"Iya ?"
Dia menghentikan langkahnya dan menoleh kearahku.
"Uhm.."
Entah kenapa aku tiba-tiba menjadi kaku. Tak sepatah kata keluar dari mulutku. Mungkinkah aku belum yakin dengan semua ini ?
"Ryan..!!" bentaknya
"Oh, iya ?" jawabku
"Ayo, nanti keburu habis tiketnya" ajaknya. Dia mengulurkan tangan dan menarik tanganku.
"Iya iya, sabar sedikit dong" pintaku.
Kita memasuki gedung dan membeli dua buah tiket.
"Eh, biar aku" aku menahannya mengeluarkan dompet
"Tapi.." sahutnya
"Tak apa, biar aku yang membelinya"
Aku hanya berfikir dapat menjadi sosok pahlawan baginya. Dengan ini, kita akan menikmati film dengan duduk bersebelahan. Entah film apa yang akan dia tonton, aku tidak peduli. Yang terpenting adalah, disampingku ada sesosok malaikat yang paling aku kagumi saat ini selain Ibuku.
"Ayo masuk" katanya.
Tanpa melihatku, dia telah memasuki ruangan gelap tersebut. Melangkahkan kaki dengan hati-hati, aku mulai menyusulnya.
"Ryan, sini duduk" dia berteriak memanggilku agar cepat menyusulnya.
Bangku kosong disamping Rachel, aku mulai mendudukinya. Aku sungguh ingin mengungkapkan perasaanku saat ini. Namun apalah, aku tidak ingin mengganggunya yang sedang menikmati film.
Setiap menit, aku menikmati seluruh waktuku bersamanya, disamping perempuan indah ini. Sedikit mengerutkan kening dan mengepalkan tanganku.
"Aku ini benar-benar pecundang" gumamku.
Hingga menit terakhir pemutaran film, aku masih belum sempat mengungkapkannya. Perasaanku masih terpendam jauh didalam hatiku, keinginanku untuk terus bersamanya masih jauh melayang di atas awan.
"Ayo pulang" bisiknya
"Eh, iya" jawabku
"Kamu kenapa hari ini sering melamun ?" tanyanya
"Tak apa, jangan khawatir" bisikku sambil sedikit menghela nafas
"Kamu bener nggak sakit kan ?" dia kembali mempertanyakan keadaanku kali ini
"Aku mencintaimu.." kata-kata yang sangat ingin ku bisikkan tapi kurasa aku masih belum mampu. Mungkin belum untuk saat ini.
"Tak usah khawatir, Rachel. Ayo pulang, nanti kesorean" ajakku
"Ayo lah kalau begitu" dia menyetujuinya.
"16 : 30"
Jam tanganku menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Aku harus bergegas pulang.
"Rachel, aku langsung pulang ya, salam buat Mama kamu" izinku
"Iya hati-hati Ryan ya" dia membalas ucapanku dengan senyum lebar dibibir.
Sampai dirumah, hanya kumpulan penyesalan yang dapat ku bicarakan.
"Mengapa hari ini aku terasa seperti pecundang ? Harusnya aku bisa menyatakan cintaku tadi" gumamku. Kata-kata itu bak sekumpulan lebah yang bersarang di dalam otakku. Namun apalah, sudah tidak ada gunanya menyesali semua itu.
Hari ini aku belajar tentang penyesalan. Tentang ketidak pastian yang mencekikku. Apa aku hanya pantas menyandang nama seorang teman ? Atau aku bisa lebih ? Siapa tahu.
Berbaring seperti menunggu sebuah keajaiban. Menatap langit langit hingga senja turun ketepi malam. Penyesalanku tak kunjung pergi.
Hingga akhirnya..
"Krring.."
"Rachel,
Ryan ?, apa keadaanmu benar-benar baik ?"
"Iya, tak usah hiraukan ;)
Ryan"
Apa dia mencemaskanku ? Mungkinkah masih ada harapan untukku saat ini ? Aku tidak tahu.
"Ryaan, makan malamnya sudah siap nih" teriak Ibuku
"Iyaa, bu" jawabku.
Sedikit kulupakan masalah hari ini. Masih ada besok dan seterusnya. Meskipun kesempatan seperti tadi belum tentu datang lagi, aku harap masih bisa menyatakan cintaku pada Rachel.
"Trriiinggg..."
"Oh, sudah pagi rupanya"
Kembali bertemu dengan hari senin. Tidak kukira akan datang secepat ini. Aku masih belum siap dengan keadaan sekolah.
"Rachel,
Selamat malam :) "
Rupanya dia menyapaku semalam. Sudah dua hari sejak dia mengajak pergi menonton film, aku jarang membuka ponselku. Mungkin aku masih sedikit frustasi dibuatnya.
Mungkin memang tak pantas aku mencemaskan hal yang tidak pasti, tapi apa yang dikatakan mulut dan hati tak bisa sejalan. Bisa dikatakan aku benar-benar memiliki perasaan yang tak terbantahkan.
"Ryan, mandi.. Jangan sampai terlambat masuk sekolah"
"Ah, iya mandi". Hampir saja kujatuhlan ponselku satu-satunya ini. Teriak lantang teguran Ibu membangunkanku dari lamunanku pagi ini.
Dengan sangat tergesa aku berlari dari kamar tidur ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
"Aahh.." grrr.. Kakiku sempat beradu dengan kaki meja di ruang makan. Dengan sedikit pincang kulanjutkan gerak kakiku walau sedikit sakit.
"Jangan telat.. Jangan telaaat"
Doaku satu-satunya pagi ini.
"Hai, Ryan.. Buru-buru amat hehe.."
Didepan pintu gerbang sekolah aku bertemu dengannya lagi, Rachel. Sedikit canggung setelah kejadian waktu itu memang. Tapi setelah kupikir..
"Eh, Rachel.. Yuk masuk.. Hehe.. Tadi bangun kesiangan, sial banget" sedikit curhatku kali ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teori Sakit Hati
CasualeSemakin dalam kita mencintai seseorang, semakin besar rasa sakit yang bisa kita terima.
