A Blessing Worth Cherishing

1K 99 41
                                        

A Blessing Worth Cherishing

ZheHan tida menyukai aroma rumah sakit. Wangi pohon pinus dari cairan pembersih lantai yang bercampur dengan aroma disinfektan dengan sentuhan bau alkohol di sana sini membuatnya teringat akan hari-hari menyakitkan saat dia dirawat inap bertahun-tahun lalu. Rasa nyeri di pergelangan tangan karena cairan yang disuntikkan melalui selang infus yang membelitnya tak akan pernah ia lupakan. Satu-satunya hal baik yang terjadi saat itu hanyalah seorang Gong Jun. Dilarikannya ia ke rumah sakit kala itu membuatnya bertemu dengan Gong Jun untuk pertama kali. Dan ZheHan merasa sedikit lebih baik di tengah deraan memar hampir di sekujur tubuh. Meski tak akan pernah mau ia mengakui hal itu kepada Gong Jun.

ZheHan tidak menyukai suasana rumah sakit. Kesunyian di lorong-lorong serba putih yang nampak tak berujung membuat bulu kuduknya meremang. Wajah-wajah layu dari keluarga pasien yang terduduk lesu di depan pintu ruang IGD menghadirkan getir tak terjelaskan. Derit dari roda brankar yang didorong tergesa menyusuri kelengangan koridor rumah sakit terdengar seperti sebuah melodi duka di telinga; pilu, menakutkan.

ZheHan tidak menyukai rumah sakit. Tapi hari itu, tidak demikian.

Kedua sudut-sudut bibirnya terangkat mengulas senyum. Aroma tak mengenakkan yang disuguhkan rumah sakit tak lantas menyebar keruh di raut wajahnya. Gong Jun sesekali mencuri pandang ke arahnya dengan tatapan penuh selidik, dan sebuah seringai jahil. Tapi pria yang tengah mengenakan jas putih panjang itu tak mengatakan apapun untuk menyindir ZheHan tentang tabiatnya yang tak biasa hari itu. Karena ZheHan tahu, Gong Jun juga merasakan semangat dari sebuah antisipasi sama seperti dirinya.

"Kau tak harus menemaniku, kau tahu." ZheHan melirik ke arah suaminya dari sudut matanya.

Gong Jun menggeleng, tangannya bermain-main dengan kepala stetoskop yang menggantung di leher. "Jangan bercanda. Aku tak akan pernah melewatkan sonogram anak kita."

Anak kita.

ZheHan tak pernah bisa mencegah kehangatan yang menyebar setiap kali ia mendengar Gong Jun mengatakan hal itu. Ia pun juga tak bisa menahan senyum yang hendak hadir.

Namun senyuman yang sejatinya hinggap di bibir ranumnya itu tanpa aba-aba berganti dengan suara desisan menahan nyeri. Tangannya hinggap di perutnya oleh naluri.

Dan hal itu, tentu saja tak luput dari perhatian Gong Jun.

"Sayang?" Gong Jun terdengar cemas. Ditangkupkannya tangan hangatnya di lengan ZheHan. "ZheHan, ada apa?"

Mereka terhenti di tengah-tengah lorong rumah sakit yang nampak lengang. Sunyi yang menguap membuat ZheHan hanya mampu mendengar suara napas Gong Jun yang agak tak teratur.

ZheHan membelai perutnya sekali lagi. Sebuah senyum kecil ia sunggingkan untuk menepis rasa khawatir suaminya.

"Aku tidak apa-apa. Anakmu menendangku dengan sangat keras baru saja." Ujarnya enteng. Namun sumringah di wajahnya mengkhianati nada acuh yang coba ia hadirkan.

Sejak memasuki bulan kelima kehamilannya, ZheHan sudah bisa merasakan gerakan janin yang dikandungnya dengan sangat jelas. Tendangan-tendangan kecil yang ia rasakan seiring berjalannya waktu membuatnya semakin menyadari keberadaan nyawa yang tengah bertumbuh di dalam dirinya. Meski gerakan aktif dari sang bayi tak jarang memberinya malam-malam tanpa lelap, ia tak pernah mempermasalahkannya barang sedikitpun. Ia merasakan sebuah kebahagiaan baru yang tak pernah ia kecap sebelumnya. Sebuah kebahagiaan baru yang tak pernah ia sangka bisa ia rasakan.

ZheHan ingat, pertama kali ia membimbing tangan Gong Jun ke perutnya untuk 'berbagi' momen spesial itu. Ia ingat, kedua mata Gong Jun yang berkilau-kilau tersapu oleh bening hangat yang hampir jatuh ke pipi. Ia masih mengingat, bagaimana ia menggigit bibir bawahnya mencegah tangis, saat Gong Jun mengusap lembut dan mencium perutnya sambil membisikkan "baobei..." berulang kali.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 19, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

This Little Happiness of OursCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang