Jantungan

60 38 28
                                        

BRAKKK!!!

“Bisa pelan-pelankan kalau buka pintu.”

Tidak menghiraukan kekesalan Joni. Tersangka pembuka pintu Agatha kembali mencari keberadaan adiknya. “Ga, Nina kemana?” tanyanya pada Arga.

“Kabur, dia menyesal punya kakak kayak lo.”

“Gue serius Arga.”

“Gue nggak pernah bohong.”
Agatha dan Arga dengan segala ke sarkastikannya membuat Joni tutup kuping. Dia lebih memilih fokus pada kerjaannya.

“Jon, lo nggak lihat?”

“Tadi pergi gitu aja. Ada kelas kali.” Jelas Joni. Percakapan selesai dan mereka kembali menekuri pekerjaan masing-masing.

Setelah mendengarkan penjelasan Joni, Agatha melenggang pergi kembali masuk ke dalam ruangannya. Tanpa mengucapkan apapun padahal sudah diberitahu informasi penting.

BRAK!!!

“Wah, Ga besok-besok kita gembok aja itu pintu.” Sambil mengelus dadanya Joni akhirnya angkat suara. Kesal juga lama-lama dia bisa jantungan.

Sedetik setelah Joni merencakan penggembokan ruangan Agatha, si empunya kembali keluar menampakkan batang hidungnya. “Guys, makan siang bareng.”

“Gue makan di sini aja. bawa bekal.” Jawab Wendi, seraya merapikan meja kerjanya. Massuk jam makan siang, dia berencana makan di mejanya karena sengaja membawa bekal dari rumah.

“Lo beli aja di kafetaria terus makan bareng. Lesehan di bawah juga nggak papa. Makan berempat, ada Joni sama Arga juga. Katanya bawa bekal juga.” Lanjutnya. Setelah melihat Agatha sepertinya ingin makan bersama.

“Oke. Soalnya mau ada yang gue omongin sama kalian.”

Usai membeli makanan di kafetaria, Agatha langsung menghampiri ketiga temannya yang sudah duduk melingkar dengan bekal masing-masing.

Kini mereka duduk berhadap-hadapan di lantai yang telah dilapisi karpet. Serasa lagi piknik, mana Wendy membawa bekal banyak, emak-emak rempong ini memang paling disiplin masalah makanan. Empat sehat lima sempurna selalu ada.

“Lucu ya kita, berasa lagi piknik. Wen, nanti gue bagi sayurnya.” Ucap Joni yang melihat sayur sop dengan isian ayam milik Wendi.

“Ambil aja Jon. Gue maklum sama yang belum nikah. Jadi jangan sampai kurang gaji.”

Joni memutar bola matanya malas, sementara Arga memicing.

***
Nina terus kepikiran laki-laki yang dia lihat tadi. Muncul rasa ingin bertemu kembali. Senyumnya mampu memikat Nina meski itu ditujukan bukan untuknya. Nina menatap pada spion kiri yang menampakkan wajah dirinya dan wajah Jungkook yang sedang fokus pada jalanan.

“Jungkook.” Panggil Nina di atas motor seraya mengeratkan pegangannya.

“Apa?” Sahut Jungkook.

“Apa yang lo rasain sewaktu jatuh cinta?” tanya Nina to the point.

Jungkook tidak langsung memberi jawaban, Nina bisa merasakan diagfragma Jungkook yang bergerak kasar. Menyadari bahwa menjawab pertanyaannya juga butuh oksigen yang banyak terbukti dari bagaimana sistem pernapasan Jungkook yang bergerak cepat.

“Deg-degan.” Jawab Jungkook singkat.

“Gimana?”

“Haha!” Sepeda motor Jungkook mendadak oleng, disusul tawa Jungkook yang menggelegar.

“Woy, hati-hati dong!” protes Nina.
Pergerakan motornya kembali stabil saat Jungkook berhenti tertawa. “Lo kenapa?”

“Kok nanya balik. Jawab dulu pertanyaan gue.” Protes Nina. Dia tidak terima, yang bertanya duluan adalah dirinya.

A MAN BEHIND METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang