Sebelum kalian baca cerita ini?
Aku mau kasih tau kalau cerita ini hanya sampai 10 Chapter. Selebihnya akan di pindahkan ke versi PDF.
Dan untuk kalian yang mau baca PDF-nya secara langsung?
Kalian bisa pesan melalui :
- Instagram : gsnctarea_ (Dm Insta)
- Whastapp : 081511477154 (Only Chat)
Pembayaran melalui :
oBCA : 5750675559 an. Khairani Azzahra
Warning! Pdf akan dikirim apabila Bukti Transfer sudah dikirim!
Harga PDF : Rp. 65.000
Halaman PDF : 155 halaman.
***
"Kamu yakin gak pengen ke rumah Eomma dulu?" Tanya Taeyong kepada anak laki-lakinya, Lee Jeno namanya.
"Gak usah deh Eomma. Aku sama Renjun mau cepat-cepat pulang saja." Tolak Jeno kepada Taeyong sang Eomma, seraya merangkul Renjun yang ada di sampingnya.
"Ck! Hormon kamu sama seperti Appa-mu! Habis nikah bawaan-nya mau langsung pulang aja! Ya udah hati-hati! Awas kalo sampai Renjun gak bisa jalan karena ulah-mu!" Peringat Taeyong.
Jeno hanya memutarkan kedua bola matanya malas. "Yaudah Eomma, Jeno pamit dulu." Ucap Jeno, membuka-kan pintu mobil untuk Renjun masuk, setelah itu dirinya pun ikut masuk ke dalam mobil.
Jeno mulai menjalankan mobilnya, meninggalkan area gedung pernikahan serta sang Eomma yang terus melihat ke arah mobilnya, menujj rumah yang telah Eomma-nya kasih kepada dirinya.
Ya, Jeno dan Renjun baru saja melangsungkan pernikahan. Setelah beberapa jam menerima dan melayani tamu yang mengucapkan selamat kepada mereka, akhirnya pernikahan mereka pun telah usai, dan mereka bisa kembali ke rumah mereka.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit dari gedung pernikahan ke rumah baru mereka, mereka akhirnya sampai di depan rumah baru mereka.
Renjun menatap kagum rumah yang di berikan oleh Taeyong sang Eomma. Modern minimalis adalah gaya kesukaan Renjun.
"Turun-lah." Titah Jeno sebelum turun dari mobilnya.
Renjun pun mengangguk dan mulai mengikuti Jeno untuk turun dari mobilnya.
"Bisa membawa koper-mu sendiri?" Tanya Jeno yang di angguki kepala oleh Renjun.
Mereka berdua akhirnya berjalan bersama memasuki rumah yang akan mereka tempati berdua. Hanya berdua, tidak ada orang lain lagi selain mereka- mungkin.
*cklek* Jeno mulai membuka kamar utama yang ada di dalam rumah-nya.
"Ini kamar untuk-mu tidur." Ucap Jeno yang membuat Renjun mengerutkan dahinya bingung.
"Aku? Kita tidak tidur bersama?" Tanya Renjun.
Jeno yanh mendengar pertanyaan polos dari Renjun pun tertawa. "Apakah kau mengharapkan aku tidur bersama-mu? Kita? Aku dan kamu jadi kita? Jangan harap Huang Renjun. Aku memang suami kamu saat ini. Tapi kau tau bukan kalau pernikahan ini di dasari karena perjodohan dan wasiat orang tua-mu yang telah meninggal kepada Eomma-ku. Jadi, jangan harap kalau kita akan tidur bersama." Ucap Jeno, memasang wajah datarnya.
"Tapi walau bagaimana pun juga kita sepasang suami istri Jeno. Tidak baik kalau suami istri pisah ranjang seperti ini. Bagaimana kalau Eomma-mu tau?" Ucap Renjun.
"Maka dari itu kau jangan memberi tahu-nya!" Bentak Jeno yang membuat Renjun tertegun dan spontan menutup matanya.
"Kau tau? Karena perjodohan gila ini aku harus putus dari Jaemin?!" Teriak Jeno, memojokkan Renjun.
Jeno mulai mengangkat tangan-nya, menaruh jari tunjuknya di dahi Renjun, dan mulai mengetuknya. "Seharusnya kau menolak perjodohan ini bodoh! Kalau kau menolak? Hubungan aku dengan Jaemin tidak akan hancur seperti ini!" Ucap Jeno.
"Maafkan aku. Aku---"
"Ck! Apakah dengan dirimu yang meminta maaf bisa membalik-kan keadaan seperti semula?!" Potong Jeno.
Renjun diam, tidak membalas perkataan Jeno. Ia ingin Jeno menuntaskan dan mengeluarkan semua amarah yang Jeno pendam.
