Hari ini, adalah hari pengumuman nilai di kelasku. Yah, aku tak terlalu berharap karena aku pasti mendapat nilai seperti kemarin. Haaah...
"Hari ini kita akan diberitahukan nilai-nilai ulangan kita kemarin, Bu guru akan masuk sebentar lagi," ucap ketua kelas.
Setelah itu, guru pun memasuki kelas.
"Ibu sudah memberitahu ke ketua kelas kalau hari ini Ibu akan memberitahu hasil nilai kalian. Mulai dari peringkat ketiga. Peringkat tiga dengan nilai bla bla bla adalah bla bla bla, peringkat kedua bla bla bla
Aku malas mendengar nama anak yang mendapatkan peringkat pertama.
"Dan siswa yang mendapatkan pertama, siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dikelas kita, yaitu," ucap buguru.
"Pasti dia yang mendapatkan nilai tertinggi," gumamku.
"Mun Jun Hui," ucap Bu guru.
"Sudah kuduga," gumamku sembari menatap keluar jendela.
"Mun Jun Hui silahkan kedepan,"
Mun Jun Hui pun dipersilahkan untuk pergi kedepan kelas dan menjadi contoh untuk semua anak dikelas.
Prok prok prok prok!!
Ia mendapatkan tepuk tangan dari seluruh murid.
Aku iri.
"Mun Jun Hui. Selamat atas kerja kerasmu, terus belajar dan terus menjadi contoh yang baik untuk yang lain,"
"Baik Bu, terimakasih,"
Bu guru melihat sekitar. Dia menatapku. Ia hanya menggelengkan kepalanya.
Setelah mengumumkan peringkat. Bu guru langsung memberitahu kalau ujian kenaikan kelas sebentar lagi. Padahal masih lama sih. Tapi, jika dilewatkan begitu saja, pasti akan terasa sangat cepat. Jadi ia meminta agar semua murid mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah, kalau begitu, silahkan diperhatikan nilainya. Ibu akan kekantor sebentar," Bu guru pergi.
Haah.
Aku sekarang sedang berhadapan dengan rapotku. Aku tak sanggup melihatnya.
Aku langsung menyimpan rapotku ke dalam tas.
Tapi...
"Hei! Park (y/n)! Lihat rapotmu!" dia merebut tasku dan melihat isi rapotku.
Dia
Kakakku, Seung Cheol.
Menyebalkan.
"Ahahahaha peringkat satu dari belakang lagi?" dia membuka rapotku tepat di depan wajahku.
"Hiish bisakah kau tak mempermalukanku seperti ini!" aku kesal.
Tapi dia tetap saja menggangguku.
"Hei, Park (y/n) kau mendengar perkataan Mama kan? Kau harus mendapat sepuluh besar saat kenaikan kelas nanti. Jika tidak, kau tak akan di beri uang jajan selamanya. Se-la-ma-nyaa," ucap Seung Cheol yang berujung ancaman.
Aku menatap Seung Cheol dengan tatapan datar.
Entah terbuat dari apa Kakakku ini. Mengapa ia sangat menyebalkan!?
>>>
Entah kenapa kata-kata Seung Cheol selalu menghantui pikiranku.
Akhirnya, aku memberanikan diri untuk berbicara dengan Si Tuan Maniak Prestasi.
Ya, dia Mun Jun Hui.
Aku duduk di kursi yang berada di sampingnya dan memberikan susu kotak padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN AND YOU
FanfictionSEVENTEEN RIGHT HERE!! CARAT MERAPAT!!! Cerita tentang seorang Park (y/n) yaitu Kamu, iya kamu. Dengan seorang yang ia sayang. Jangan lupa Vote dan Commentnya yaaa
