“Yein-ah, Jungkook tahu kau ke sini?” tanya Suga.
Yein menggeleng. “Jungkook sedang ke Jepang, baru pulang besok lusa."
“Kalau Jungkook pulang, dia pasti akan cemas mencarimu. Kau tahu sendiri, betapa protektifnya dia padamu,” ujar Jiae.
“Tapi aku tak mau kembali padanya! Aku tak mau hidup dengan orang jahat sepertinya!” seru Yein.
“Lalu kau akan berpisah dengannya? Bagaimana dengan anakmu? Kau akan memisahkan anakmu dengan ayahnya?” cecar Suga.
Yein diam. Benar, kalau ia berpisah dengan Jungkook, anaknya akan lahir tanpa ayah. Yein juga tidak mau kalau anak di dalam kandungannya lahir tanpa mengenal ayahnya. Tapi untuk mengenalkan seseorang seperti Jungkook pada anaknya juga ia tak rela. Sungguh, kini ia semakin dilema.
“Bagaimana pun, Jungkook adalah ayah dari anakmu. Kau sendiri juga tahu, betapa sayangnya Jungkook padamu dan anak di dalam kandungan itu. Jika kau ingin memisahkan mereka, itu bukan hal yang baik,” nasehat Suga.
“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Yein.
“Bukankah memaafkan seseorang bukan hal yang buruk?” kata Suga tenang tapi penuh keyakinan.
***
Delapan bulan setelah tragedi di pernikahannya, Yein mulai menjalani hidupnya kembali. Ia kembali bekerja segiat dulu, hanya saja ia berubah. Ia menjadi tak seramah dulu, mungkin karena ia belum sepenuhnya lupa atas apa yang terjadi padanya. Yein juga cenderung menjadi penyendiri dan enggan berkumpul dengan rekan kerjanya. Bahkan Yein menghindari Jiae dan Suga, senior yang sangat dekat dengannya.
“Sampai kapan kau akan terus begini?” tanya Jiae suatu hari saat Yein terus menghindarinya. “Bersikap acuh dan dingin dengan lingkungan sekitarmu tidak akan membuat Jaehyun hidup kembali! Kau hanya akan membuat Jaehyun tidak tenang di alam sana. Aku tahu, melupakan seseorang yang kau cintai bukan hal yang mudah, itulah kenapa aku tidak akan pernah memintamu untuk melupakan Jaehyun. Tapi, apakah terlalu sulit jika aku hanya memintamu untuk kembali menjalani hidupmu seperti dulu?”
Entah kenapa, perkataan Jiae menusuk egonya. Memang rasanya sangat menyakitkan kehilangan seseorang yang amat ia cintai. Apalagi di saat mereka akan segera mengikat janji sehidup semati. Tapi seniornya benar, terus tenggelam dalam keterpurukan bukanlah hal yang baik. Memang baru delapan bulan setelah kepergian Jaehyun, tapi bukankah itu waktu yang lebih dari cukup bagi Yein untuk berduka? Yein juga berhak melanjutkan hidupnya, bukan untuk melupakan Jaehyun sepenuhnya, tapi demi orang-orang yang sangat mengkhawatirkannya. Yein pun yakin, Jaehyun akan bahagia untuknya di sana jika Yein bahagia.
Setelah itu, perlahan Yein bangkit. Ia kembali bersemangat menjalani hidupnya. Ia lebih giat bekerja dan menjadi seorang dokter favorit semua orang. Yein selalu tersenyum, ramah dan perhatian. Meskipun ada kalanya ia merindukan Jaehyun, tapi dengan segera Yein meyakinkan dirinya bahwa Jaehyun selalu ada di hatinya. Perubahan Yein tentu saja membuat Jiae, Suga dan orang tuanya lega. Mereka terlalu khawatir jika Yein akan terus merasa kehilangan. Ah, satu lagi orang yang merasa lega dengan perubahan Yein, yaitu Jeon Jungkook. Seseorang yang terus memperhatikan Yein setelah kepergian Jaehyun.
“Apa kau selalu tersenyum seperti ini setiap hari?” sapa Jungkook pada Yein yang sedang duduk istirahat di bangku taman rumah sakit. Pria itu juga langsung mendudukkan dirinya di sebelah Yein.
“Tuan Jeon!?” kaget Yein.
“Jungkook, panggil saja Jungkook! Terlalu banyak orang memanggilku Tuan, dan aku tak ingin kau menjadi salah satunya,” koreksi Jungkook.
“Tapi, Tuan...”
“Aku ingin berteman denganmu, dan kita tidak akan pernah bisa berteman jika kau terus memanggilku begitu,” potong Jungkook.
Yein membisu. Matanya ditatap lekat oleh Jungkook, dan untuk pertama kalinya ia terpesona pada pria Jeon itu. Bukan hanya kali ini ia bersua dengan Jungkook, tapi entah kenapa rasanya berbeda untuk saat ini.
“Kau tidak mau berteman denganku?” ucapan Jungkook membuat Yein fokus kembali.
“Bukan begitu, hanya saja saya merasa kurang sopan dengan memanggil Anda seperti itu,” ucap Yein.
“Kau merasa tidak sopan karena tidak terbiasa, nanti juga akan terbiasa. Kau hanya perlu memulai, Yein-ah!”
“Bolehkah?” tanya Yein ragu.
“Tentu. Cobalah! Panggil aku Jungkook.”
“Jungkook-ssi..” panggil Yein pelan.
“Itu terdengar bagus,” puji Jungkook dengan senyum lebar yang menular pada Yein. Gadis cantik itu ikut tersenyum lebar.
Sejak itulah keduanya mulai berteman. Jungkook sering datang ke rumah sakit hanya untuk makan siang bersama Yein. Ada kalanya juga Yein yang datang ke restoran dekat kantor Jungkook hanya sekedar untuk berbincang. Jungkook menjemput dan mengantar Yein pulang juga sudah menjadi hal yang wajar. Sesekali keduanya juga jalan berdua di akhir minggu. Intinya, keduanya sudah cukup nyaman satu sama lain.
“Yein-ah, bukankah kita sudah cukup dekat?” tanya Jungkook suatu hari. Keduanya tengah menikmati dua cangkir kopi di sebuah kafe.
“Aku rasa begitu. Kita sudah menjadi teman kan?” jawab Yein sambil menyeruput segelas latte miliknya.
“Bisakah hubungan kita lebih dari sekedar teman?” Jungkook bertanya tanpa basa-basi.
“Kau mau kita jadi saudara? Saudara lebih dari sekedar teman,” Yein mencoba bergurau, walau sebenarnya itu hanya cara untuk menyembunyikan rasa gugupnya.
“Aku ingin menikah denganmu. Kau mau kan menjadi istriku?”
Yein nyaris tersedak saat mendengar kalimat lugas Jungkook. Lamaran langsung tanpa prolog dan tanpa kejutan romantis cukup membuatnya terkejut. Bukannya ia tak sadar kalau Jungkook tertarik padanya, hanya saja Yein tidak menyangka bahwa Jungkook akan mengungkapkan perasaannya secepat ini. Apalagi bukan sekedar mengajak berkencan, tapi langsung mengajak menikah.
“Bagaimana kau bisa mengatakan hal serius begitu dengan begitu mudah?” seru Yein.
“Maaf, aku bukan orang yang romantis. Aku tidak bisa melamarmu seromantis para pemeran utama pria di dalam drama. Tapi aku bisa jamin bahwa aku tulus mencintaimu dan aku akan membahagiakanmu seumur hidupku. Kau mau menikah denganku kan?”
“Jungkook oppa, ini terlalu mendadak,” bingung Yein.
“Kita sudah dekat hampir setengah tahun ini Yein. Aku tahu kau cukup peka untuk menyadari perasaanku untukmu. Cukup katakan ‘ya’ dan aku akan mempersiapkan pernikahan dalam waktu satu bulan.”
“Mwo!? Yang benar saja!?” Yein nyaris berteriak.
“Memangnya aku terlihat bercanda?” Jungkook bertanya balik. Ia menatap dalam ke arah mata Yein, menunjukkan bahwa ia serius dengan ucapannya.
“Tapi, oppa, mempersiapkan pernikahan hanya dalam waktu satu bulan itu terlalu cepat. Kita belum memesan gaun pengantin, gedung, souvenir...”
“Kau tidak lupa kan siapa Jeon Jungkook? Aku bisa melakukan apapun yang aku mau, termasuk persiapan pernikahan hanya dalam waktu satu bulan. Kau hanya perlu berkata ‘ya’ Yein.”
- To Be Continued -
Mohon dukungan dengan vote dan komen yaa teman
Next part will be updated on Saturday, authornya mau kerja dulu, nyari cuan buat nikah ama Jaehyun

KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession
FanfictionSometimes, there is no different between love and obsession