02

3K 348 16
                                        

"Kamu darimana sih, La. Dari tadi di tungguin nggak datang juga. Padahal ibu bilang kamu sudah berangkat dari rumah dari jam dua." Adriana sang kakak langsung menunjukkan kekesalannya karena Ola yang baru muncul habis Ashar.

Ola memang pergi jauh dari rumah sakit itu tadi dan singgah di masjid. Berdiam diri di sana memenangkan diri dan berusaha mencari jalan keluar. Setelah menunaikan sholat barulah ia bisa tenang dan mampu berhadapan dengan sang kakak saat ini.

Meski jujur ia masih menyisakan rasa marah tatkala melihat wajah polos sang kakak yang menyembunyikan kelakuan bejadnya beberapa jam yang lalu.

Wajah kak Adriana yang polos tidak akan membuat Ola lupa apa yang ia saksikan di tangga darurat itu.

"Ojolnya mogok." Ia berbohong dengan mudah kemudian menyerahkan tas milik sang kakak.

Adriana mengambil tas itu kemudian segera menyusunnya ke lemari. Ola mengambil tempat di sofa dan duduk memainkan ponselnya. Sesekali ia melirik dalam diam kakaknya itu dari balik punggungnya, Ola masih tidak habis pikir apa yang kakaknya itu pikirkan hingga mengambil jalan bodoh itu.

Cukup lama ia menelisik Adriana dalam diam pintu kamar VIP itu kemudian di buka dari luar dan membuat Ola refleks mengalihkan perhatiannya ke arah pintu dan mencari tahu siapa yang masuk. Mengetahui jika seorang suster mendorong alat-alat kesehatan masuk membuat Ola memilih menyibukkan dirinya kembali pada ponselnya.

"Bawa ke sana." Suara berat dan khas itu membuat Ola mengangkat kepalanya lagi melihat sosok lain yang rupanya ikut masuk dan kini membelakanginya. Seorang dokter yang mungkin menjadi dokter pribadi Abang iparnya.

Dokter yang begitu cekatan mengurusi mas Giovanni sang pasien membuat Ola memperhatikan intens setiap pergerakannya mengingat jika sebenarnya ia sangat suka melihat dokter bekerja. Lama Ola memperhatikan punggung sang dokter hingga membuatnya penasaran dengan wajahnya.

"Nanti malam cek lagi kondisi beliau sebelum kamu pulang." Kata sang dokter pada si perawat.

"Ok, dok."

"Dan bilang juga makanan untuk pak Giovani dibuat less sugar mulai besok." Ia memberi perintah kemudian membiarkan sang perawat pergi melaksanakan apa yang ia perintahkan.

Sang dokter terlihat masih memilih berdiam di tempatnya membelakangi Ola beberapa saat. Dokter itu berjalan menghadap sang kakak yang berada tak jauh di depannya.

"Kamu sibuk nanti sore?" Kata si pria dengan nada ramah dan berbeda dari ia bicara pada perawat tadi dan membuat Ola menemukan sikap kakaknya yang kalang kabut.

"Ola. Bisa belikan air mineral." Kakaknya langsung menyuruhnya dengan suara cukup tinggi.

Sang dokter langsung berbalik ke mana Adriana melihat dirinya. Ola masih santai berdiri berniat melakukan apa yang kakaknya minta sampai ia dan sang dokter laki-laki itu bertukar pandangan.

Ola langsung melotot melebarkan matanya melihat sosok yang tak asing di depannya itu, sosok yang tak mungkin ia lupakan seumur hidupnya karena telah menimbulkan masalah besar dalam hidup keluarga kakaknya. Berbeda darinya yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya sang dokter malah biasa saja menatapnya santai seolah pria itu memang sudah mengetahui keberadaannya sejak awal.

"Mata kamu Ola!" Tegur sang kakak.

Ola membuang muka berusaha menahan diri agar tak meneriaki pria itu.

"Adik kamu kan? Yang pernah lempar aku pakai sendal?" Ucap sang dokter tiba-tiba seolah sudah mengenalnya.

"Iya." Sang kakak menimpali.

"Dia sudah sangat besar ya."

"Dia memang sudah besar." Ujar sang kakak setengah mengejek.

Ola memilih menatap sosok itu lagi dan pria itu masih saja memandangnya tanpa rasa bersalah dan beban apapun. Merasa kalau pria itu terang-terangan menyatakan rasa tidak bersalah telah tertangkap basah membuat Ola naik pitam.

Sang Pengganti [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang