3. Krist atau Kit?

240 39 3
                                        

"Kembalilah, kembali menjadi orang yang aku butuhkan untuk bertarung dengan semesta."

-Singto Prachaya Ruangroj-

..................

Matahari menampakkan dirinya, sinar sinar kecil masuk di sela sela jendela mahasiswa baru fakultas Ekonomi.

Krist membuka kedua matanya, menggeliat pelan kala merasakan hangatnya sinar matahari yang menembus kulitnya.  Manik matanya menatap kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi.

Dengan langkah malasnya, Krist membuka tirai jendelanya lantas membuat segelas susu merah muda kemudian meneguknya sampai habis.

Setelah selesai meminumnya, Krist berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.  30 menit bersantai dikamar mandi, Krist keluar dengan setelan kaos hitam dan almameter kampus yang sangat pas di tubuhnya.

"Selamat pagi,Mae.  Krist berangkat dulu yaa..  Jaga rumah kita, jangan biarkan Pho kembali dengan cara seperti dulu" ucap Krist bermonolog menatap bingkai foto sang ibu.

Ibu Krist meninggal saat Krist duduk di bangku sekolah menengah.  Pihak keluarga mengatakan pada dunia bahwa ibu Krist meninggal karena sakit.  Namun faktanya, ibu Krist meninggal karena bunuh diri.  Entah masalah apa yang menimpanya hingga membuat sang ibu mengakhiri hidupnya dengan cara yang mengenaskan.

Krist turun dari kamarnya kemudian berjalan kearah mobil yang terparkir rapi di depan Condonya.

Krist membuka pintu mobilnya, namun ia terkejut karena ada seseorang yang tengah duduk dibangku penumpang seraya menunjukkan senyum manisnya.

"Sawatdee Krist" sapa Singto memperlihatkan gigi rapinya.

"Singto?! Apa yang kau lakukan disini? K-kenapa kau bisa---"

Ucapan Krist terpotong kala Singto menunjukkan kunci mobil Krist.

"Kenapa kunci itu bisa ada bersamamu?" tanya Krist heran

"Mudah bagiku untuk menduplikat apapun yang ada didunia ini" sahut Singto seraya merebahkan tubuhnya di kursi penumpang.

"Shia... Apa yang kau maksud?"

"Sudahlah, kau ingin terlambat atau tidak? Kalau tidak maka duduklah disini, biar aku yang menyetir"

"Tapi Singto"

"Turuti keinginanku Krist, aku tak akan menyakitimu"

Krist menuruti permintaan Singto, singto beralih duduk di kursi kemudi lantas menyalakan mesin mobil tersebut.

Krist menatap Singto yang mulai melajukan kendaraannya sampai matanya tak sengaja menangkap bekas luka di leher Singto.  Seperti bekas gigitan, tapi bukan cupang.

"Ada apa dengan lehermu? Apa gadismu terlalu ganas kemarin? Tapi sepertinya itu bukan seperti bekas kepemilikan" ucap Krist heran.

Singto yang mendengar penuturan Krist pun mengambil sebuah cermin yang tersimpan di dashboard mobil Krist.  Ia menatap kearah bayangan lehernya di pantulan cermin.  Singto ikut terkejut, kapan ia mendapat bekas kepemilikan ini?

"A-aku tidak tau, sungguh aku tidak tau Krist.  Jangan berpikir aneh aneh tentang ini"

"Untuk apa aku berpikir seperti itu.  Hahaha" sahut Krist tertawa kecil memperlihatkan lesung pipinya.  Singto yang melihat Krist tersenyum lepas tak bisa memalingkan wajahnya untuk menatap wajah cantik, ah maksudnya wajah tampan yang terpancar dari mata Krist.

Reinkarnasi - SingkitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang