Partner

21 4 15
                                        

Jari Taehyung tidak berhenti mengetuk-ngetuk meja. Dia telah lama menunggu kehadiran Nina yang tak kunjung turun dari kamarnya.

Toleransinya sudah habis. Taehyung kembali menyusul calon istrinya itu. Tanpa permisi dia langsung masuk dan mendapati Nina melamun di depan cermin.

Tanpa memperdulikan Nina, Taehyung mengambil sisir dan merapihkan rambut gadis itu. Mengambil alih ikat rambut yang sedari tadi dimainkan Nina.

Bak benda mati, Nina hanya diam menurut. Setelah selesai, Taehyung berlutut di hadapan Nina, meraih tangan mungilnya.

"Tangan lo kecil banget. Liat tangan gue." Ucap Taehyung saat membandingkan kedua tangannya.

"Kalau lo takut, ngga perlu khawatir. Tangan ini punya kekuatan besar apalagi kalau disatukan seperti ini." Taehyung menggenggam erat Nina dan menautkan jari-jarinya.

"Ngga ada yang bisa ngalahin kekuatan kita kalau kayak gini."

Nina tidak menanggapi apapun, keduanya terjebak dalam keheningan. Detak jantung masing-masinglah yang terdengar kencang. Meski tak tahu banyak mengenai Nina, Taehyung agaknya mengetahui seberapa takut Nina.

"Gimana? Udah siap?" Tanya Taehyung.

Nina mengangguk ragu.

***

Nina tidak punya keberanian saat menemui ayahnya. Nyalinya selalu menciut. Apalagi yang dia harapkan pada pertemuan kali ini. Ayahnya tidak akan bisa berubah. Dia bukanlah putri yang diinginkan.

Hari ini cuaca cerah, namun tidak mampu mengubah perasaan Nina yang kelabu.

Di sepanjang perjalanan, Nina hanya diam menatap lalu lalang kendaraan. Hal ini membuat suasana di mobil menjadi canggung. Taehyung tidak suka bagian ini, dia bertanya-tanya kenapa dia tidak bisa mencairkan suasana padahal biasanya dia yang paling ahli dalam memahami wanita.

Apa ya, Nina masih terlalu abu-abu baginya. Atau karena selama ini Taehyung hanya menangani wanita yang tertarik dengan dirinya sehingga semuanya terasa mudah. Lalu bagaimana dengan Nina? Apakah dia tidak menarik di mata Nina.

Lampu merah membuat mobil mereka berhenti. Taehyung tampak mencari sesuatu dengan grasak-grusuk membuat atensi Nina teralihkan. Taehyung juga mencari-cari benda itu sampai ke kursi Nina dan membuat wanita itu tidak nyaman dan bertanya-tanya.

"Lo nyari apaan si?"

"Nyari baut."

"Baut apa?!" Tanya Nina kesal. Masalahnya Taehyung benar-benar mengobrak abrik tempat duduknya. Di belakang Nina di depan hingga jarak mereka terlalu dekat.

Nina memegang tangan Taehyung, "Taehyung! Lo cari apa?!" Bentaknya.

Kepala Taehyung yang menunduk lantas menangadah, posisi ini wajah mereka menjadi dekat.

"Gue nyari baut, kayaknya baut lo ada yang ilang dari tadi ngga bersuara. Tapi  ternyata cuma kendor."

Mata Nina membola mendengar kalimat yang dilontarkan Taehyung.

"Dasar Taehyung...

Taehyung gila!!!"

DUAKKKK

Nina membenturkan dahinya dengan dahi Taehyung, amat kencang.

"Gila! Apa yang lo lakuin." Taehyung mengusap-usap dahinya.

Mata Nina jadi berair, perasaannya sudah sedih, ditambah dahinya yang sakit. Kenapa pula dia berbuat demikian.

Pertengkaran itu akan berlanjut, hanya saja gagal dikarenakan suara klakson mobil di belakang mereka. Lampu sudah berwarna hijau.

Taehyung langsung melajukan mobil melanjutkan perjalanan mereka.

A MAN BEHIND METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang