[9] Langkah Awal

13.5K 2K 79
                                        

Satya melemparkan seragamnya ke sofa, lalu menatap Ravin dengan senyum penuh arti. Setelahnya berjalan ke arah sebuah lemari yang kemudian dibuka, menampilkan deretan seragam yang masih bersih. "Santai, Ay. Gue cuma mau ngobrol bentar. Lo gak usah tegang gitu."

Ravin memutar bola matanya, tidak terkesan. "Gue sibuk. Kalau gak penting, gue pergi, dan stop manggil gue dengan sebutan 'Ay' gue bukan ayang lo!"

Satya tertawa sedikit lebih keras. Ia berjalan mendekat sambil mengancingkan kemeja putihnya, lalu duduk di sofa yang sama dengan Ravin, menjaga jarak namun tetap cukup dekat untuk membuat Ravin sedikit tidak nyaman.

"Gue gak bakal gigit kok, Ay," ucap Satya terkekeh melihat Ravin yang sedikit menjauh.

Ravin menoleh, menatap Satya dengan tatapan dingin yang biasa ia pakai untuk mengusir orang. Tapi, seperti sebelumnya, Satya tetap tidak terpengaruh. Malah ia bersandar santai sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk.

"Jadi gini," Satya memulai dengan nada yang lebih serius. "Gue tau lo gak suka sama gue, atau sama geng gue. Tapi gue pengen kasih tau lo satu hal: gue gak nyari masalah sama lo. Gue serius beneran naksir lo."

"Terus?" Ravin menyela, masih dengan nada datar. "Kalau itu alasan lo manggil gue, lo buang-buang waktu."

Satya mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap Ravin dengan serius. "Lo pernah denger Ethereal kan? Pasti banyak rumor buruk yang sampe ke telinga lo."

Ravin hanya mengangguk kecil, tidak berniat menyangkal.

"Ya... gue gak akan bilang itu semua bohong. Tapi gue juga gak akan bilang itu sepenuhnya benar," lanjut Satya. "Kami gak akan bunuh orang sembarangan, kok."

"Tapi ketuanya suka ngancem orang," sindir Ravin tajam.

Satya terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Nah. Oke, itu emang gaya gue. Tapi serius, Ravin, gue cuma pengen kenal lo lebih deket."

Ucapan itu membuat Ravin tertegun, meski ia tidak menunjukkannya. Lagi-lagi, Satya melontarkan pernyataan yang tidak terduga. "Kenapa harus gue?" tanyanya, kali ini suaranya lebih pelan.

Satya menatap Ravin dengan tatapan yang sulit diartikan. "Karena lo beda, Ay. Lo gak takut jadi diri lo sendiri, bahkan lo seolah punya dunia lo sendiri. Temen-temen lo, tau siapa gue, tapi, lo sama sekali gak tau. Menurut gue itu sesuatu yang gak bisa gue liat ada di diri orang lain."

Ravin menatap Satya tajam, mencoba mencari celah kebohongan di balik kata-katanya. Tapi, lagi-lagi ia hanya menemukan kejujuran yang membuatnya bingung.

"Gue udah suka sama lo dari masa MPLS, tapi, sayangnya gue terlalu pengecut buat deketin lo. Lo gak harus percaya sekarang," tambah Satya sambil berdiri. Ia berjalan ke arah meja kecil di sudut ruangan, mengambil sebuah kotak kecil, lalu menyerahkannya pada Ravin. "Ini buat lo. Anggap aja tanda niat baik gue."

Ravin menatap kotak itu dengan curiga. "Hm?"

"Buka aja," jawab Satya, senyum miring kembali menghiasi wajahnya. "Gue gak taruh hal aneh di situ kok."

Ravin mengambil kotak itu dengan hati-hati. Ketika ia membuka tutupnya, ia menemukan sebuah kalung sederhana yang terbuat dari perak, dengan liontin kecil berbentuk lingkaran yang terukir simbol aneh.

"Apa maksudnya ini?" Ravin bertanya, mengangkat kalung itu dengan alis terangkat.

"Itu simbol Ethereal," jawab Satya. "Disclaimer, gue ngasih lo bukan buat ngajak lo gabung, tapi lebih kayak... pelindung. Kalau lo pake itu, gak ada anggota Ethereal yang bakal macem-macem sama lo, karena kalung itu punya gue, yang artinya dengan lo pakai kalung itu, sama aja dengan jadi ketua Ethereal."

[1] Kang Begal (REMAKE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang