Tidak ingin membuat Renan risih dengan terus mematung di balik kamar mandi, Ravin memilih untuk segera menuju dapur. Di sana, ia melihat Bundanya sedang memasak sarapan untuk mereka. Entah masak apa, Ravin belum tahu. Setiap pagi Bunda selalu menyajikan sesuatu yang sederhana namun penuh perhatian. Setelah memasak, biasanya Bunda akan pergi bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah orang. Sudah bertahun-tahun Bunda bekerja sebagai ART, tetapi Ravin sendiri masih belum tahu pekerjaan Bunda yang sebenarnya.
"Bun," panggil Ravin.
Bundanya menoleh, senyumnya merekah. "Udah mandi? Ganteng banget sih anak Bunda," ujarnya sambil terkekeh.
Ravin tersenyum manis. "Bunda masak apa? Sini Ravin bantu ya!" Ia celingukan mencari sesuatu yang bisa dibantu.
"Rahasia! Ravin gak usah bantu, ya. Semuanya udah Bunda kerjain kok." Tangan Bundanya mengusap rambut Ravin dengan tatapan haru. "Bunda gak nyangka kamu sama Renan sudah sebesar ini."
"Ravin harus cepat dewasa, Bun. Supaya bisa cari uang banyak buat Bunda," ujar Ravin, merasa sedikit canggung.
"Maafin Bunda ya," kata Bundanya dengan suara pelan.
"Bunda gak perlu minta maaf. Ini bukan salah Bunda."
"Andai Bunda punya banyak uang, kamu gak harus kerja," kata Bundanya, tatapan sedih di matanya tak bisa disembunyikan.
"Bunda jangan sedih. Ini semua kan Ravin yang mau. Selama Ravin bisa bantu Bunda, Ravin senang kok."
"Bun, mana makanannya?" suara Renan memotong percakapan mereka.
Ravin dan Bundanya menoleh. Renan sudah duduk dengan ekspresi bosan di meja makan, menatap mereka seperti menonton drama.
"Iya, ini lagi Bunda siapin," jawab Bundanya dengan sabar.
Ravin membantu Bunda menyiapkan sarapan mereka. Ternyata menu sarapan hari ini adalah nasi goreng dengan telur dadar. Makanan sederhana, tapi terasa istimewa karena dimakan bersama orang yang disayang.
Renan mendelik melihat sarapan yang tersaji. "Tiap hari makan nasi goreng terus sama telur. Aku bosen Bun," dengusnya.
"Nanti Bunda usahain masak ayam opor kesukaan kamu," jawab Bundanya, mencoba menenangkan.
"Dari kemarin Bunda selalu ngomong gitu," Renan berdiri dan meraih tasnya. "Tapi kenyataannya cuma ngibul."
"Renan, gak boleh ngomong gitu ke Bunda."
"Berisik!" Renan menoleh dengan tatapan tajam. "Mana uang jajan?"
Ravin melihat Bundanya memberikan uang berwarna biru dengan raut sedih. Dia merasa tak tega melihat ibunya begitu, tapi di dalam dirinya ada tekad untuk bekerja lebih keras agar tidak membuat Bunda sedih lagi.
"Apaan nih? Masa cuma 50 ribu! Mana cukup!" Renan membuang muka, terlihat kecewa.
"Cuma itu yang Bunda punya, Renan." Tatapan Bundanya yang penuh penyesalan membuat Ravin membuang muka, merasa tak tega.
"Kalau aja Bunda sama Mas Ravin gak keras kepala, kita gak bakal miskin kayak gini! Ini semua salah kalian!" teriak Renan.
Kata-kata itu melukai Ravin. Tidak masalah jika Renan berkata begitu padanya, tapi tidak pada Bunda.
"Maksudmu apa ngomong kayak gitu?" Ravin berdiri, menantang adiknya yang lebih tinggi. "Kamu udah kelas 9 SMP, bukannya dewasa malah semakin kekanakan."
"Bacot!" bentak Renan sambil membanting pintu dengan keras. Suara motor satu-satunya yang mereka miliki mulai terdengar menjauh.
Ravin menatap Bunda yang terlihat sedih. Hatinya terasa sesak. Dia tidak ingin melihat Bunda dalam keadaan seperti ini. Tanpa berpikir panjang, Ravin mendekat dan memeluk Bunda.
KAMU SEDANG MEMBACA
[1] Kang Begal (REMAKE)
Teen FictionDingin? Jutek? Sinis? Atau lebih tepatnya, apatis. Satu kata itu seakan dirancang khusus untuk Ravindra Adiwijaya. Laki-laki berwajah manis dengan segala kepalsuannya, selalu bersembunyi di balik topeng kokoh yang ia bangun sendiri. Topeng yang dira...
![[1] Kang Begal (REMAKE)](https://img.wattpad.com/cover/290568546-64-k373209.jpg)