Silly Couple - 「18」

46 13 0
                                        

Room Chat - Yaya
Online

Dani
| Ya
| sibuk gak?

Yaya
| mau main bola?

Dani
| hooh
| hilangin stress

Yaya
| gas ketemu di lapangan




***




Jinan melirik ke arah jendela kemudian menipiskan bibir. Hujan masih saja turun lebat, padahal tadi siang cerah-cerah saja.

Pemuda itu mendengus, karena hujan ia jadi gagal ketemu Aria -gebetannya- sore ini.

Di tengah-tengah lamunannya, hp Jinan tiba-tiba berbunyi membuat pemuda itu tersentak kaget. Jinan mengelus dada sejenak sambil meraih hp kemudian memeriksa siapa yang menelfonnya.

Yaya is calling.....

Jinan mengernyit, menekan tombol hijau kemudian menempelkan hp ke telinga, "halo?"

"Bang, lo lagi sama bang Dani?"

Pemuda dengan tahi lalat di bawah mata kanan itu jadi mengangkat sebelah alisnya, "lah bukannya sama lo main bola?" ucap Jinan balik bertanya.

"Tadi gue ada urusan band, bang Dani katanya masih mau main. Yaudah gue cabut duluan."

Jinan jadi menegak, ia menggerakan kepala ke arah jendela lagi kemudian meneguk ludah. "Sama yang lain kali?" ucapnya mencoba positive thinking.

"Gue udah tanya di group, gak ada yang lagi bareng bang Dani."

Jinan diam sejenak, ia membasahi bibir bawah mencoba untuk tidak panik. "Didin? Didin gimana? Udah lo tanya?" tanyanya masih berusaha.

Jinan yakin Dani tidak sebodoh itu.

"Udah, gak ada juga."

"Ini gue daritadi nelfon bang Dani gak diangkat. Gak mungkin kan dia masih main hujan-hujan gini?"

"Eh lo jangan bikin gue panik anjir." umpat Jinan kini berdiri meraih jaketnya. "Tadi main di mana kalian? Lapangan sekolah?"

"Iya— eh lo mau ke sana? Hujan-hujan gini?"

"Gue mau periksa. Udah dulu ya, bye!"



***



Jinan memarkirkan mobilnya asal diparkiran sekolah. Ia melepaskan safety belt, mematikan mesin kemudian keluar dari dalam mobil. Pemuda itu menarik kupluk jaketnya kemudian berlari memasuki area sekolah.

Mata Jinan membulat melihat sosok cowok yang sangat ia kenali kini sedang memantul-mantulkan bola basket di tengah lapangan. Jinan menggeram kecil, pemuda itu segera mempercepat lari nya kemudian menarik tangan cowok itu.

"Udah gila ya lo?! Lo gak liat ini lagi hujan?!" bentak Jinan menarik cowok itu ke tepi lapangan berteduh.

Dani pasrah saja ditarik, tidak ada perlawanan sama sekali.

Begitu mereka sudah di tepi lapangan, kaki Dani terasa lemas membuat pemuda itu langsung terjatuh.

"Sinting ya lo? Ngapain lo hujan-hujan masih main basket hah? Lo lupa sama penyakit lo? Lo lupa kejadian tahun lalu? Terkahir kali lo hujan-hujanan lo langsung sakit, lo pasti yang paling ngerti sengsaranya kalo penyakit lo itu kumat. Terus sekarang lo ngapain? Lo pengen sakit lagi? Lo mau—"

"Nan."

Ucapan Jinan terhenti. Pemuda itu melirik Dani kemudian menghembus nafas berat. Ia menipiskan bibir mencoba menguasai emosi nya.

"Apa?"

"Gue udah mantepin hati."

Kening Jinan langsung berkerut bingung.

"Hah?"




***



Jinan mengigit kuku nya tanpa sadar, menunggu dokter yang sedang memeriksa kondisi Dani.

Jinan menurunkan tangan dan mendekat begitu melihat Dokter Theo menurunkan stetoskop nya, tanda sudah selesai memeriksa Dani.

"Gimana dok?"

Dokter Theo menoleh kemudian tersenyum, "nggak perlu khawatir, dia cuman kecapekan sama kedinginan kok. Nggak terlalu parah,"

"Tuh denger, santai aja." kata Dani sambil bangun dari posisi tidurnya.

"Tapi, badan Dani udah mulai panas jadi harus banyak istirahat. Besok jangan sekolah dulu ya." lanjut Dokter Theo membuat Jinan tersenyum miring.

"Tuh denger, besok gak boleh sekolah, harus banyak istirahat." ulang Jinan dengan nada menyebalkan membuat Dani jadi mendengus sebal.

Dokter Theo memandang dua pemuda itu kemudian tersenyum. Kadang ia merasa terharu melihat persahabatan Dani dan Jinan. Ini bukan pertama kali nya Jinan menemani Dani untuk pemeriksaan.

"Lebih baik kalian pulang sekarang, pakaian kalian masih basah."

Dani dan Jinan jadi saling lirik kemudian menipiskan bibir. Dani turun dari kasur, "terima kasih ya dok. Nanti hubungi papa aja." ucapnya meringis, cowok itu lupa bawa uang. Begitu juga dengan Jinan.

Dokter Theo jadi tertawa, "gakpapa Dani, santai saja."

"Kalau gitu kami pulang dulu ya dok?"

Dokter Theo menganggukkan kepalanya.

"Permisi dok."

"Iya, kalian berdua hati-hati."

Dani dan Jinan keluar dari ruangan Dokter Theo. Jinan menutup pintu kemudian menoleh pada Dani, garis wajah pemuda itu langsung berubah julit.

"Sok kuat lagi. Mau ketemu Naya pula tadi, ha!" sindir Jinan tak tahan.

Dani jadi memutar bola mata malas, "udah ah ayo balik. Capek gue."

Jinan mendengus kemudian menjulurkan tangannya, "pegangan, ntar pingsan lagi, nyusahin." ketusnya.

Dani langsung melotot tak terima, "gue gak selemah itu ya njing." umpatnya kesal. Pemuda itu mendengus kemudian beranjak duluan meninggalkan Jinan.

Jinan jadi melengos pelan, segera mengikuti Dani dari belakang.

Setibanya di parkiran, Dani langsung masuk ke dalam mobil. Pemuda itu memilih duduk di belakang agar bisa tidur dengan lebih nyaman.

Jinan menyalakan mesin mobil kemudian melirik ke belakang sejenak.

"Cepat sembuh nyet, Iron Man sedih kalo lo sakit."

"Cot lo Iron Man."




****

a/n:

Gemes banget gak sih dua leader ini?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gemes banget gak sih dua leader ini?

Silly Couple ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang