06

3.2K 395 77
                                        

Minggu ini giliran Ola untuk pulang ke rumahnya karena Minggu kemarin ia dan Farrel sudah memenuhi jatah menginap di rumah buk Asti. Begitu menginjakkan kaki di rumah orang tuanya itu Ola langsung di berikan pelukan erat dari ibunya dan sesekali mendengar nasihat yang menentramkan jiwa. Ola tak sedih lagi karena memang ia belum memiliki rasa apapun pada janin asing itu, tapi rasa nelangsanya lebih ke arah Farrel yang ada di rumahumh sakit bersama Adriana.

Ia tak pernah menanyakan apapun hingga saat ini karena merasa kalau harusnya ia tak menunjukkan kepeduliannya tapi tetap saja mengetahui hubungan dua orang itu memang selalu membuatnya was-was.

"Aunty!!" Suara Delya memenuhi ruangan terlihat anak itu berlari ke arahnya, Ola langsung melepas pelukan ibunya dan menggendong Delya mungil yang memeluknya erat.

"Hi sayang.. kamu mau kemana?" Tanyanya kemudian melihat boneka beruang di pelukan anak itu. Dan juga bajunya yang rapi.

"Mau ke tempat ayah." Delya menjawab girang. Keponakannya ini memang anak ayah persis seperti dirinya.

"Sudah pelukannya. Ayo pergi Del." Adriana keluar dari dalam kamarnya terlihat membawa tas pakaian mereka untuk menginap. Memang semenjak Ola menikah dengan Farrel, dia tak pernah mau berada di rumah yang sama dengan mereka.

Ola bersyukur sebenarnya tapi jika di perhatikan baik-baik, toh mereka bertemu juga dari Senin sampai Jumat di rumah sakit. Sama saja. Jadi sempat ia terpikir jika dua orang itu hanya menyembunyikan semuanya dengan baik.

"Mana Farrel?" Kakaknya bertanya dan itu membuat Ola merasa jika Adriana memang bisa saja bermuka dua.

"Di luar. Kakak naik apa? Nggak ada mobil di luar?" Ia bertanya sekedar basa-basi.

"Naik grab aja... Ini mau di panggil."

"Mau kemana An?" Kini Farrel yang bertanya ketika pria itu muncul membawa tas pakaian kecil di tangannya.

Terpintas kejahilan dalam kepala Ola, dimana sedikit-sedikit ia sekalian menyindir halus.

"Kenapa nggak di antar Farrel aja?" Ola memang tidak memanggil suaminya sopan.

Adriana terlihat menegang.

"Boleh. Ayo An." Dan bodoh nya si dokter Bagong biasa saja.

Menghela nafas panjang Ola menyerah. Percuma saja menyindir, suaminya itu tidak punya akal memang.

"La, kamu ikut juga yok. Kan kamu udah lama nggak jenguk ke sana." Adriana setengah berbisik. Sok suci. Pikir Ola.

Ola tersenyum sinis. "Nggak mbak. Sampaikan aja salam ku dengan mas Gio. Bilang semoga lekas sembuh."

"Kenapa nggak ikut aja?" Kini Farrel menatapnya meminta.

"Maaf, saya dan rumah sakit kamu memiliki kenangan yang buruk." Cerocos Ola membuat Farrel mengetatkan rahangnya.

Wanita itu memang cari gara-gara.

"Ya udah.. aku naik grab aja. Nanti merepotkan." Adriana tak nyaman dengan suasana yang tercipta di depannya.

"Nggak, bareng aku aja. Sekalian temenin makan di resto ijo. Ada urusan di sana." Dengan suara menahan marah Farrel langsung keluar meninggalkan dua wanita itu.

"Kamu kok gitu sih. La. Kekanakan." Adriana cukup kesal dengan sikap adiknya yang tidak jelas itu.

"Nggak ngerasa tuh." Ola berjalan ke ke kamarnya mengabaikan Adriana yang mendelik tajam.

°°°°

Setelah menutup pintu kamarnya rapat, Ola menghilangkan ketenangannya dan memasang wajah frustasi. "Astagfirullah.." Ia terdengar lelah. "Kenapa bisa-bisanya aku milih jalan ini ya." Ia duduk di kasurnya terbayang keputusannya beberapa bulan yang lalu dan mempertanyakan ajal sehatnya dulu .

Sang Pengganti [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang