Rendy, murid terpintar satu angkatan. Dikenal dingin dan juga cuek. Ia secara tidak sengaja dipertemukan oleh Viona yang sangat ceria dan banyak bicara. Kira-kira Rendy bisa akrab gak ya ke Viona?
. All picture from pinterest🥰
"Viona! Arzio! Ayo turun dulu nak, sarapan" ucap sang bunda dengan sedikit teriak.
Viona yang sudah selesai siap-siap itupun langsung menggantungkan satu tali tasnya pada bahu kanannya, kemudian ia pergi mengetuk pintu adiknya, Zio.
"Zi! Ayok sarapan dulu" Viona membuka pintu kamar sang adik.
Dilihatnya Zio masih tidur dengan seluruh badannya tertutup oleh selimut. Viona menaikkan alisnya, ia kemudian masuk kedalam kamar adiknya tersebut.
Ia menyibakkan selimutnya, Zio tidur dengan wajah yang terlihat gelisah, keringatnya juga mengalir deras di keningnya, belum lagi gestur tubuhnya yang kedinginan, menggigil.
Bisa dipastikan bahwa Zio demam. Viona langsung berlari keluar kamar sembari berteriak.
"Bunda!! Zio sakit!" Lalu ia berlari ke kamar untuk mengambil barang ajaib yang selalu membantunya menurunkan panas. Plester kompres penurun panas, bye bye fever.
Viona membuka laci dimana ia biasa menyimpan plester kompresnya tersebut. Setelah mendapatkannya ia kembali berlari ke kamar Zio.
Viona dengan cepat menempelkan kompresnya ke kening Zio, sesaat setelahnya bunda datang membawa sarapan untuk Zio dan juga obat penurun panas.
"Makasih Vio, sekarang kamu turun kebawah ya, sarapan dulu baru ke sekolah" ucap bunda pada Viona.
Viona tersenyum simpul kemudian mengangguk paham. "Iya bunda, Viona sarapan dulu, sekalian bikin surat buat Zio, nanti bunda tanda tanganin ya?"
Bunda mengangguk tanpa melihat Viona, bunda sedang fokus pada Zio yang sakit. "Hmm iya Vio"
Viona keluar kamar Zio lalu turun ke bawah untuk sarapan pagi bersama dengan ayahnya.
"Zio sakit kak?" Tanya sang ayah yang sedang memakan sarapannya.
"Iya yah, tapi udah ada bunda kok nemenin Zio diatas" jawab Viona, setelahnya ia mencuci piring bekas makannya di westafel.
°°°°°
"Rendy" ucap sang papah di tengah-tengah sarapan mereka.
Rendy meminum air mineralnya sebelum menjawab ucapan papahnya.
"Iya pah"
"Gimana sekolah kamu? Nilai kamu stabil kan? Papah jarang cek nilai-nilai kamu, papah juga belum nelpon pak Brian lagi buat nanya kamu di sekolah" satu tarikan napas, pertanyaan dari papah Rendy sukses membuat Rendy terkejut.
"Sekolah Rendy baik, nilai Rendy juga baik. Papah gak usah khawatir" ucapnya seadanya, dan sejujur-jujurnya.
Papah Rendy tersenyum, kemudian kembali memakan sarapannya "bagus, papah gak mau denger kalo nilai kamu turun"
"Tenang aja pah, mamah juga bantu pantau Rendy kok" mamah ikut menambahkan beban Rendy lagi.
"Rendy udah selesai mah, pah" ucapnya kemudian meninggalkan meja makan untuk pergi ke sekolah.
Rendy di fasilitasi mobil oleh papahnya, hadiah juara 1 saat kenaikan kelas kemarin. Padahal Rendy gak minta dan gak butuh mobil itu, tapi karena dikasih ya, yaudah pake aja? Gitu katanya.
25 menit waktu yang dibutuhkan Rendy untuk sampai ke sekolahnya menggunakan mobil pribadinya. Apa perlu kenaikan kelas nanti ia minta motor aja ke papahnya? Biar cepet kalo mau kemana-mana.
Seperti hari-hari lainnya, Rendy mengikuti jam pelajaran dengan tekun, kemudian saat jam istirahat ia akan pergi ke kantin bersama teman-temannya, makan sambil bercanda bareng.
"Ren! Gue nanti nebeng ya pulang sekolah" ini Haris yang nyeletuk, gak lupa sambil nyopet twistko punya Juan.
"Twistko gue ris!!" Juan meraih kemasan ciki rasa jagung tersebut dan menaruhnya di dekapannya.
"Motor lo mana emang? Tadi gak ada gue liat di parkiran" kalo ini si Juna, udah kayak penjaga parkiran sampe semua kendaraan yang parkir disana dia hapal.
"Dipake bokap gue, gatau ada angin apa dia mau naik motor ke kantor, aneh banget" jawab Haris, kali ini ia mulai memakan Jetz, stik rasa coklat milik Rendy.
Rendy memutar bola matanya malas "lo dah yang nyetir, gue mau menikmati rasanya jadi penumpang gitu, apa gue duduk di belakang aja kali ya? Biar makin kerasa jadi penumpangnya hahaha"
"GUE BUKAN SUPIR ANJENGGG!" teriak Haris selagi membanting 1 stik coklat tersebut ke meja, membuat semua yang ada di kantin pun menoleh ke meja mereka.
"Berisik lo ris!!" Rendy berusaha tenang menghadapi sahabatnya yang bener-bener putus urat malunya.
. . . To be continued
Jajannya Rendy sama Juan
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.