"Oh, dia. Valeria, cewek gue."
Valeria itu periang tapi juga menyebalkan. Bahkan saat namanya menjadi perbincangan seluruh SMA dirinya masih bisa memakan soto dengan tenang karena perutnya keroncongan. Entah angin atau badai darimana, dirinya bisa d...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Part 2: Berakhir Ricuh)
-- -
“WOI! JAMKOS 'KAN, YA!?”
“ADA TUGAS, UDAH DISHARE TUH DIGRUP WA! BUKA CEFATT!” balas Alicia yang notabene nya adalah admin grup sekaligus sekretaris.
“Sama aja, gurunya 'kan gak masuk!” celetuk murid laki-laki.
“INTINYA NTAR SEPULANG SEKOLAH TUGAS HARUS DIKUMPULIN!”
“WHAT THE!?”
Itu teriakan Valeria, melengking memenuhi ruang kelas.
“Gak usah teriak-teriak Val! Suara lo cempreng!” tegur Ferdi kesal.
Valeria menoleh kebelakang, melemparkan tatapan sengit pada Ferdi. Cowok satu ini emang minta dijadiin pacar, biar diem. “Sans dong, gak usah ngegas!” kata Valeria.
Lelaki itu melotot tak terima, “Kok gue!? Elo yang ngegas!”
“Dahlah, cewek emang serba salah. Sadar aku tuh,” jawab Valeria menaruh tangannya di dada, memaksakan bibirnya untuk tersenyum manis.
“Apaan! Gak terima gue! Yang serba salah tuh cowok!” seru salah satu murid perempuan bernama Gina.
Ferdi menggelengkan kepalanya, seraya mengelus dada. Bingung dengan sikap para betina. Selalu saja para jantan yang disalahkan padahal dia yang salah. “Huft, dasar gak gina.” jawabnya.
“APA LO BI—”
“Moza! Nih, gue bayar iuran kelas!” sahut Mela memotong ucapan Gina, membuat seisi kelas yang sejak tadi ribut seketika hening.
Beberapa murid langsung menatap Mela, lalu mengerumuni meja Moza dan Valeria. Ibarat semut mengerumuni gula. Mereka lupa jika hari ini adalah senin awal bulan, sekaligus hari bayar iuran. Karena bayar iuran kelas setiap dua kali sebulan, pada awal senin dan senin akhir bulan.
“Oh iya, gue lupa. Untung lo ingetin,” jawab Moza membuka tasnya, mengeluarkan buku khusus uang kas.
Valeria yang notabene nya wakil bendahara ikut serta membantu Moza menerima uang dari setiap murid. Sesekali memberi kembalian, yang uang sakunya bernilai cukup besar.
“Val, lo tagih si Ferdi, Galih, sama Lerie. Udah nunggak sebulan mereka.” ujar Moza.
Valeria mengangguk, berdiri dari tempat duduknya. “Fer! Bayar uang kas!” tagih Valeria.