Semua terkejut bukan main mendengar permintaan Bara yang ingin menikah. Terlalu tiba-tiba hingga Mama dan Papa Seno sempat tak percaya. Sejauh mengenal Bara, anak itu memang cenderung unik. Mereka tidak pernah mengetahui semua proses yang selalu dia lewati baik itu sekolah, pekerjaan tapi Bara selalu berhasil menyihir keduanya dengan hasil yang tidak pernah mengecewakan.
Dan rencana pernikahan ini, sungguh luar biasa. Akhirnya pertemuan Agatha dan Keluarga Seno terjadi, sepakat bertemu membicarakan niat keseriuan Bara. Lagi dan lagi keputusan ini diambil tanpa campur tangan Nina.
Semuanya setuju, niat baik tetap harus dilaksanakan. Ucapan dari Papa Seno adalah jawaban bagai ketuk palu tiga kali. Sesuai dengan diskusi yang sudah berjalan, Nina dan Bara akan menikah sebulan lagi.
****
Pagi-pagi sekali laki-laki itu sudah berkunjung ke kediaman Nina. Meski awalnya kesal, Agatha memperbolehkan Bara naik ke lantai dua menuju kamar Nina. Ada misi khusus yang harus dia selesaikan hari ini demi mencapai masa depannya.
Bara diam-diam masuk dengan mudah. Sungguh ceroboh sekali Nina, kamar perempuan itu tidak terkunci.
Kamar Nina masih gelap sebab gorden masih tertutup rapat. Pantas saja tidurnya terasa nyenyak, pikir Bara.
Dia menemukan Nina masih tertidur lelap sambil memeluk boneka kesayangannya.
Berjalan mendekat, munculah ide jahil di kepalanya, dengan hati-hati Bara ambil alih boneka dan menggantikan posisinya.
Nina tidak terusik sekalipun malah justru semakin merapatkan diri, sedang laki-laki itu cekikikan tanpa suara. Selama itu, mata Bara memperhatikan gadis yang sedang memeluknya.
Senyumnya terangkat, "sebenarnya apa yang gue lakuin, apa keputusan ini benar?"
Bara benar-benar tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba mengiyakan permintaan Nina. Entahlah, yang jelas dia menemukan sesuatu di mata Nina. Perasaan ingin melindungi.
Dia orang yang cukup realistis, pernikahan dengan seseorang yang baru dikenal? Apa bisa bertahan lama? Bahkan Bara belum sepenuhnya mengenal Nina.
"Waktu itu reaksinya menarik sekali." Gelinya, pikirannya melayang pada malam dimana Nina pura-pura mabuk dan bertahan saat dihujami ciuman olehnya. Rasanya ingin segera mengurungnya.
Bara tersenyum senang, mengelus puncak kepala Nina bagai kucing kesayangan. Hati-hati dan lembut seolah Nina adalah benda yang rapuh.
Entah sejak kapan, suara, mata serta senyum Nina mampu menenggelamkannya.
Saking gemasnya Bara justru lupa diri. Dia memeluk Nina terlampau erat sampai perempuan itu terbangun dan menjerit.
"Pagi calon istri, gimana tidurnya nyenyak?"
Nina menjauhkan diri hingga tersungkur ke belakang. "Lo udah gila ya?!"
"Apakah itu pertanyaan yang perlu gue jawab?" Taehyung justru santai dan menyanggahkan tubuhnya.
"Lo nggak bisa seenaknya masuk kamar gue!"
"Siapa suruh kamar nggak dikunci." Jawab Taehyung enteng.
Nina semakin marah, dia bangkit dan berjalan mendekat mengambil bantal acak dan membekap seluruh wajah Taehyung.
"Eemmm... emmm." Suara tidak jelas Taehyung meronta-ronta.
"Kayaknya gue cocok bikin novel thriller. Adegan ini bakal gue masukin."
Taehyung bergerak acak sementara Nina menahan sekuat tenaga. Sampai akhirnya Nina kalah, tenaga Taehyung sangat kuat.
"Lo mau bunuh gue?"
Kini posisi mereka terbalik, Taehyung mengurung tubuh Nina. Membuat gadis itu tidak mampu berkutik. Taehyung menatapnya dengan tajam, tangannya digenggam dengan erat.
"Nina... bangun." Teriak Jungkook.
"Eh, baru mau gue bangunin." Setelah kalimat itu terlontar, Jungkook baru menyadari kehadiran Taehyung dan posisi keduanya.
"Jungkook! Tolongin gue." Rengek Nina.
Mendengar rengekan Nina tatapan Taehyung semakin tajam.
"Sorry Nin. Ini waktunya ngga tepat. Gu-gue pergi dulu deh ya."
"Berhenti!" Perintah Taehyung. Ia bangkit dan berjalan menuju Jungkook yang masih terdiam di dekat pintu kamar Nina.
"Jadi, ini alasan kenapa kamar Nina ngga dikunci?"
Alis Jungkook berjengit menatap Nina di balik punggung Taehyung.
"Supaya lo bisa bangunin Nina?"
Jungkook mengangguk ragu, "In tu tugas dari Agatha buat bangunin Nina buat berangkat kuliah. Yah bener, soalnya Nina suka males kuliah."
Alasan yang logis untuk membujuk suasana hati Taehyung yang sepertinya cemburu. Terbukti tatapan Taehyung sangat tajam dan membuat Jungkook menciut.
Nina menepuk jidatnya, Jungkook amat mudah menjatuhkan harga dirinya.
"Yaudah karena Nina udah bangun. Gue pamit." Ucap Jungkook setenang mungkin.
"Mulai besok, berhenti masuk ke kamar Nina seenaknya."
Jungkook langsung mengangguk mantap mendengar suara Taehyung yang dingin. Dia ngacir begitu saja tanpa perlu kembali melihat ke belakang.
Kembali ke Nina, gadis itu tidak terima. "Siapa lo ngatur-ngatur gue. Berhenti bertindak seolah lo pemegang kendali hidup gue!" Ucap Nina berdiri di atas kasurnya. Menunjukkan betapa dirinyalah yang seharusnya berkuasa atas dirinya, bukan orang lain.
Taehyung menghela napas lelah, dia kembali berjalan mendekat dan mengangkat tubuh Nina dengan mudah bak karung beras. Sedangkan Nina meronta-ronta, "woy, lo ngga bisa seenaknya sama gue."
Taehyung tidak peduli dan membawa Nina masuk ke kamar mandi.
"Mandi." Taehyung menjatuhkan Nina di atas kloset.
"Hari ini kita ke rumah sakit jiwa buat ketemu ayah." Nina membeku mendengar kata ayah.
Taehyung mengusap kening Nina dan menciumnya. "Kita minta restu."
******
Setelah sekian abad, berani nulis lagi. Jujurly, aku amatlah tidak konsisten dan insecure sama tulisanku sendiri xoxo...
Tapi karena segelintir orang koment dan suka sama tulisanku. Aku bertahan hahaha. *lebayamat
Pokoknya ya~ karena kamu. Iya kamuuu hahahahah
Buat yang bingung antara bara dan taehyung. Mereka org yang sama, beda nama aja. Tumpengan dua nama. Hahaha authornya labil jadi kadng nulis taehyung kadang bara hahaha...
Dah lah capek
Selamat menikmatii. Yuk komen lagi gimana menurut kalian part ini
KAMU SEDANG MEMBACA
A MAN BEHIND ME
FanfictionKarenina prasetya adalah seorang adik yang dipaksa kakaknya untuk menjadi penulis novel romance. Minimnya pengalaman dan ketidak mauannya membuat Nina malas menuruti kehendak kakaknya. Namun perintah Agatha adalah hal yang mutlak. Segala cara dia l...
