#7

4 0 0
                                        

Rio berlari menuruni tangga untuk menghindari amukan adenya itu.

"Kak lo ga dewasa banget sumpah, gue serius ini, siniin notebook gue nyaa." Ucap zeira berteriak, Rio malah menjulurkan lidahnya, gondok sekali rasanya.

Di tangga ke 11 kaki gadis itu terpeleset, nangis zeira nangis. Rio yang mendengar tangisan adeknya itu langsung menghampiri untuk membantu. Zeira di bawa duduk di kursi sofa.

Linu banget jatuh dari tangga, kakinya terkilir. Rio menatap zeira penuh kasian, menyesal sudah membuat adeknya seperti ini.

"Sorry dek..."

"Hiks sakit tau, handphone gue mana kak?"

"Mana gue tau."

"Notebook gue maksud nya" Rio memberikan notebook yang tadi dia ambil. Zeira tersenyum lega akhirnya tidak ada satu orang pun yang boleh membaca notebook ini selain dirinya sendiri.

Dia meraih handphone di saku celananya, mencari room chat arga lalu menelfon kekasih nya itu untuk datang ke rumahnya.

Halenzia, Bram dan Chiko tertawa terbahak-bahak melihat zeira yang terpeleset dari tangga, puas banget rasanya kalau liat zeira seperti ini. Emang dasar laknat:)

"Hahahaha mampus Zee, lagian si berulah mulu." celetuk Zia. Bram masih tertawa sambil bertepuk tangan. Sudah kebiasaan bram kalau dia ketawa ngakak pasti sambil tepuk tangan entah itu refleks atau kebiasaan.

"Hahahah ngok ANJING" Chiko tertawa sampai-sampai berbunyi *ngokseu* 😭 like-like bab*i ya Chiko.

Halenzia dan bram makin tak bisa berhenti tertawa akibat mendengar suara yang berasal dari chiko itu. Sial,  sakit perut mereka

Zeira melirik sekilas lalu ikut tertawa mendengar suara tersebut. Rio sudah tidak heran lagi dengan adeknya satu ini.

"Gue kedepan dulu ya bentar mau beli rokok" ucap Rio dan hanya di jawab anggukan saja.

"Hahaha anjing lo Chiko" ucap zeira dari bawah sana, ketiga nya melirik dengan tawa yang tak berhenti, Zia melihat zeira tertawa sampai-sampai menangis.

"Anjir udah ketawa lagi aja nih bocah" ujar chiko dengan wajah memerah akibat malu.

"Udahlah gue," balasnya dengan bangga

"Tapi masih linu si hiks" lanjut nya, ketiganya langsung turun dari tangga dengan cara melayang. Daebak

Duduk bersampingan, Zia yang always di samping zeira dan chiko yang always di samping bram.

"Sini gue liat mana yang sakit" bram melihat kaki zeira yang lebam, ga terlalu parah si cuma linunya itu loh yang bikin nyeri.

"Kompres coba zee" usul bram setelah melihat kaki zeira, Zia mengangguk setuju, "Mau ga di kompres pake air anget? biar sakitnya agak ilang dikit zee" tawa zia, zeira mengangguk.

"Oke wait tunggu jangan banyak gerak dulu" ucap Zia sebelum pergi membawa air untuk mengompres kaki zeira yang terpeleset tadi.

"Zee pacar lo kok ga kesini?" tanya chiko, zeira melirik ke arah kanan di mana Chiko berada, walau pun zeira tidak bisa melihat wujud bram dan Chiko tapi dia masih bisa mendengar suara mereka.

"Lagi otw katanya, tau dah otw mulu dari tadi" balas zeira dengan nada sedikit kesal.

Halenzia datang membawa baskom berisi air hangat dan satu handuk untuk mengompres kaki zeira.

Dengan penuh telaten Zia mengurusi kaki zeira, gadis itu merintis saat kain handuk itu mengenai kakinya yang lebam. Merah banget buset.

"Shtt sakit zia pelan-pelan napa, pake perasaan gitu" Protesnya, Zia mendelik sebal

Zeira dan halenziaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang