4. panggilan

12 6 0
                                    

Layar handphone Dewangga menyala memperlihatkan nama ayahnya yang membuat panggilan, tangannya bergetar mencoba meraih handphone.

"Dewangga," panggil ayahnya.

"Kenapa?" Dewangga mendengus sembari menjawab.

"Gimana kabar kamu? Ayah harap kamu baik-baik saja," ucapnya.

Dewangga terkekeh mendengar harapan ayahnya, sejak kapan ia baik-baik saja setelah hari itu? Dia bahkan kesulitan bernapas lega setiap harinya.

"Ayah sama keluarga selalu nunggu kamu buat tinggal disini, ayah sayang sama kamu-"

"Bohong," sangkal Dewangga.

"Kalau ayah sayang sama aku, kenapa ayah bunuh ibu? Kenapa ayah ninggalin ibu buat selingkuhan ayah? Ayah kira anak ayah ini nggak tahu?" geram Dewangga tangannya mengepal menahan amarah.

"DEWANGGA!"

"Apa?!! Kaget? Dewangga nggak bodoh, selama ini ibu selalu hidup sehat, jadi istri yang baik, bahkan beberapa hari sebelum meninggal ibu masih sehat, apa mungkin tiba-tiba meninggal karena sakit?!" jelas Dewangga.

"Kamu kenapa jadi kurang ajar begini?! Ayah nggak pernah melakukan semua hal yang kamu tuduhkan-" elak ayahnya.

"Aku tahu, yah. Aku tahu kalau selama ini ayah punya selingkuan, ayah kira siapa yang selalu hapus sama blokir chat ayah sama selingkuhan ayah? Ibu? Padalah aku udah berkali-kali ngelakuin itu buat kasih ayah kesempatan tetep ada disamping ibu, tapi ternyata ayah emang udah kayak sampah, ayah tetep milih selingkuhan ayah. Ayah pikir siapa yang mau hidup sama pembunuh? Perusak rumah tangga orang lain?" ucap Dewangga.

"AARGH!! PRANK!!" teriak Dewangga melempar gelas disampingnya kemudian mengakhiri panggilan tanpa sempat mendapat sahutan dari ayahnya.

Semua kenangan manis mengabur

Berubah menjadi rasa sakit yang mengubur

Jika saja saat itu keberanian menjeritkan kata paksa

Mungkin saja, ia masih bernapas dengan lega

Dengan perempuan berhati lembut yang masih bersamanya

Melihatnya berjuang mempertahankan hidup yang tak lagi sempurna bagi mereka

Ia bahkan merasa jijik mendengar suara ayahnya, tapi di sisi lain ia berharap laki-laki itu menyesali pilihannya, walau sejauh ini harapannya masih terlihat abu-abu karena ayahnya yang masih merasa bahagia dengan pilihannya.

Beautiful TragicTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang