FLS 3

12 3 0
                                        

SIPENIKMAT HALU, MAKLUM GAK BERPENGALAMAN JADI BANYAK TYPO. NAMANYA JUGA MANUSIA, GIMANA SIH? GATAU DAH

•••

Flashback on

" Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi... Kami gagal menyelamatkan nya----

" Enggak, enggak, ENGGAK... Dokter pasti bohong kan, gimana?  Dia baik baik aja kan dok? Dia lagi tidur kan? Dia cuman istirahat kan? Nanti pasti bangun lagi. I-iya kan dok?" Benda cair bening itu jatuh begitu saja dari pelupuk mata Agnes.

"Kami mohon maaf yang sebesar besarnya, sabtu, 11 Mei pukul 17.30 waktu kematian tercatat" ucap dokter itu final tanpa sanggup melirik Agnes.

Agnes melemas tubuh nya jatuh begitu saja, bagaikan jelly tanpa nyawa. Bahu cewe itu bergetar, meneteskan air mata tanpa isakan. Tangis dalam diam di depan pintu ruang operasi itu.

Semua orang menatap pilu Agnes yang begitu memperihatinkan. Seorang wanita paruh baya mendekati Agnes, mengusap punggung cewe itu.

Wanita itu tersenyum tanpa ada air dimatanya. Tapi jauh dari itu sorot matanya terlihat lebih jujur, tersirat rasa sedih yang begitu dalam dan Agnes mengenalnya.

"Dia sudah pergi... Mari kita ikhlas kan" lirihnya meneteskan air mata.

Flashback off

Agnes menangis tergugu di atas marmer kamar nya yang bernuansa putih itu.

"Gue rindu Ajaaa hiks... Gue rindu, gue kangen, gue mau liat muka lo lagi" Isaknya kosong. Agnes terisak dalam pandangan kosong. Hidup nya terasa hampa, satu satu nya warna hidupnya telah redup dan tak akan pernah hidup lagi.

Agnes diam sesaat, hanya sesaat setelahnya cewe itu mengambil jepit rambut di surai hitam nya. Menatap lekat aksesoris berwarna hitam berpadu merah yang manis ditangan nya.

Tanpa aba aba Agnes mengarah kan benda tumpul itu ke lengan kiri nya.

Srettt

Darah bercucuran, tanpa respon apapun Agnes menyayat satu lagi disebelah. Tidak ada kesan sakit nya sama sekali, Agnes justru merasa sangat tenang.

"Maafin gue!"

•••

Brakk

Shiren membanting pintu mobil dengan tergesa-gesa, nafas nya masih memburu karena berlarian tadi.

"Huftt... Heh AGNESIA MARUBY!!!" Pakik Shiren dari kursi belakang.

"Apaansih teriak teriak mau gue sumpel tuh mulut? Hah!" Emosi Yenna dibagikan stir kemudi.

Shiren melirik malas sahabatnya itu, memanyunkan bibir sepanjang lima cm. Yang ditanya siapa? Yang jawab siapa? Dasar!.

Sedangkan yang bersangkut malah acuh tak acuh, sibuk sendiri dengan ponselnya.

"Om Wijaya mimpi apa sih pas buat lo Nes? Tante Angel juga ngidam apa pas bunting lo, anaknya kok jadi kurang kurang se-ons gini" Cibir Shiren menyekap dada.

"Anj!. Kurang ajar lo bawa bawa bokap nyokap gue" Emosi Agnes tak terima, dasar childish norak kesel-lan bawa ortu batin Agnes mendidih

"Kemaren lo sama sama si adik itu kemana?" Tanya Shiren mengalihkan, ei bukan mengalihkan juga karna itu sebenarnya topik utama yang ingin Shiren bahas. Tapi karena kondisi nya begini sebisa mungkin Shiren harus menghindar dari amukan Agnes yang dibuat sendiri olehnya.

"GAUSAH NGALIHIN!" Ucap Agnes tajam.

Yenna menggeleng pusing kepalanya, mulai lagi deh. Dari pada lebih pusing laginya Yenna lebih baik menjalankan mobilnya. Tidak tau juga kemana, jalan aja dulu dari pada nonton-nin pertengkaran dua manusia ajaib yang gak berfaedah sama sekali bagi nya.

"Skip deh, jawab aja pertanyaan gue! Lo demen sama berondong ye? Ih dasar Agnesia Maruby, sukanya yang berondong. Giliran model kak Jason ditolak, mentah lagi" Sindir Shiren menyombongkan diri belum saja dilihatnya wajah Agnes yang sudah me-ancang acang akan membunuhnya didepan sana.

"SHIREN MARGO KUSUMAAAAAAAAAAAAA!."

•••

Agnes menghembuskan nafas panjang ketika tiba di Apartemen nya. Perdebatan panjang antara ia dan Shiren juga cukup melelahkan rupanya, cukuplah untuk menaikkan darah Agnes.

Setelah acara debat panjang yang melelahkan itu kini Agnes bingung harus melakukan apa. Apartemen kosong yang hanya berpenghuni diri nya itu. Membuat Agnes perustasi sendiri, baru menyadari jika ternyata hidup nya begitu hampa dan kesepian.

Dari sejak duduk di bangku sekolah menengah atas Agnes sudah diperintahkan orang tuanya untuk hidup sendiri, agar bisa mandiri dan tak terlalu bergantung kepada orang tua. Alhasil lihat lah cewe berparas cantik yang hidup kesepian ini. Agnes juga jarang sekali pulang ke rumah utama, jika dipaksa ia akan ogah ogahan untuk pulang. Karena Agnes memang sudah nyaman hidup menyendiri seperti ini.

Kriuk kriuk

Agnes meraba perut ratanya itu dan tersenyum tipis.

Ah tidak!. Tentu saja tidak mungkin, bagaimana bisa cewe tanpa kekasih itu bunting diluar nikah. Yang ada diluar nalar tuh kaya lucinta Luna, ptfff.

Agnes mendengar perutnya keroncongan pertanda sang cacing sudah demo kelaparan. Ia baru sadar jika siang tadi dirinya belum sempat makan. Tanpa lama Agnes bangkit dari sofa empuk nya, berjalan menuju dapur.

Berharap masih ada bahan makanan yang bisa diolah nya.

Shit!

Karena kebodohan Agnes yang tak sehat itu membuat nya hanya dapat menemukan sebungkus mie instan dan beberapa butir telur. Kebiasaan bodohnya yang selalu saja makan makanan luar yang belum tentu sehat itu, mana pernah Agnes menjaga makannya. Asal telan aja!

Agnes menghela nafas dan mulai mengeksekusi mie instan didepannya. Agnes memasukkan satu butir telur dan meninggalkan rebusan begitu saja. Menunggu nunggu waktu agar telur nya matang Agnes duduk di kursi dekat meja makan.

"Harum banget masak apa sih es?"

"Cepetan gue udah laper es"

"Selalu enak deh, gapernah ngecewain lidah gue"

Srettt

Seperti mimpi suara suara itu masuk kedalam pendengaran Agnes. Agnes mengedarkan pandangannya kesekitar, mencari keberadaan suara dan kalimat yang begitu ia rindukan.

Menghela nafas panjang seperti nya Agnes halusinasi, ekor matanya sejenak melirik api yang berkobar-kobar di atas kompor miliknya, tepat dipanci rebusan mie tadi.

Oh, terbakar batin Agnes mengalihkan pandangannya.

APAAA!.

TERBAKAR?!!!!!!!!!!!

"ANJIRRR, ANJIRRR, AGNESIA BEGOOOO" Pekik nya berlarian kesana kemari.

Agnes panik! Apa yang harus dilakukan nya saat ini. Dan bodohnya bukan mencoba mencari cara untuk memadamkan api. Agnes malah berlarian kesana kemari, melompat lompat tak tentu. Agnes melambaikan tangan nya sambil berlari kesana kemari. Dasar bodoh!

"AAAAA APIIIII! TOLONGGGG ADA API, MAMI, PAPIIIIII. TOLONGINNNNNNN SIAAA MI, PIII. RAJAAA!" Pekiknya panik.

Deg

Agnes tersadar jika dia kembali menyebut kan nama itu, Agnes menepuk jidatnya. Merasa sangat bodoh. Memang bodoh, ditengah api marak yang segera membakar dapurnya itu Agnes malah sibuk memikirkan nama itu.

Dingdong

Bunyi bel nyaring, Anes melirik kekanan kiri. Apakah ini malaikat penolong yang Tuhan kirimkan untuk memadamkan api dapurnya?

First Love SubstituteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang