Malam-malam seperti ini sungguh jarang terjadi. Mungkin sebulan sekali. Atau, kalau beruntung, bisa dua kali dalam satu bulan. Dengan dalih kesibukan, acara seperti ini tak terlalu sering mendapat kesempatan untuk dilangsungkan. Bukan acara besar. Bukan, bukan sama sekali. Hanya sebuah kegiatan kecil sederhana di antara dua orang yang melibatkan makanan, gelas-gelas bening berisi minuman berwarna, dan semilir angin malam yang berhembus melalui pintu yang terbuka. Sederhana, namun menyimpan makna.
Zhang ZheHan dan suaminya tak terlalu sering menyambangi restoran untuk bersantap malam. Karena bagi ZheHan menikmati makan malam di rumah justru terasa lebih romantis. Kesan domestik tentang peralatan makan yang begitu ia hapal - piring keramik yang sedikit retak di tepiannya, salah satu sendok yang melengkung karena dipakai Gong Jun untuk mencongkel wastafel yang macet, centong sayur yang terkena cat merah di ujung gagangnya - ataupun suasana rumah yang begitu melekat pada dirinya membuat ZheHan lebih merasa nyaman - dan hangat - saat menikmati makan malam di rumah. Hal sederhana seperti memandangi suaminya yang hanya mengenakan kaos polos dan celana training sedang membicarakan apa saja yang ia alami hari itu di sela-sela mengunyah makan malamnya memberikan ZheHan rasa domestik yang tak bisa ia temukan di tempat lain.
Tapi itu tak berarti dia tak suka makan di luar. Jika kesempatan itu datang, dengan senang hati ia akan menerimanya dengan tangan terbuka.
Seperti malam ini.
Gong Jun telah memberitahunya tentang keinginannya untuk mengajak ZheHan kencan makan malam di luar. Chat singkat yang dilengkapi emoji hati berwarna merah sebanyak tiga biji itu dikirimkan Gong Jun saat ia masih belum pulang dari shiftnya di rumah sakit. ZheHan membalasnya dengan empat emoji muka mencium.
ZheHan memilih sebuah restoran kecil di pinggir jalan sebagai tempat tujuan mereka. Restoran ini tak mewah. Tapi mie ramen yang ditawarkan adalah yang terbaik di seluruh kota. Bibi pemilik restoran yang bertubuh gempal itu selalu tersenyum ramah, kedua matanya yang bulat berkilau-kilau menyapa para pengunjung yang datang.
ZheHan dan Gong Jun turun dari mobil, berdampingan berjalan menuju pintu restoran. Malam itu pengunjung tak terlalu banyak. Masih ada beberapa sisa meja yang belum berpenghuni. ZheHan segera mencari tempat favoritnya; meja di sebelah jendela terbuka.
Mereka berdua hendak memasuki pintu restoran saat seseorang juga memilih waktu yang sama untuk ikut melangkah masuk. Bingkai pintu restoran itu tak lebar, tak sampai satu meter panjangnya. Untuk tiga orang pria dewasa yang berusaha masuk bersamaan, sudah barang tentu tak akan muat.
Gong Jun melingkarkan lengannya di pinggang ZheHan, dan dengan cekatan menariknya ke sisi luar, sedetik sebelum mereka berdesakan di ambang pintu.
“Ah, maaf.” orang yang baru datang itu mengucap. Ia membungkuk sebentar, sekadar menunjukkan tata krama.
“Tidak apa.” Gong Jun membalas dengan sopan. Lengannya masih hangat di pinggang ZheHan.
ZheHan sejenak melebarkan matanya. Keadaan sekeliling mereka tak punya cukup penerangan. Tiang lampu jalanan terdekat letaknya masih di ujung tikungan. Cahaya lampu dari dalam restoran hanya mengenai profil samping dari pria itu. Tapi ZheHan tak mungkin salah.
“YiBo? Wang YiBo?” tanyanya tanpa keraguan sedikitpun.
Pria berjaket hijau itu memandang ZheHan dengan kernyitan di dahinya. Namun tak lama, seperti ada sebuah lampu yang tiba-tiba menyala di atas kepalanya, wajah itu menyungging senyum lebar.
“Zhang qianbei!” ia berseru.
ZheHan tak sempat mengatakan apapun saat pria bernama YiBo itu dengan cepat bergerak mendekat dan mendekapnya erat. Menariknya menjauh dari Gong Jun. Lengan Gong Jun terlepas dari pinggangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
This Little Happiness of Ours
Romance【Kumpulan One-shots】 Tentang Dokter Gong Jun, Pak Guru Zhang ZheHan, dan kehidupan rumah tangga mereka. Sebuah AU.
