9. teman hujan (end)

15 6 0
                                    

"Tala udah dijemput malaikat maut," ujar Maradela.

"Dia pernah bilang, kalau dia bakalan dijemput setelah teman SMP nya yang buat hidup dia hancur mati. Kayaknya hari yang Tala tunggu selama ini datang hari ini, akhirnya dia bisa dijemput malaikat maut buat pergi ke alamnya. Setelah hari ini dia nggak bisa ketemu lo ataupun gue disini." Jelas Maradela.

"Dia memang nggak bisa kesini lagi, tapi bukan berarti gue nggak bisa nemuin dia," ucap Dewangga dengan tertawa lirih.

Maradela terkesiap mendengar ucapan Dewangga, ia ingin membuka suara tapi cowok di hadapannya beranjak dari kursi.

"Maradela, makasih udah mau ngasih tau gue soal Diwatala, gue nggak bisa nunggu lagi kayak orang bodoh buat beberapa tahun kedepan. Gue harap hidup lo bakal berjalan baik kedepannya." Dewangga meninggalkan cafe.

Maradela tidak mampu meraih tangan Dewangga dan mengatakan kepadanya untuk tetap tinggal, sulit baginya untuk menahan cowok itu pergi karena ia sendiri melihat sekilas alur hidup Dewangga, masa depannya pun sulit dilihat tipikal orang yang tidak lagi ingin memperjuangkan hidupnya, Maradela hanya pasrah tidak berani ikut campur dan menjadi sosok sok pahlawan bagi Dewangga karena cowok itu tampak tidak ingin diajak negoisasi perihal memilih hidup baru. Seperti Dewangga sendiri tahu mau mati hari ini atau menunggu usianya habis akan sama saja, masa hidupnya memang sudah singkat.

Sepatu hitam Dewangga beradu dengan aspal, kakinya terus menuntun tubuhnya berjalan menuju sekolah yang sudah tertutup rapat gerbangnya, rintik gerimis mengiringi langkah kaki yang siap melompati pagar, tangan kanannya menahan tangan kirinya yang berdarah begitu berhasil jatuh dari pagar, darah dari telapak tangannya menetes akibat dari besi pagar yang merobek sedikit kulit telapak tangannya.

Hujan mulai turun cukup lebat meleburkan tetesan air mata di pipi, napasnya tidak lagi teratur saat dirinya berhadapan dengan pintu rooftop yang sering ia datangi belakangan ini. Ia mendobrak pintu dengan bantuan kursi tak terpakai disekitar lorong menuju atap gedung, begitu pintu terbuka dengan suara reyotan pintu yang hapir lepas dari tempatnya.

"Niskala!" teriak Dewangga memecah hujan.

"Bukan," Kekehnya, "Diwatala! Kenapa lo pergi sejauh itu?" tanyanya dengan nafas tersengal-sengal.

"KENAPA LO NGGAK NGAJAK GUE?!" teriaknya.

"KENAPA SEMUA ORANG PERGI BUAT KETENANGAN, KEBAHAGIAAN MEREKA SENDIRI DAN NGELUPAIN GUE??"

Isakan pilu menjadi jeda dari keluh kesah dan teriakannya. "Mama pergi, lo pergi, ayah lebih milih keluarga baru dari pada gue sama mama. Bunuh mama dan nyebarin berita kematian dengan alasan 'sakit kronis' biar nama baiknya sebagai gubernur nggak rusak, kenapa nggak pernah ada yang berjalan lancar dihidup gue?" kesalnya.

"ARGH!! SIAL!!" umpatnya dengan melempar tas ransel yang sedari tadi ia seret.

Dewangga memukul dadanya yang sesak berkali-kali, ia menjambak rambutnya sendiri, kakinya yang lemas tak lagi mampu menjadi tumpuan berdiri menjatuhkannya dipermukaan beton, kepalan tangan itu menghantam beton dibawahnya berkali-kali dengan isak tangis serta air hujan yang memecah sepi malam. Dewangga melempar tubuhnya pada permukaan beton rooftop membiarkan air hujan menghapus jejak air matanya, darah dari telapak tangannya ikut merembes terbasuh air hujan.

Dewangga meracau dengan suara serak, "Kenapa gue satu-satunya yang nggak bahagia?"

"Ma, aku kangen mama. Maaf, aku selalu bandel kalau dipanggil, belum bisa bikin mama bangga. Maaf karena aku yang belum pernah punya pencapaian apapun dan bikin mama setiap ketemu temen jadi nggak punya cerita yang bisa dibanggain dari aku, semua temen mama selalu cerita banggain anaknya, tapi mama cuma bisa diam, kadang mama juga disindir gara-gara nggak punya cerita bagus tentang aku." Dewangga terbatuk, menelan beberapa tetes air hujan.

"Kala," ucapnya memanggil Diwatala dengan nama Niskala, nama yang terasa lebih dekat dilidahnya, karena Diwatala mengenalkan dirinya dengan nama Niskala.

"Gue minta maaf." Dewangga menengguk ludahnya yang terasa mencekik tenggorokan, "Gue nggak bisa nunggu buat ketemu lo lebih lama lagi, maaf udah bohong kalau gue sanggup nunggu lo. Gue udah nggak sanggup lagi, gue pengen ketemu lo sama mama, gue harap lo mau nemuin gue disana." Ia menegakkan punggungnya, susah payah ia berdiri dengan rasa nyeri di hati yang mencekik tenggorokannya, ia berjalan terseok-seok mengikis jarak dengan tepi gedung.

Pandangannya mengabur terbasuh air hujan kala netranya menatap gumpalan awan hitam yang menyembunyikan bumantala dibaliknya, ia ingin pergi sejauh mungkin berharap segera menemui mimpi indah yang ia damba sejak lama, yang baru saja berani ia temui malam ini. Kelopak matanya terkatup, tubuhnya ikut jatuh dengan derai hujan, seketika sesak dan kekhawatiran di dadanya berkumpul menjadi satu mencekik leher, degup jantungnya berpacu secepat tubuhnya yang kian dekat dengan permukaan bumi.

Telinganya mendengar dengungan kuat kala kepalanya bertubrukan dengan tanah, seluruh tubuhnya terasa kebas dan berdenyut kencang, air hujan masih setia berjatuhan seolah memberi tahu Dewangga jika ia tidak jatuh sendirian, air matanya yang mengalir kini berhenti seiring dengan udara yang tak lagi masuk ke rongga paru-parunya.

Dalam ruangan hangat itu matanya menelisik sekitar

Mencari dimana pemilik rumah yang ia tempati tanpa permisi

Netranya melayangkan pandang pada cermin, mendapati diri yang penuh memar

Mendapati hati yang terang berdenyar, dan tangan kanan dengan anyelir merah jambu

Ibu

Kata yang pertama kali terlintas dalam benak

Hatinya berdenyar begitu aroma lavender menyapa

Seorang perempuan yang masuk melalui pintu membuatnya membatu

Seketika air matanya keluar tanpa permisi

Ia bergerak mendekat dan meraih tangan perempuan dihadapannya

Wajahnya yang manis tersenyum, membawa Dewangga dalam pelukan haru

"Mama tetap menyayangi kamu yang biasanya," ucapnya setulus hati

Isak tangis memenuhi ruangan yang semula bisu

Melepas rindu yang selama beberapa tahun hanya menggoreskan pilu

END

Beautiful TragicTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang