[16] Peralihan

21 6 10
                                        

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
╔🌈══════════﷽══════════🌈╗
            اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
╚🌈══════════﷽══════════🌈╝


"Mungkin dulu aku tidak pernah percaya akan kalimat 'Cinta pada pandangan pertama,' tapi, setelah aku melihatmu dan aku merasakannya ternyata cinta itu benar adanya."

> BJLJ <

> BJLJ <

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.









"LO, harus keluar jangan jadi pengecut gini Anjing!"

Seorang lelaki berperawakan tinggi tegap, berkulit putih serta kumis tipis melangkah lebar dengan tatapan bengis menuju sebuah bangunan minimalis yang biasa disebut markas. Matanya mengabsen semua sudut ruangan di sana, bibirnya sedikit menerbitkan senyum licik saat seseorang yang dia cari berjalan mendekat dengan tatapan penuh tanya.

"Lo kenapa sih?"

Pemuda itu membuang wajah, berdecak cukup keras. Detik berikutnya langsung menarik kerah baju seseorang yang menurutnya sangat tidak pantas disebut sebagai lelaki sejati, "ASAL LO TAU SAVINA TUH GAK PERNAH PEDULI SAMA LO!" sarkasnya dengan tatapan dalam menusuk si lawan bicara.

"SHUT THE HELL UP!" Dia menepis cekalan itu dan menjauhkan diri, "How can you tell?" tanyanya setengah frustrasi.

*Tutup mulutmu! Kamu tau dari mana?

"Gue denger sendiri kalo Savina gak pernah peduli mau lu ngilang kek, mau lu ga balik kek," pemuda berkaus putih polos itu diam sejenak, kemudian mendekatkan diri pada laki-laki yang dibuai asmara itu, "malah dia keknya lebih seneng deh kalo Lo bener-bener pergi..."  lanjutnya mencebik, menatap remeh seakan pengorbanan sang teman selama ini tiada sedikit pun berarti.

"Zip it, button it!" balasnya mengacungkan jari telunjuk.

"Am i wrong?" Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya diakhiri gelak sumbang. "Jangan bodoh karena cinta! Jangan jadi pengecut, FATIH!"

"Inget Lu itu FATIH, penakluk. Lo harusnya nggak sembunyi kek gini, emang dengan lu gini Savina peduli gitu? ENGGAK!" bentaknya sekali lagi.

"Open your eyes..." imbuhnya sembari menepuk pundak Fatih beberapa kali, berharap dia mau mengerti.

Fatih merunduk, menggeleng lemah, "She is a good girl, gue ga sanggup melupakan dia. Baru kali ini gue──

"Merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Basi! Come on, Fatih! Jangan bego seperti ini..." Mendengar pengakuan Fatih lagi-lagi pemuda itu tersulut emosi. 

Bintang Jatuh di Langit JogjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang