Bab 26

7.3K 728 39
                                        

Ibu Nindi dan Papa Adam 

sorry for typo's

-PAPA!-

Vero baru saja membereskan tempat tidur nya yang berada di bawah kasur milik Jihan. Jihan yang  merasakan getaran disampingnya segera membuka mata, ternyata Vero sudah bergulung dengan selimut yang baru saja di lempar kebawah. 

"Bangun" seru Vero yang merapatkan badannya kearah Jihan. Bukannya bangun, Jihan malah membalik badan nya kearah Vero dan melanjutkan tidurnya. 

"Hari libur ngapain bangun pagi" seru Jihan dengan mata terpejam. 

Tidak lama, terdengar kegaduhan dari luar kamar dan pintu terbuka. "Parah, engga ngajak gue" teriak Salman dan langsung menindih kedua temannya. Vero yang badannya jelas lebih kecil dari keduanya sontak membulatkan mata dan menahan napasnya. 

"berat gorilla" seru Vero sambil menggeser badan Salman kesamping kirinya, posisi nya sekarang dia berada di tengah-tengah gorilla yang sedang tiduran. 

"makan apaan sih lo pada, bisa segede ini" gerutu Vero yang sudah terduduk di atas kasur. 

"proses pertumbuhan lo yang lama" sambung jihan yang masih memejamkan matanya. 

"Eh, kok lo gak bilang mau nginep rumah Jihan sih, tau gitu semalem gua tidur sini." sambung Salman. 

"Engga di rencanain, kemaren gue abis makan sama Nana, eh ni anak nyamperin mukanya udh bengep" jawab Jihan yang sudah berjalan kearah kaca untuk melihat wajah tampan nya ketika bangun tidur. 

'Fix gua ganteng bawaan" monolognya sambil menunjuk kaca. Salman hanya bisa menggelengkan kepalanya kemudian melempar bantal kearah Jihan. 

"gila" seru Vero yang sudah menjatuhkan dirinya ke kasur kembali. 

"Serius heyyyy! lo kenapa?" tanya Jihan yang sudah membawa bubur dari lantai 1. 

"Mulai deh kaya ibu-ibu depan komplek" Seru Salman yang sudah sibuk mengaduk buburnya. 

"Bokap gue nikah lagi, dan ternyata si selingkuhannya udah punya anak." seru 

"Ha?" Suara Salman mendominasi kamar milik Jihan. Suasana menjadi hening, hanya suara jam dinding saja yang terdengar. Jihan yang sebelumnya ingin menyuapkan bubur kedalam mulut, sendok miliknya berhenti di udara. 

"Sorry ?" seru Jihan yang masih bingung dengan ucapan temannya, Sebab dia tau secinta apa papa Adam kepada ibu Nindi. Tidak mungkin menghianti Ratu secantik ibu Nindi. 

"Maaf nih, itu mustahil. Gue tau Bokap lo sebucin apa sama nyokap lo. Gila kali lo" ucap Jihan yang sudah sadar akan keadaan. Pasti kesalahpahaman lagi. 

"Nyokap Gendong anak bayi. masih kecil. Itu anaknya sesil, sekretarisnya Bokap" Jelas Vero dan langsung mendapatkan lemparan Botol air mineral dari Salman. 

"Terus gimana ?" sambung Salman

"Kak Sesil nya meninggal waktu melahirkan. Anaknya baru 3 hari lahir. Kemaren tuh nyokap sama bokap pergi buat ngurus anaknya Kak Sesil sama surat-surat kematiannya Kak Sesil" jelas Vero lesuh. 

"Innalilahi. Turut berduka. Sekarang gini, Kak Sesil udah engga ada. Engga bisa juga lo benci dia, kasihan anaknya. Nyokap lo aja terima. Masa lo engga" Seru Jihan dan di angguki oleh Salman. 

"Setidak nya hidup lo lebih beruntung. Gue engga membenarkan perselingkuhan itu, Karna yang kita tau Kak sesil udah kaya anak Sulung di keluarga lo kan. Dia yang selalu ada buat lo kalau Orang tua lo pergi Dinas. Dia yang selalu anter jemput lo waktu SMP, emang sih perselingkuhan itu tidak di benarkan. Tapi jangan sampe anaknya Kak Sesil jadi tumbalnya" Jelas Jihan dan Diangguki lagi oleh Salman, Vero hanya bisa menghela napas lelah dan kembali menidurkan dirinya. 

"makan dulu bambang. Galau boleh, Makan jangan di lupain" perintah Salman yang sibuk menyuapkan Bubur kemulut Vero. 

-PAPA!-

pukul 5 sore, Brian yang sedang meminum Susu nya tampak heran, karena Sang bunda sangat sibuk mengepak-ngepak barang kedalam kardus yang dibantu oleh pengasuh Brian. Telfon rumah terus berbunyi, ketika Brian ingin mengangkatnya, Ditahan oleh Sheira. 

"No, Honey. you just stay here" ujar Sheira sambil tersenyum. 

"Ian, kita pindah ya. Ian maukan tinggal dideket gunung, udaranya sejuk, banyak pohon, ada sawah dan masih banyak lagi" ujar Sheira sambil mengusap kepala Brian. 

"Ada sapi, Nda?" tanya Brian girang, dan di balas anggukan kepala oleh Sheira. 

"tapi, Papa?" tanya Brian kembali, Sheira yang sedang mengusap kepala Brian lantas berhenti, senyum nya semakin lebar dan mengganggukan kepala. "nanti Papa nyusul, okey" jawab Sheira dengan suara getir. hati Sheira bergetar dan terus menguatkan diri karena terpaksa berbohong didepan anaknya. 

"Papa kemana ma? Udah 4 hari engga kesini" tanya Brian sambil menenggakkan kepalanya. 

"Papa sibuk sayang, Papa nya jangan di ganggu dulu ya sampe Papa telfon kita" ujar Sheira. kemudian Sheira kembali dengan barang-barang yang harus dia bawa untuk pindah dari rumah sederhana tersebut. 

Flashback 

waktu menujukan pukul 9 malam, Sheira sedang membereskan beberapa barangnya, tidak lama terdengar bunyi lonceng yang menandakan pintu toko di buka. Terlihat Prian dewasa memakai Jas menghampiri Sheira. Wajah tegas nya membuat Sheira terpukau, sangat tampan,. 

"Maaf pak, toko kami sudah tutup" ujarr Sheira 

Pria tersebut memandang Sheira dengan pandangan remeh "Kamu Sheira?" Sheira menganggukan kepala sebagai jawaban. Dia memandang dirinya dari atas kebawah, apakah ada yang salah dari dirinya. 

"Kemana anak saya ? kamu ngajarin anak saya membangkang dengan orang tuanya ?" seru Pria tersebut .

"maaf?" tanya Sheira bingung, dia tidak merasa menyembunyikan anak kecil. 

"Vero. kemana kamu bawa Vero" sambung Pria tersebut. 

"Saya tidak bertemu Vero" jawab Sheira lantang 

"Saya peringatkan ya, Vero sudah di jodohkan dengan teman perempuannya, kamu kenal Bellatrix. Dia yang akan menikah dengan Vero, bukan Janda seperti kamu." seru Adam, Adam terlihat mengeluarkan Uang yang cukup banyak. "ini untuk biaya kepindahan kamu dari kota ini" seru Adam dan pergi begitu saja. 

"Maaf saya akan pergi, tetapi Ini saya kembalikan Uang anda, saya Bukan orang miskin" titah Sheira dan melempar uang tersebut kearah Adam. Adam terlihat mengepalkan tangannya menahan amarah dan pergi tanpa membawa uang tersebut. 

Flashback off 

Sheira terlihat menghela napas kembali dan segera mengangkat kardus-kardus tersebut kemobil pengangkut barang, dan menuntun Brian untuk naik ke mobilnya. Setelah dia mengunci pintu gerbang, dia melihat-lihat rumah yang sudah dia tempati selama 4 tahun belakang ini. Dia benar-benar menepati janjinya kepada orangtua Brian untuk mengembalikan anak tersebut kerumah besar milik Almarhun Kakak dan Istrinya.  

-PAPA!-

Hai haiii, semoga kalian semua ya, maaf untuk castnya lebih banyak korea hehehe 

Kalian pulang kampung kah? engga kan engga boleh ya, Stay safe pokok nya. 

next or not?

yang sering comment 'Next thor' 'Next' kalian kasih komentar lain dong hehehe biar aku semangat buat double up nya. 


Papa!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang