Mulai dari 0?

32 4 3
                                        

Nina nggak pernah merasa sekalut ini menghadapi masalah. Benar kata orang, makin dewasa seseorang makin runyam urusannya.

Jujur, dia nggak mau repot memasukkan orang lain ke dalam kehidupannya selain Jungkook dan Agatha, dua orang itu saja kadang membuatnya pusing, apalagi ditambah satu orang yang belum jelas asal usulnya.

Semalaman Nina begadang memikirkan ucapannya pada Taehyung. Sesuatu yang harusnya tidak dia katakan. Taehyung kan jadi merasa makin unggul karena ucapan Nina kemarin.

"Oon banget si, ini juga mulut." Nina menabok mulutnya sendiri.

Nina paham sekali, kalau Taehyung sempat membuatnya terpesona pada pandangan pertama. Tapi dia nggak berfikir sampai sejauh ini, bahkan nggak pernah ada pikiran untuk telibat jauh ke jenjang yang serius. Just like ketika kamu lihat cowok ganteng, suka tapi kamu juga tidak berharap memilikinya. Sebatas itu.

"Sial! Ini semua gara-gara Agatha," keluh Nina. Dia menarik dan menghembuskan napas perlahan guna menenangkannya. Kalau sudah seperti ini, Nina harus bagaimana? Dia takut dan belum siap.

Namun ingatan tentang ucapan seorang motivator yang mengatakan semua hal bisa kita hadapi tergantung dengan pikiran kita. Baiklah, maka Nina akan mencoba membuat pikirannya jernih, putih, dan suci kembali.

"Lupain semuanya, anggap aja ngga ada apapun yang terjadi."

Dari pada otaknya makin melepuh. Nina memutuskan untuk pergi ke luar untuk mencari udara segar. Kemanapun asal nggak bertemu si biang masalah hidupnya.

****

Setengah jam melakukan persiapan, Nina turun untuk sarapan. Dia akan naik transportasi umum mengingat Jungkook sedang diboikot oleh Agatha dari hidupnya.

Dia mendengar suara ramai berasal dari meja makan. Keputusan Nina datang untuk sarapan salah besar, ada Taehyung, Seno dan Agatha sedang makan.

Kenapa akhir-akhir ini selalu ada mereka di hidup Nina.

"Pagi-pagi udah dateng aja si, heran deh." gumam Nina.

Tanpa pikir panjang, yang terpenting adalah kabur sebelum ketiganya mengetahui keberadaan Nina. Berjalan mengendap-endap seperti maling.

"Tunggu, biar aku yang anter."

Suara deep like ocean menyapa rungu Nina. Dia ketahuan!

Nina berbalik, "oh! Hai, udah have fun aja sama Agatha. Bisa kok pergi sendiri. Bye."

Nina ingin pergi begitu saja tapi jalannya dicegat. Taehyung berdiri di depan Nina, menjulang tinggi membuatnya mau tak mau menengadahkan kepalanya.

"Ada yang bisa saya bantu Kak?"

Dahi Taehyung mengkerut mendengar ucapan Nina yang asing. Tangannya langsung mengecek dahi Nina.

"Ngga panas kok."

"Aku sehat-sehat aja," ucap Nina sambil meringis.

"Udah ya aku duluan."

Baru beberapa langkah, tiba-tiba tubuh Nina melayang. Taehyung menggendongnya ala bridal style.
"Eh, turunin!"

Taehyung menggeleng.

"Kak, aku bisa jalan sendiri."

"Kakinya kan masih sakit."

Benar sih, dilihat dari manapun Nina berjalan pincang.

"It's oke. Aku-baik-baik aja. Ngerti kan" Nina menghela napas. Taehyung nggak menghiraukan ucapan Nina.

"Kak dengan sangat hormat tolong turunin aku. Aku bisa jalan sendiri," ucap Nina. Dia tetap berusaha tersenyum manis walaupun mulai gondok dengan sisi Taehyung yang pemaksa.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 29, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

A MAN BEHIND METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang