Rencana

44 28 21
                                        

Agatha tengah sibuk memperhatikan layar komputernya, mencari informasi di berbagai situs tentang ‘gigolo’ untuk melancarkan aksi seperti yang disarankan Wendi.

Ya, Agatha memang gila.

Ide yang diberikan Wendi baginya sangat brilian, kenapa Agatha tidak berpikir sampai ke situ. Nina harus jatuh cinta untuk bisa menulis cerita romantis. Cara yang tepat memberikan dorongan menulis mengingat Nina cukup keras kepala dan cerdik. Nina perlu dipancing, dia perlu merasakan sendiri kondisi yang bisa mendukung tulisannya supaya hidup.

Ngomong-ngomong sudah satu jam lamanya Agatha mencari sampai matanya perih. Dia belum menemukan pria yang cocok--kebanyakan jamet. Agatha harus memberikan penawaran yang halus, dia tidak boleh sembarangan menjatuhkan pilihan.

Ding!

Tiba-tiba Agatha teringat sesuatu, dia menemukan cara lain untuk mendapatkan pria sewaannya. Mencari bala bantuan dengan sahabatnya, Seno. “Ah ya! Telpon Seno.”gumamnya.

 “Halo, Sen. Lo dimana? sibuk gak? Gue perlu ketemu.”

“...”

“Oke. Abis pulang kantor gue ke situ.”

Usai memutus sambungan, Agatha bisa bernapas lega. Rencana demi rencana mulai bermunculan di kepalanya. Jelas ini akan menjadi kejutan bagi Nina. Mungkin tindakan ini bagi sebagian orang terdengar gila tapi ini demi kebaikan Nina, demi masa depan adiknya. Agatha yang paling tahu bagaimana Nina, apa yang terbaik untuknya. Dia tersenyum penuh arti memandangi bingkai foto dirinya dan Nina di atas meja kerja.

“Welcome to New Journey Nina sayang.” Ucapnya senang.

***

“Akhirnya pulang juga.”
Nina merebahkan tubuhnya di atas kasur begitu sampai rumah. Bibirnya tidak berhenti tersenyum mengingat pria yang dia temui di halte.

Puk!

“Ah, Jungkook!” teriak Nina dan kembali melemparkan jaket kepada tersangkanya.

“Bisa robek bibir lo gara-gara senyum terus.” Ucap Jungkook. Dia ikut merebahkan diri di sisi Nina.

“Lo nggak suka liat sepupu lo bahagia.”

“Senyum lo serem tau gak kayak Joker.”

“Biyarin.”

Nina memutuskan untuk menghadapkan tubuhnya pada Jungkook yang masih terlentang. “Kook gue mau nanya lagi.”

“Hm...” Jawab Jungkook walau matanya terpejam.

“Kalau sesuatu atau pertemuan yang terjadi lebih dari dua kali itu kebetulan ya?”

“Sss ... Bisa jadi.” Mendengar pertanyaan Nina, Jungkook ikut menghadapkan tubuhnya.

“Ada filosofi tentang tingkatan buat sebuah kebetulan, katanya ya.”

“Apa tuh?” tanya Nina dengan antusias.

“Pertama dan kedua kali lihat lo akan menganggap itu sebuah kebetulan. Pas ketiga kalinya kita merasa bahwa ini bukan kebetulan.”

“Terus?”

“Kalau pertemuan itu terus berlanjut ke empat kalinya, pasti lo bakal merasa aneh dan ragu. Ke lima pasti lo bakal menganggap itu kesengajaan.”

“Terus gimana mastiinnya?”

“Ya, tinggal pastiin ke enamnya. Pertemuan itu akan jadi jawaban yang selama ini lo pertanyakan.”  

“Ah mitos kali ah. Gue ketemu lo terus.”

“Maksud gue buat orang asing. Eemm maybe make u feel something different.” Ucap Jungkook kemudian menoyor kepala Nina. “Kita dari orok udah ketemu sampe gue bosen. Gue nggak minta lo buat percaya.”

A MAN BEHIND METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang