Jiae mondar-mandir di balik pintu kamar. Ia terus menggigit jarinya tanda bahwa ia cemas. Yein, junior terdekat dengannya sedang membahas hal penting dengan suaminya di ruang makan sana. Ia takut ada hal tidak terduga terjadi. Dia ingin ada di sana, tapi Suga melarangnya ikut campur.
“Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kita hanya bisa sebatas memberi saran, tidak berhak ikut campur.”
“Tapi bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?” tanya Jiae khawatir.
“Tidak akan ada yang terjadi, kalaupun ada, aku yang akan memukul Jungkook dengan tanganku sendiri.
***
Junghwa duduk di ruangan Myungsoo. Dokter itu ingin membahas hal yang penting dengannya.
“Apakah terjadi sesuatu pada Minkyung?” tanya Junghwa lemah.
“Minkyung baik-baik saja saat ini, selama alat penunjang jantungnya bekerja dengan baik, dia akan baik-baik saja. Kami sudah mendaftarkan Minkyung sebagai anak yang menunggu donor. Minkyung ada di peringkat lima di antara semua pasien anak yang memerlukan donor.”
“Apa? Nomor lima? Bukankah itu terlalu jauh?” seru Junghwa.
“Banyak anak yang kondisinya jauh lebih kritis dibanding Minkyung.”
“Lalu kapan Minkyung akan sembuh kalau begini? Dia akan terus menghabiskan hidupnya di rumah sakit di saat anak-anak lain mulai sekolah dan belajar,” rintih Junghwa.
“Donor organ anak sangat jarang, operasi transplantasi anak juga jarang. Itulah kenapa pasien yang lebih kritis akan didahulukan. Tapi jika hasil tes antara donor dan penerima tidak ada kecocokan, Minkyung bisa ada di peringkat atas untuk mendapatkan donor, atau jika Minkyung benar-benar kritis.”
“Dokter Kim, Anda ingin Minkyung dalam kondisi kritis?” tanya Junghwa tidak percaya.
“Saya tidak bermaksud begitu, tapi kalau membuat Minkyung tampak kritis agar bisa segera mendapat donor, saya bisa melakukannya.”
“Maksud Anda?” tampak jelas ekspresi bingung di wajah Junghwa.
Myungsoo diam sejenak sebelum menjawab, “Saya bisa mengubah kondisi Minkyung seakan-akan dia dalam kondisi kritis. Dengan beberapa diagnosis dan hasil tes palsu, mudah saja bagi saya untuk menempatkan Minkyung untuk berada di posisi pertama penerima donor.
“Jika Anda bersedia, saya akan mengubah semua diagnosis Minkyung. Tentu ini akan membahayakan nyawa anak lain yang seharusnya menerima donor lebih dulu, tapi saya mau melakukannya jika Anda mau berjanji satu hal, yaitu, bocorkan semua yang Jungkook perintahkan pada Anda saat kecelakaan Jaehyun.”
Seketika Junghwa membeku. Tangannya bergetar dan wajahnya pucat. Dari ekspresinya, Myungsoo bisa menebak kalau Junghwa tahu sesuatu tentang peristiwa itu.
“Saya perlu bukti konkret tentang peristiwa saat itu, dan saya ingin menghukum semua yang ada di balik kejadian naas itu.”
“Anda ingin mengungkap kebenaran dan menerapkan keadilan dengan cara seperti ini? Bukankah Anda sama saja?” sinis Junghwa.
“Perkataan Anda semakin menyiratkan kalau ada yang tidak beres pada kejadian itu. Dan saya semakin yakin untuk mengungkapkan kebenaran walau dengan cara licik karena melihat ekspresi Anda yang jelas tahu sesuatu. Tak perlu pura-pura, Anda pasti ingin Minkyung sembuh lebih cepat kan?”
“Kalau kebenaran terungkap lalu Anda mau apa? Ini tentang keluarga Jeon, mereka bukan keluarga yang bisa dihadapi dengan mudah," ucap Junghwa.
“Saya menawarkan ini pasti dengan segala perhitungan matang, dan saya bukanlah orang yang tanpa koneksi sama sekali. Jika semua terungkap, akan saya pastikan semua yang terlibat mendapat hukuman yang seharusnya.
“Tak perlu buru-buru memutuskan. Jika donor sudah muncul, saya akan memberitahu Anda, dan pastikan Anda memberi jawaban pada saat itu.”
***
“Berpisah? Tidak! Tidak! Aku tidak mau berpisah denganmu Yein!” seru Jungkook panik. Ia bangkit dari kursinya tapi segera duduk setelah melihat ekspresi dingin Yein.
“Mari kita pisah untuk sementara waktu. Aku akan pulang ke rumah orang tuaku dan tinggal di sana. Aku akan menjelaskan semuanya pada orang tuaku dan memikirkan apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Apakah aku harus memaafkanmu, atau aku harus membencimu seumur hidupku.”
“Ye.. Yein..”
“Kau hanya perlu diam di rumahmu sampai aku menghubungimu untuk memberi tahu apa keputusanku. Jangan lalukan apapun kalau kau tak ingin aku benar-benar membencimu dan membuatmu tidak bisa melihat wajah anakmu!”
Tentu saja Jungkook gusar, ingin membantah, dan bingung harus melakukan apa. Tapi raut wajah Yein yang begitu dingin dan tersakiti membuatnya tak bisa melakukan apapun.
“Kau mencintaiku bukan?” suara Yein melunak. Jungkook mengangguk cepat. “Kalau begitu, dengarkan dan ikuti perkataanku. Aku tahu semuanya tentang kejadian Jaehyun di hari pernikahanku. Aku masih tak tahu apa yang harus kulakukan untuk menghadapi ini semua, ini terlalu menyakitkan untuk aku terima. Biarkan aku memikirkan jalan yang harus aku ambil. Kau hanya cukup diam, jangan lakukan apapun! Jangan sembunyikan bukti dan jangan coba melarikan diri! Jangan berbuat nekad dan mengulang kesalahan yang sama, jika kau berani melakukan itu, akan kupastikan kau tidak akan pernah melihatku dan wajah anak di dalam perutku.”
- TBC -
Partnya pendek, tadinya mau aku upload semua part sampai tamat, tapi pikiranku putek pake banget
Oya, part Junghwa sama Myungsoo itu masa lalu ya
Cerita ini mau tamat, mungkin minggu depan kalau aku tidak terlalu penat buat update

KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession
FanfictionSometimes, there is no different between love and obsession