"Mba Lisa, tolong ya nanti urus tiket saya ke Singapur."
"Mba Lisa, saya hari ini ada jadwal sama Pak Mingyu gak ya? Saya lupa."
"Mba Lisa, besok kita ke Bali jam berapa ya?"
"Mba Lisa."
"Mba Lisa."
"Mba Lisa."
"Sumpah demi eyelashes Mba Sunmi ya, gue pengen lem tuh mulut Pak Bos!" Lisa menghentak gelas berisi soda di tangannya. Wajahnya jelas menampakkan rasa frustasi dengan mata panda sebagai saksi.
"Kaya bisa gak sihhh tuh orang kalo nyuruh sekaligus??? Bukannya pas gue lagi mau nyuap palanya nongol!" Lisa masih ingat beberapa hari lalu istirahat makan siangnya harus diganggu karena kesibukan si Bos yang luar biasa. Tentu saja itu membuat Lisa ikutan sibuk menemani.
"At least, naikin gaji gue dan biarin gue cuti tanpa gangguan!" Sungutnya sebal.
Di hadapannya, Jihyo hanya mengangguk, sebagai bentuk simpati. Tangannya menarik sepotong piza yang diarahkan pada sahabatnya. "Tapi, emangnya lo mau gaji lo segimana lagi si? Mau nyaingin si Pak Bos?" Pertanyaan Jihyo menyadarkan Lisa kalau gajinya sudah di atas rata-rata.
"Ya, kasih saham kek. Apa kek." Sungutnya masih tak mau kalah.
Jihyo kembali iya-iya. "Kata gue sih besok-besok lo jadi istrinya aja jangan jadi sekretaris."
Lewat satu kalimat itu, jidat Jihyo mendapatkan oleh-oleh dari tangan Lisa. "Sekali lagi ngomong lu ngasal beneran gue botakin alis lu!"
Begini nih nasib jadi Jihyo, serba salah.
••
Sebuah opening
Ayo tebak siapa pak bosnya ehhee
-amel
