"Apa yang kau lakukan?"
Sebuah pekik syarat kepanikan mengejutkan ZheHan dari kesibukannya. Tangannya terhenti dari apapun yang tengah dikerjakannya saat itu. Ia hanya bersyukur suara bariton yang membahana tiba-tiba tak tahu kapan datangnya itu tak membuat kakinya tergelincir dari posisinya.
ZheHan memutar tubuhnya, dan melihat seorang pria jangkung berkemeja hijau muda menenteng tas kulit persegi panjang sedang menatapnya dengan raut pucat dan mata terbuka lebar menampakkan ekspresi kengerian.
"Oh, kau sudah pulang." ZheHan berujar enteng, tak menghiraukan dramatisasi Gong Jun. Ia hendak kembali meneruskan pekerjaannya yang tertunda saat Gong Jun merangsek maju dan memeluk tangga yang tersandar di diding.
"Sayang, turun dari sana. Apa yang sedang kau lakukan?" Gong Jun memohon, panik begitu kental mewarnai nada bicaranya. Tasnya tergeletak di halaman berumput tak terpedulikan.
"Aku sedang memperbaiki atap." ZheHan menjawab singkat, jelas. Ia mengerlingkan mata. Seolah pertanyaan Gong Jun hanyalah sebuah retorika yang tak memerlukan jawaban.
"Apa yang kau pikirkan? Cepat turun dari sana." Nada Gong Jun tak lagi memohon, tapi memerintah. Pelukannya pada tangga aluminium di tembok belakang rumahnya menjadi semakin erat.
"Tapi aku belum selesai." ZheHan berdalih. Kakinya bergeser, menjuntai bersentuhan dengan talang air di selusur atap.
Raut Gong Jun bertambah ngeri. "Zhang ZheHan, turun dari sana sekarang juga atau aku akan membakar semua komik One Piece mu."
Peringatan itu menghidupkan alarm di kepala ZheHan. Tidak, jangan komik kesayangannya.
"Kau tidak akan berani, Lao Gong." Mata ZheHan memicing. Ia menatap sengit ke arah Gong Jun di bawah sana.
"Aku akan melakukannya sekarang kalau kau tidak turun. Zhang ZheHan, aku peringatkan sekali lagi."
Untuk beberapa saat, ZheHan hanya membisu. Ia tak bergerak dari tempatnya, pun tak mengatakan sepatah kata.
Namun kemudian ia mengerang sebal, "Baiklah, baiklah. Aku akan turun."
Gong Jun masih memegangi tangga itu begitu erat hingga memutih buku-buku jarinya. Ia baru melepaskan pegangannya pada tangga saat ZheHan sudah turun dengan selamat menjejak tanah. Lengannya reflek melingkar di pinggang ZheHan, telapak tangannya menempel di perut ZheHan yang masih datar.
"Apa yang kau pikirkan memanjat ke atap seperti itu?" Napas Gong Jun tersengal setelah panik mencipta gumpalan sesak di tenggorokannya. Jemarinya mengusap lembut perut ZheHan.
"Sudah ku bilang kan aku memperbaiki atap." Kekesalan mulai merambati syarafnya. Moodnya yang naik turun sama sekali tak membantu.
"Sayang, kau ini sedang hamil. Mana boleh memanjat semaunya seperti itu. Kau hampir memberiku serangan jantung. Bagaimana kalau kau jatuh?" Lengan yang melingkar di pinggang ramping ZheHan itu bertambah sedikit erat. Raut kecemasan yang keruh di wajah Gong Jun agak mengaburkan rasa kesalnya.
"Aku sudah membetulkan atap puluhan kali, dan aku tak pernah sekalipun terjatuh. Lagipula perutku belum membesar, jadi ku rasa tak masalah." Ia mencoba beralasan, berharap penjelasannya mampu menepis kecemasan Gon Jun. Namun sepertinya suaminya itu tak mau mengindahkan penjelasannya.
Gong Jun akan memulai menceramahinya lagi saat ZheHan merasakan sensasi itu lagi di perutnya. Rasa mual yang begitu akrab dengannya selama beberapa minggu terakhir ini menyerangnya tiba-tiba, selalu tak kenal waktu. Ditangkupkannya telapak tangannya di depan mulut seraya ia menarik paksa tubuhnya dari lengan Gong Jun untuk kabur ke kamar mandi.
KAMU SEDANG MEMBACA
This Little Happiness of Ours
Romance【Kumpulan One-shots】 Tentang Dokter Gong Jun, Pak Guru Zhang ZheHan, dan kehidupan rumah tangga mereka. Sebuah AU.