"Tidak bukan?! Jadi berhenti-lah mengharapkan hubungan suami-istri yang harmonis seperti di Drama. Jangan pernah berharap aku berbuat baik kepada dirimu! Kebaikan aku hanya untuk Jaemin!" Sambung Jeno lalu pergi meninggalkan Renjun.
*brak* Jeno membanting pintu dengan sangat keras ketika dirinya keluar.
Renjun terdiam. Baru kali ini dia di bentak dan di perlakukan seperti ini oleh seseorang.
"Mianhe Jeno-ya." Cicit Renjun, perlahan menyeret kopernya mendekati ranjang.
Renjun pun mulai duduk di tepi ranjang. Netra-nya mulai menelusuri sekitar.
Perlahan dirinya mulai membuka koper yang ia bawa. Tangan-nya pun mulai ter-ulur mengambil satu buah bingkai foto.
Di dalam bingkai tersebut terdapat foto Renjun yang di apit oleh kedua orang tua-nya. Di samping kanan ada Winwin sang Eomma, dan di samping kiri ada Huta sang Appa.
"Eomma, Appa. Apakah kalian sudah tenang di sana? Renjun sudah menikah dengan Jeno. Jadi, Renjun harap kalian bisa tenang di sana." Gumam Renjun, mengusap wajah kedua orang tua-nya yang ada di dalam bingkai foto.
Huanh Renjun. Huang Renjun atau yang lebih di sapa dengan sebutan Renjun adalah anak dari Huang Yuta dan Huang Winwin yang baru saja meninggal seminggu yang lalu.
Yuta dan Winwin meninggal karena kecelakan pesawat yang mereka alami sewaktu merek pulang dari Jepang ke Korea.
Sebelum meninggal, Yuta dan Winwin sempat membuat perjanjian dengan Taeyong dan Jaehyun. Mereka sepakat untuk menjodohkan anak mereka berdua. Menjodohkan Renjun dengan Jeno.
Taeyong dan Jaehyun tidak merasa keberatan akan hal itu. Mereka berdua telah berteman sejak lama. Lagipula Renjun iu anak yang baik hati dan tidak neko-neko. Jadi Taeyong dan Jaehyun menyetujui perjodohan itu.
Ketika mendengar kabar bahwa pesawat yang di tumpangi Winwin dan Yuta mengalami kecelakaan dan menyebabkan semua penumpang yang ada di dalam meninggal semua, Taeyong dan Jaehyun mulai mencari keberadaan Renjun.
Mereka langsung teringat akan janji mereka dengan Yuta dan Winwin.
Dan setelah berhasil menemukan Renjun? Taeyong dan Jaehyun pun mulai melangsungkan pernikahan setelah satu minggu kepergian Winwin dan Yuta.
Renjun ingin sekali menolak perjodohan itu. Ia tidak mau menikah dengan laki-laki yang tidak di kenal-nya. Tapi ketika mendengar semua cerita dan penjelasan dari Taeyong, Renjun pun mulai menerima perjodohan itu.
Lagipula ini wasiat kedua orang tua-nya dari lama. Masa iya Renjun tidak menuruti keinginan terakhir Eomma dan Appa-nya.
*kruk kruk* bunyi suara dari perut Renjun membuyarkan lamunan Renjun.
"Lapar." Cicif Renjun, mengusap perutnya yang terus mengeluarkan bunyi.
"Udah malam lagi." Gumam Renjun ketika melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 12 dini hari.
Ternyata acara pernikahan mereka lama juga ya.
Renjun pun mulai beranjak dari duduknya, perlahan keluar dari kamarnya untuk pergi ke dapur.
Ia ingin melihata apakah dapurnya memiliki makanan yang bisa ia makan, atau bahan makanan yang bisa ia masak untuk dirinya makan.
"Loh Jeno, kau mau ke mana?" Tanya Renjun bingung ketika Jeno sudah rapih dengan style-an casual-nya dengan membawa kunci mobil.
"Bukan urusan-mu." Sarkas Jeno.
*grap* Renjun memegang pergelangan tangan Jeno yang ingin pergi.
"Tapi ini udah malam Jeno. Gak baik keluar malam-malam." Peringat Renjun.
Jeno mendecak kesal, di hentakan tangan Renjun yang memegang tangan-nya. "Bukan urusan-mu! Kau tuli?!" Sarkas Jeno lalu pergi meninggalkan Renjun.
KAMU SEDANG MEMBACA
CONCILIANTIS - NOREN
FanfictionCERITA INI KHUSUS NOREN (JENO X RENJUN) SHIPPER! APABILA KALIAN TIDAK SUKA DENGAN SHIPPER YANG BERSANGKUTAN? DIMOHON UNTUK TIDAK BERKOMENTAR NEGATIF DI KOLOM KOMENTAR! ATAUPUN DI KEHIDUPAN PRIBADI LEE JENO DAN HUANG RENJUN!
