Leo si kucing kesayangan Lisa hilang dan kini pemiliknya lagi nangis, bikin satu rumah heboh. Gimana gak heboh orang nangisnya sampai meraung-raung. Tetangga mereka mungkin mengira ada orang yang kerasukan karena nangisnya emang seheboh itu.
Lucas, adiknya sampai geleng kepala. "Udah sih, Leo nanti balik elah. Dia 'kan pinter." Sejujurnya Lucas ini sedang dalam mode menenangkan. Tapi, Lisa lagi dalam mode lo mending diem sebelum Leo balik.
Bunda cuma bisa geleng kepala melihat kelakuan putrinya. Dengan tenang beliau menghubungi anak tertua yang kebetulan lagi di jalan, siapa tau ketemu Leo. "Halo, Abang di mana?" Ia membuka pembicaraan sambil menceritakan keadaan di rumah. Untung saja gak pakai mode loudspeaker. Kalau iya, Lisa bakal lebih ngamuk lagi karena Abangnya lagi ketawa.
"Udah, jangan nangis. Kata Abang nanti dicariin. Kamu juga mending nyari sana bukannya nangis aja." Ujar Bunda yang mulai sakit kepala ngeliat anaknya masih terus menangis. "Berdua sana sama Lucas nyari Leo. Hush, buruan cari. Usaha jangan cuma nangis."
"Huh, Bunda!"
"Gak ada Bunda-bundaan! Sana, cari!" Sekali lagi Bunda mengusir.
Barulah Lisa menghapus air matanya dan berdiri sambil menarik kerah leher adiknya tanpa bicara banyak. "Lo cari di taman gue mau nyari ke depan."
Lucas hanya manut aja, males meladeni kebar-baran kakaknya. Keduanya berpisah, "Leo, sayang ayo pulang." Nama kucingnya dipanggil berulang.
Berkali ia melongok ke bawah mobil kemudian mendongak ke atas pohon. Leo belum ketemu. Frustasi mulai datang lagi. Sebenarnya bukan pertama kali Leo menghilang, tapi biasanya ada yang membawanya pulang. Seseorang yang beberapa bulan ini sudah tak pernah berhubungan dengannya. Ia kembali berjongkok di tengah trotoar jalan. Menangis lagi.
Pertama karena Leo, kedua karena teringat cerita lama.
"Sa? Ngapain jongkok di jalan?" Sekarang ia pasti gila karena mendengar suara alasan keduanya merasa frustasi.
Meow.
Buru-buru ia mendongak, mendapati Leo di dalam pelukan laki-laki berambut hitam. Bagus, dua alasan menangis kini berdiri di hadapannya. Lisa bangkit, mungkin karena terburu ia jadi terhuyung ke belakang. Untung saja langsung ditangkap oleh laki-laki di hadapannya.
Tak lama mereka bertatapan karena fokus Lisa langsung tertuju pada Leo. "Dasar Gembul! Kenapa suka banget kabur sih? Bikin khawatir tau!" Omelannya dijawab dengan bahasa kucing. "Huhuhu, jangan kabur dong Leo!"
Sekarang Lisa bingung menangis karena Leo atau malah ketemu mantan. Bisa jadi malah dua-duanya. Tangan yang hangat itu kembali mengusap puncak kepalanya, menenangkan. "Udah jangan nangis. Nanti pusing."
Gak adil banget sih. Tiga bulan gak ada kontak, tiga bulan Lisa berusaha lupa, eh sekarang nongol bagai superhero membawa Leo. Sebel. Lisa gak suka. "Kok bisa ketemu sama Leo?"
Senyuman di bibirnya juga gak adil karena begitu tampan. "Tadi ketemu pas lagi main skateboard di taman. Jadi a-gue bawa. Tadinya mau ke rumah, eh ketemu di sini."
"Hish, dasar Leo gembul!" Omelan Lisa membuat Leo melompat ke arah mantannya. Untung langsung ditangkap.
Tawa yang masuk ke telinga Lisa rasanya terlalu merdu. "Mau ke rumah dulu Kak?"
Lee Taeyong mengangguk. "Boleh. Kebetulan lagi aus."
Keduanya melangkah. Bersama Leo di pelukan Taeyong. Rasanya seperti waktu dulu mereka masih berpacaran. Nyatanya sekarang ada jarak yang begitu besar terbentang. "Gue langsung balik deh Sa." Katanya saat di depan pintu. Ponsel di tangan Taeyong memperlihatkan notifikasi pesan masuk.
Lisa mengangguk paham. "Makasih Kak."
Kepalanya ditepuk, Leo pun sama. "Hm, Leo, jangan kabur, nanti babu kamu nangis lagi. Jagain dia, jangan kabur mulu oke?"
Meow meow meow.
Taeyong tak membalas. Ia hanya tersenyum dan mengangguk kecil, kemudian pamit dan menghilang di ujung jalan. Lisa masih berdiri di tempatnya, masih memeluk Leonya.
Ah, tiga bulannya terasa sia-sia dalam pertemuan yang tak sampai tiga puluh menit. Lisa mungkin pulang dan sampai di rumah, namun ia tak benar-benar merasa pulang. Lisa kira dirinya dan Taeyong akan berakhir selamanya, nyatanya kandas di tahun ke tiga.
Ia yang mengakhiri. Taeyong yang berpindah terlebih dahulu. Ia yang menyesal. Taeyong yang bahagia lebih dulu.
Leo dalam pelukannya menyentuh keningnya, seakan menghibur. Tapi, hari ini rasanya Lisa hanya ingin menangis. Sampai kakaknya tiba dan ia jadi ledekan satu keluarga. Lisa masih terkurung dalam penyesalan masa lalu.
•••
Hiya apa ini
Mencoba mau manis tapi berujung pait
req from cinnaliceroll
This one for you
Have a great day
-amel
