mungkin perasaan itu telah hadir di saat mereka pertama kali di pertemukan.

Bolehkah Saraswati berharap besar pada janji Sang Juragan yang akan menikahinya, mengingat statusnya hanyalah seorang abdi dalam yang di hadiahkan pada Juragan Devan. Tidak hanya status kendalanya, namun sikap Ndoro Ratih serta Juragan Deawa tak pernah menyukai keberadaannya.

Butiran air mata Saraswati mengalir saat kelopak matanya terbuka, di usapnya seraya menghela nafas mentralkan hatinya yang tiba tiba sakit.

Pintu terbuka sebuah bilik yang tak di jamah lagi setelah berpuluh tahun lamanya. Bilik kamar yang sengaja di beri pintu dan di kunci dari luar agar tak ada seorang pun berani memasukinya. Langkah Juragan Devan terhenti di tengah ruangan kamar, memindai sekeliling kamar yang letak perabotannya masih sama seperti dulu. Kaki Juragan Devan mengayun membuka jendela kayu hingga kamar yang tadinya temaram di sinari cahaya mentari dari luar. Pandangan Juragan Devan berkaca kaca menatap boneka kain yang tergeletak di atas dipan. Perlahan beliau mendekati dengan tangan bergetar terulur mengambil boneka itu.

Juragan Devan luruh duduk di tepi dipan, menahan air mata yang hampir lolos. Ingatan Juragan Devan di hempas kejadian paling mengenaskan yang susah payah beliau ingin lupakan.

Sakit, amarah, ketakutan dan rasa bersalah sampai detik ini masih Juragan Devan rasakan dan di pendam, bahkan setiap waktu menghantui beliau.

Juragan Devan menghela nafasnya, seharusnya ia tak pernah menginjakan kakinya memasuki bilik kamar ini lagi karena hanya semakin melukai hatinya. Kejadian tadi malam lah pada Saraswati terluka karena menyelamatkannya membawa Juragan Devan kemari mengingatkan akan sosok gadis paling berarti di dalam hidupnya.

Juragan Devan meletakkan boneka kain itu kembali di dipan, tatapan beliau mengarah pada laci meja yang di buka menampakan sebuah foto dari dalamnya.

Tangan Juragan Devan meraih foto itu yang sudah hampir kusam, hitam putih memotret seorang gadis mengenakan kebaya dengan rambut di sanggul rapi nampak cantik memperlihatkan senyum manisnya. Senyum yang persis nampak di sudut bibir Saraswati.

Memijat keningnya menghalau rasa pening yang menghantam kepalanya karena pikiran yang bergelut kusut membelenggu beliau dalam dilema.

Rasa kecemasan akan ucapan beliau dengan Saraswati yang tak mampu tertahan, mengalir begitu saja. Bagaimana bisa Juragan Devan meminta Saraswati menikah dengan beliau nyatanya kasta mereka berbeda.

Hutang budilah membuat kalimat itu terucap, kalau bukan Saraswati tentu Juragan Devan tak bisa menghirup udara di dunia ini lagi.

Juragan Devan tak mau mengulangi kesalahannya mengorbankan seseorang yang begitu menghormati serta mencintainya. Namun mungkin tidak dengan menikah, lalu bagaimana Juragan Devan menjelaskan pada Saraswati untuk menarik kata yang telah terlanjur terucap.

Sore ini langit begitu cerah, Saraswati terlalu jenuh berada di kamarnya, ia menghampiri Mbok Romlah dan Kinasih yang berkutat memasak untuk makan malam.

Ingin sekali Saraswati membantu memperhatikan gemas pada Kinasih yang kesulitan membersihkan ikan. Andai bahunya tidak sakit tentu pekerjaan Kinasih sudah beralih ke tangannya.

"Hati-hati Kinasih nanti tanganmu terluka." kata Saraswati di balas Kinasih dengan senyuman.

"Mbakyu ini bawel sekali, kenapa ndhak istirahat saja toh di bilik kamar. Biar lekas sembuh."

"Benar apa kata Kinasih sebaiknya kamu berisitrahatlah nduk." sahut Mbok Romlah.

Saraswati tidak punya pilihan selain mengangguk menuruti saran mereka, bagaimanapun Mbok Romlah dan Kinasih sangat mencemaskan keadaannya. Kalau ia cepat pulih tentu mereka turut berbahagia.

"Inggih, Saraswati ke kamar dulu." saat Saraswati berdiri, tirai tersibak Wisaka bersama seorang perempuan hampir seusia dengan Saraswati dan seorang lelaki muda memasuki bilik dapur.

"Ngaputen semua. Saya minta perhatiannya sebentar." kata Wisaka hingga Mbok Romlah dan Kinasih melepaskan pekerjaan mendekati Wisaka.

"Karena rumah ini mulai ndhak aman, sesuai titah Juragan Devan abdi dalem akan di tambah untuk di pekerjakan di rumah ini. "Wisaka melirik pada perempuan itu yang berwajah manis merunduk memberi sapaan pada Saraswati, Mbok Romlah dan Kinasih.

"Namanya Rasmi dan sebelahnya Birawa. Saya harap kalian bisa bekerja sama saling membantu, tidak hanya masalah pekerjaan di rumah ini namun keamanan juga, dan untuk kalian Rasmi dan Birawa mulailah bekerja." kata Wisaka mengakhiri kalimatnya seraya berlalu keluar dari bilik dapur.

Birawa undur diri karena tugasnya memang menjaga di depan, tinggal Rasmi yang kembali memperkenalkan dirinya dan bertanya tugas apa yang harus ia kerjakan.

Saraswati tenggelam dalam pikirannya memperhatikan sosok Rasmi yang sangat lemah lembut menyimak saat Mbok Romlah menjelaskan tugas tugas sebagai abdi pelayan. Hingga Saraswati tersentak saat Kinasih menyentuh pundaknya.

"Mbakyu melamun?"

Saraswati menggeleng, sekali lagi perhatiannya tertuju pada Rasmi lalu beralih menatap Kinasih. "Mbakyu istirahat dulu." kata Saraswati berbalik meninggalkan bilik dapur.

Saraswati duduk di tepi dipan saat berada di bilik kamarnya. Suara deru mobil terdengar, berpikir Juragan Devanlah yang balik dari kebun, Saraswati melangkah ke jendela kayu, wajahnya yang tadinya ceria berubah lesu ternyata yang balik Ndoro Ratih dan Juragan Deawa.

Tidak biasanya di hari setu Juragan Devan belum balik dari kebun, ataukah karena pembicaraan beliau tadi pagi membuat beliau enggan pulang.

Tbc

SaraswatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang