Under the Falling Rain

930 117 41
                                        


Suara hujan mengetuk-ngetuk kap mobil dalam tempo yang beraturan. Garis-garis tetesan air dari mendung yang menggantung di langit malam tersinari cahaya lampu mobil yang membias kekuningan. Di dalam kehangatan yang masih tersedia di kursi berlapis bahan kulit, ZheHan menyandarkan punggung seraya memandangi deretan mobil-mobil lain yang berjajar tertahan lampu merah di depan mereka.

Gong Jun mengetukkan ujung jemarinya pada roda kemudi, sesekali ia mengangkat kepalanya agak tinggi untuk memeriksa lampu lalu lintas yang tak kunjung mau menghijau. Hujan masih mengguyur. Cipratan-cipratan derasnya terseka oleh wiper yang bergerak teratur ke kanan dan ke kiri di kaca depan.

"Setiap kali kita dari sana, kita seperti perampok saja." ZheHan tertawa kecil. Ia menyandarkan kepala di tangannya yang bertumpu di tepian jendela. Titik-titik air yang saling berlomba menuruni permukaan kacanya dari luar menyesapkan dingin yang membuat bergidik. "Ibu terlalu baik. Aku jadi merasa tidak enak."

Plastik-plastik besar berisi segala macam keperluan rumah tangga di bagasi mobil membayang di kepala ZheHan. Tak peduli seberapa keras ia berusaha menolak sesopan yang ia bisa, ibu mertuanya tetap tak goyah menyodorkan bingkisan yang tak sedikit itu ke tangannya. Senyum hangat dan suara lembut keibuan wanita berparas cantik itu menghentikan usaha ZheHan untuk menolak lebih jauh. Setiap kali ZheHan berkunjung ke rumah orang tua Gong Jun, mereka akan selalu berakhir dengan barang bawaan yang hampir memenuhi bagasi mobil.

Gong Jun pura-pura cemberut, matanya berbinar jenaka "Jangan begitu. Itu hanya caranya menunjukkan kalau dia lebih menyayangimu daripada aku."

ZheHan menggelengkan kepala, senyuman samar masih tertinggal di bibirnya.

Gong Jun merogohkan tangan ke dalam dashbor, meraih sebotol air mineral. Sambil mengulir tutup botol plastik itu, ia menyodorkannya kepada ZheHan.

"Sayang, kau mau minum?"

"Tidak usah. Kau saja." ZheHan masih melirik ke arah suaminya dengan seutas senyum tipis. Gong Jun mungkin adalah definisi yang pas dari karbon copy Nyonya Gong. ZheHan bisa melihat fitur wajah ibu mertuanya di beberapa bagian wajah Gong Jun. Tulang pipinya yang menonjol anggun, bibirnya yang tipis, alis matanya yang melengkung indah, matanya yang berwarna cokelat gelap.

Gong Jun masih mendapat dua tegukan air minum ketika suara klakson saling bersahutan membuatnya hampir tersedak. ZheHan segera meraih botol yang isinya hampir tumpah itu dari tangan suaminya. Ditepuk-tepuknya pelan punggung Gong Jun.

Lampu di ujung perempatan sudah berpendar hijau di tengah terpaan hujan. Deretan mobil-mobil yang tadi tertahan, kini beranjak melaju perlahan. ZheHan menghembus napas lega saat mobil mereka juga mulai berjalan, meninggalkan posisi statis yang membekukannya dalam kebosanan.

"Kalau lewat jalan biasanya, pasti akan macet." Gong Jun tak melepaskan pandangnya dari jalanan gelap yang tersinari cahaya keemasan lampu mobil. Tangannya melingkar konstan di roda kemudi. "Aku akan mengambil jalan lain."

ZheHan menyeringai mengejek, "Yah, semoga saja kita tidak tersesat seperti waktu itu."

"Sayang..."

ZheHan bisa melihat bibir Gong Jun yang manyun meski tatapannya tetap tertuju pada jalan yang terenggut gelap. Ia berusaha untuk tak tersenyum.

Mobil itu membelok di ujung pertigaan. Lajur kiri dipilih Gong Jun sebagai jalan alternatif untuk membawa mereka ke jalan utama. Jika jalan sebelumnya sudah terlihat gelap, maka jalan yang dipilih Gong Jun ini tampak dua kali lebih gelap. Tak ada tiang-tiang lampu yang menyangga bohlam penerang jalan. Kegelapan menyelimuti seperti ingin melahap mereka bulat-bulat. Malam yang kian merangkak naik dan dingin dari terpaan hujan yang merayap-rayap dari kaca jendela melengkapkan suasana mencekam malam itu. Dengan bantuan pijar dari lampu mobil, yang bisa ZheHan lihat di kiri dan kanan hanyalah pepohonan rimbun yang berderet-deret seperti pagar.

This Little Happiness of OursCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang