05

2.7K 366 22
                                        

Ola berat membuka matanya. Ia merasa seluruh tubuhnya kebas.  Perlahan ia bergerak di atas ranjang yang hanya berisikan dirinya seorang. Ia melihat matahari sore yang menembus jendela kamar mereka. Matanya melirik jam dinding yang berada di dekat pintu.

05.02

Sudah sangat sore dan ia belum sholat Ashar. Ia beranjak dari tempat tidurnya dengan tergesa-gesa kemudian merasa jika perutnya keram dan mendadak sakit sekali. Tak mau menikmati rasa sakit itu dalam diam Ola memilih memaksa untuk beranjak.

Hanya butuh beberapa langkah saja berjalan kemudian Ola merasakan cairan kental mengalir di antara dua kakinya. Ia terperanjat dan terpaku mematung memandang kulit pucatnya yang di aliri sesuatu yang tak biasa. Darah.

"Apa ini?" Katanya sudah mulai ketakutan.

Ia berjalan secepatnya ke dalam kamar mandi sebelum darahnya jatuh ke lantai dan berserakan. Di kamar mandi ia semakin menemukan banyak darah yang keluar dan ketika ia memilih untuk jongkok rasa sakitnya semakin membuatnya merintih menggigit lidahnya sendiri.

Ia merasakan gumpalan darah kecil lolos dan hanyut begitu saja ikut dengan aliran shower yang ia nyalakan untuk membersihkan darahnya. Dan setelah gumpalan itu keluar barulah darahnya perlahan berhenti.

Ia terdiam lama. Mematung menatap lantai kamar mandi milikinya. Memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di antara rasa perih dari perutnya juga gusar dalam hatinya.

Ola keluar dari kamar mandi dengan terpincang-pincang. Di jangkaunya ponsel miliknya dan langsung menghubungi pria yang terakhir kali bersamanya tadi.

Ringing

Ia memanggilnya tiga kali dan tak satupun di angkat.

"Rell! Farrel!" Ia memanggil pria itu dari kamarnya mana tahu ia di luar tak jauh darinya.

Drrrttt drrt

Ponselnya bergetar dan ada nama pria itu di sana.

"Halo."  Ia langsung menjawabnya cepat, karena ingin menceritakan kejadian barusan.

"Ada apa?" Suara Pria itu terdengar dingin di ujung sana, seperti biasanya.

"Kamu dimana? Bisa ke kamar sebentar?" Ola tidak peduli dengan sikap pria itu, ia masih memegangi perutnya dan itu yang terpenting.

"Aku di rumah sakit. Ada rapat direksi." Kata pria itu menolak halus.

"Sepertinya aku ke-"

"Mau kopi atau teh?" Ucapan Ola terpotong karena suara tak asing dari ponselnya.

"Teh. Thanks." Pria itu menjawab lembut berbalik apa yang ia terima sebelumnya. "Ada apa?" Pria itu kembali bertanya.

"Nggak ada apa-apa." Ola tak berbohong jika untuk pertama kali ia langsung menangis ketika mematikan panggilan itu.

Meraung merasakan kesakitan yang teramat dalam. Ia juga tak tahu kenapa ia merasa sesedih ini.

Ia terisak kembali kali ini dengan fakta kalau ia sepertinya baru saja keguguran dan hanya ia seorang yang tahu.

Tapi Ola ingin memastikan dulu. Di menjangkau ponselnya kembali dan langsung memesan taksi online. Dengan mata bengkak juga jalan yang tak simetris ia berbenah dan langsung ke rumah sakit terdekat.

•••

Acara malam itu tak ramai memang hanya orang-orang terdekat yang datang. Begitu juga Ola dan Farrel mereka berdua turut hadir memenuhi panggilan. Mereka tak ada bicara sedikitpun semenjak Farrel pulang pukul delapan tadi dan memutuskan langsung berangkat ke rumah satria.

Sang Pengganti [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang