🌼 let's get divorce

582 122 13
                                        

"Mari kita bercerai." Pernyataan itu datang dari Lalisa Park. Di hadapan suaminya (yang akan segera menjadi mantan tentunya), ia menaruh surat cerai mereka. Tanda tangan miliknya sudah berada di atas kertas dengan banyak hak dan kewajiban.

"Sudah lima tahun. Sudah waktunya kita pisah 'kan? Ingat, pernikahan ini gak akan lebih dari lima tahun."

"Emangnya kamu mau ngapain setelah ini?"

"Jatuh cinta." Kata Lisa tegas. Matanya menatap sepasang mata yang masih sedingin pertama mereka bertemu tatap. Yah, memangnya apa yang Lisa harapkan?

Pernikahan mereka dimulai dengan untung-rugi dan segala penilaian dunia. Terlalu kotor untuk dicap sebagai janji suci sebab yang mereka lakukan hanyalah perjanjian palsu.

"Jatuh cinta gak akan buat perut kamh kenyang." Surat cerainya ditandatangani.

Sejujurnya, ada desiran seperti goresan kertas pada dadanya. Agak nyeri, namun langsung ia tepis dengan senyuman.

"Good. Kalau begitu, sampai ketemu di Pengadilan. Saya harap kamu gak mengajukan banding atau hal apapun yang merepotkan."

"Kalau saya bikin kamunya jatuh cinta gimana? Merepotkan juga?"

Langkah Lisa terhenti di pintu. Dengan dengusan tajam ia menoleh. Pada sosok dingin yang begitu percaya diri, tanpa perubahan emosi. Bajingan sialan itu masih terlihat luar biasa tampan. Dan Lisa dengan terpaksa harus mengakuinya.

Su-ralat. Mantan suaminya yang baru memasuki usia 35 masih terlihat begitu menggoda. Dengan tubuh tinggi yang sering mampir ke gim tiap Senin, Rabu, dan akhir pekan membuat otot bisepnya masih terlihat jelas-meski sudah ditutupi jas yang sebenarnya malah memperlihatkan lekuk tubuhnya. Harus Lisa akui, suaminya Jeon Wonwoo masih sama memikatnya saat pertama kali mereka bertemu.

Sama seperti perasaannya.

Tapi, Lisa memilih mundur 100 langkah. Karena lelaki di hadapannya bukanlah karya manis dari penulis romansa yang sering ia baca. Lelaki di hadapannya adalah seorang predator. Pemangsa yang siap menghancurkan apapun yang menghalanginya. Diam dalam kesunyian yang mematikan.

Bagi Lisa, suaminya itu lumba-lumba. Manis membuai, pintar memanfaatkan situasi, dan tentu paling suka memainkan kelemahan musuhnya. Sampai musuhnya menyerah dan memilih kematian.

"Hah, saya rasa itu lebih gak mungkin daripada merepotkan." Balas Lisa tenang. Lima tahun pernikahan mereka berjalan dan baru kali ini Lisa mendengar kata cinta keluar dari mulut Wonwoo. "Saya lebih suka kamu transfer segala kerugian waktu saya dalam seminggu ke depan."

"Saya serius." Lelaki itu dengan cepat berada di hadapannya. Tak ada kontak fisik yang mereka lakukan, namun tubuh Lisa terasa dipaku. "Kalau saya bisa buat kamu jatuh cinta gimana?"

Lisa tertawa. "Jangan." Matanya tajam membalas tatapan gelap di hadapannya. "Karena saya gak mau jatuh cinta sendirian. Jadi, berhenti egois. Jangan berusaha untuk membuat saya jatuh cinta. Terutama sama kamu."

Karena Lisa gak bisa lagi jatuh cinta. Dua kali. Ke orang yang sama.

"Kalau gitu," kali ini tangan Lisa diraih dengan hati-hati. "Saya ralat. Gimana kalau saya jatuh cinta sama kamu?"

Harusnya Lisa memilih berbalik badan dan lari. Harusnya ia mendorong Wonwoo dan membuka pintu. Namun, nyatanya ia malah membalas ciuman di bibirnya.

Surat cerai mereka terkapar entah di mana sementara keduanya sibuk saling mengecup.

🌼🌼🌼

Hehehehe
Tetiba kepikiran gini
Have funn guys
-mel

mamihlapinatapeiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang