Follow & Vomment ya ^_^
H a p p y R e a d i n g . . .
.
.
.
12 Mei 2015
Aku menatap pantulan diriku di cermin. Seragam putih abu-abu melekat pada tubuhku untuk yang terakhir kalinya.
Aku merapikan rambutku, dan memoleskan pelembab pada bibirku.
Tes... Tes...
Cairan kental berwarna merah, mengalir keluar dari lubang hidungku.
Segera saja kuambil tisu yang berada disampingku, dan langsung membersihkan hidungku.
Empat kali, sudah empat kali dalam seminggu ini aku mimisan. Awalnya kupikir karena mungkin saja efek kelelahan, tapi kepalaku akhir-akhir ini sering merasakan nyeri yang hebat.
Tok! Tok! Tok!
"Ara ... Cepat turun sayang, Kevin sudah dibawah." Itu suara mamaku.
"Iya, Ma." Segera kubersihkan sisa-sisa darah dihidungku dengan tisu, dan membuangnya ketempat sampah. Kutatap kembali penampilanku melalui cermin, dan setelah merasa puas aku segera beranjak menuju ruang makan.
~♥~
Ahh ya, namaku Kiara Alesya Dwyne. Orang-orang terdekatku biasa memanggilku Ara. Aku anak bungsu dari 3 bersaudara. Kakak tertuaku seorang dokter yang kebetulan mengelolah rumah sakit milik keluargaku. Kakak keduaku juga akan menjadi dokter, dan masih sibuk dengan kuliahnya di negara kelahiran ibuku. Ibuku hanya ibu rumah tangga biasa, dan Ayahku juga seorang dokter.
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusanku dan teman-temanku setelah 3 tahun menempuh pendidikan di bangku SMA ini.
"Lama banget sih pengumumannya. Mana panas lagi." Kualihkan pandanganku pada sahabatku Clara yang sedari tadi terus saja mendumel.
"Sabar dong, La," ucapku.
"Ya lo sih enak, kulit lo udah putih dari lahir. Nah gue? Udah capek-capek perawatan, skincare-an, ehh malah dibuat gosong lagi," keluhnya mendengus sebal.
"Yaudah dong, jangan ngeluh terus. Kan lo bisa perawatan lagi," balasku cekikikan, membuatnya menatapku sebal.
"Lulusan terbaik di sekolah kita tahun ini, dengan nilai tertinggi adalah ... Kiara Alesya Dwyne."
Suara tepuk tangan terdengar saat namaku disebut kepala sekolah.
"Kepada Kiara, dipersilahkan naik keatas podium."
Aku tersenyum menatap sekitarku. Dengan langkah mantap, aku mulai berjalan menuju podium.
Saat langkahku hampir tiba di depan podium, kepalaku tiba-tiba terasa sangat nyeri, suara-suara disekitarku terdengar bising, pandanganku mulai kabur, dan hal terakhir yang kuingat adalah Kevin yang menghampiriku sebelum kesadaranku menghilang.
~♥~
Suara bising terdengar di pendengaranku, saat kesadaranku mulai utuh. Dengan perlahan kubuka mataku, dan mengerjap pelan.
"Mama ..." gumamku.
Mama yang berada di sampingku langsung menatapku khawatir.
"Minum," gumamku lagi.
"Mama bantu." Mamaku membantuku duduk dan kemudian memberikan segelas air minum padaku.
"Apa yang terjadi sama Ara, Ma?" tanyaku sambil menyerahkan gelas pada Mamaku.
"Kamu pingsan disekolah," ucap Mamaku mengelus rambutku.
"Dokter bilang kamu kecapean dan butuh banyak istirahat." Aku menggukkan kepalaku mengerti. Aku kembali membaringkan diriku dan memejamkan mataku.
~♥~
14 Mei 2015
Hari ini masih dengan pakaian rumah sakit, aku berjalan menuju taman rumah sakit ini. Sebenarnya aku sudah merasa sehat, tapi dokter melarangku pulang sampai hasil pemeriksaanku keluar.
Bosan
Aku merasa bosan berada di sini. Walau aku sering ditemani oleh keluargaku dan juga sahabatku Clara, dan Kevin pacarku, tapi itu semua tidak menghilangkan rasa bosanku berada disini. Aku ingin segera pulang, aku merindukan tempat tidurku yang empuk.
Kutajamkan penglihatanku saat melihat mama yang tampak berjalan dengan tergesa-gesa.
Mama kenapa?
Akupun segera mengikuti mama yang ternyata berjalan menuju ruang kerja kakakku. Aku melihat mama yang masuk kedalam ruangan kakakku.
Aku memelankan langkahku saat sudah berada di depan ruangan kakakku yang tidak tertutup rapat. Suara mama terdengar dengan jelas seperti menangis? Entahlah.
Aku masih terus berada pada posisiku, terpaku dan membisu saat mendengarkan sebuah kenyataan pahit.
B e r s a m b u n g . . .
KAMU SEDANG MEMBACA
EX | My Future Husband
Romance⚠️FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA⚠️ Kiara tidak menyangka jika kepulangannya disambut oleh hal tak terduga. Penghianatan, kekecewaan, hingga permintaan yang tak pernah dibayangkan olehnya. Takdir seolah mempermainkannya, terus saja membawanya pada titik...
