“Bagaimana kau bisa tahu semua itu?” tanya Jiae pada Yein.
“Dokter Kim Myungsoo, dia tiba-tiba datang ke rumah kami. Dia yang memberitahuku semuanya,” jawab Yein.
“Lalu kau percaya begitu saja padanya?” Suga tampak ragu-ragu.
“Awalnya aku juga tidak percaya. Aku pikir Dokter Kim datang karena dia masih kecewa padaku. Kalian tahu sendiri, betapa Jaehyun oppa sangat berarti untuknya. Apalagi Dokter Kim sangat membenciku setelah kejadian waktu itu. Semua yang Dokter Kim katakan tidak masuk akal, tapi, dia menunjukkan bukti yang membuatku sadar bahwa Jungkook..” penjelasan Yein terhenti. Ia kembali menangis. Air matanya kembali turun meskipun kedua matanya sudah semakin bengkak. Dengan sigap, Jiae langsung memeluk Yein erat.
“Kau yakin bukti itu benar?” Suga mencoba memastikan.
“Aku sungguh yakin, itu benar-benar suara Jungkook..”
***
“Oppa.. maafkan aku,” ucap Yein dengan nafas terengah-engah setelah berlari dari stasiun kereta ke sebuah kafe yang tak jauh dari sana.
“Apa yang membuatmu terlambat? Kau tidak biasanya seperti ini,” tanya Jaehyun sambil menyuruh Yein untuk duduk.
“Maaf, Jungkook tiba-tiba muncul di depan rumahku tadi,” jawab Yein sambil meraih es coklat – tapi esnya sudah mencair - yang sudah ada di hadapannya. Sudah pasti Jaehyun yang memesannya sejak tadi.
“Lagi?” Jaehyun berkomentar tidak suka.
Yein mengangguk. “Jungkook tiba-tiba ada di depan rumahku dengan mobilnya. Dia bilang ingin mengajakku ke salah satu desainer baju pengantin kenalan ibunya.”
Jaehyun berdecak kesal. “Kenapa? Dia mau membelikan gaun pengantin untukmu?”
Yein mengangkat bahu. “Mungkin.”
“Kenapa Jungkook bersikap seolah-olah dia yang akan menikah denganmu? Dia benar-benar berlagak seperti calon mempelai pria. Minggu lalu dia menawarkan sepasang cincin pernikahan. Sebelumnya menawarkan vilanya di Jeju untuk tempat resepsi. Sekarang dia mengajakmu untuk memesan gaun pengantin!? Dia benar-benar gila!”
“Entahlah, dia bilang hanya ingin membantu. Katanya sebagai ucapan terima kasih karena aku sudah merawat ayahnya.”
“Penyakit ayahnya tidak separah itu sampai dia harus bertindak seperti ini hanya sebagai bentuk rasa terima kasihnya!” ucap Jaehyun dengan sedikit membentak.
“Kenapa oppa marah padaku!? Jungkook yang bertindak semaunya sendiri. Aku tidak pernah sekalipun menerima bantuannya. Semuanya selalu kutolak, dianya saja yang keras kepala,” Yein pun ikut kesal karena Jaehyun membentaknya.
“Maaf, maafkan aku, aku hanya terbawa emosi,” ucap Jaehyun yang langsung menyadari kesalahannya. Ia juga mengusap punggung tangan Yein.
“Jangan marah padaku! Aku tak tahu kenapa Jungkook bersikap seperti itu. Aku berulang kali menolak dan berkata bahwa aku tidak memerlukan semua bantuannya. Tapi Jungkook bersikap seolah-seolah ia tuli. Dia tidak pernah menghiraukan ucapanku.”
“Iya, aku tahu, maafkan aku. Biar nanti aku yang coba bicara pada Jungkook. Lebih baik kita berangkat sekarang. Mencari gaun pengantin untukmu bukan hal yang mudah,” ucap Jaehyun penuh pengertian.
Keduanya pun segera mencari gaun pernikahan untuk Yein. Benar saja, sesuai perkataan Jaehyun, mereka membutuhkan waktu tiga jam hanya untuk mendapatkan gaun tercantik untuk Yein. Lalu sesuai dengan ucapannya, Jaehyun segera menghubungi Jungkook setelah urusan mencari gaun pengantin selesai. Jaehyun bisa menghubungi Jungkook karena Yein punya kontaknya. Tentu saja Yein punya karena Jungkook selalu menghubunginya dengan alasan ingin membantu pernikahannya. Beruntungnya Jungkook menyanggupi permintaan Jaehyun untuk segera bertemu. Kini mereka pun duduk berhadapan di sebuah kafe yang tak jauh dari rumah Jungkook.

KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession
FanfictionSometimes, there is no different between love and obsession