[3] Self-harm

1.6K 179 0
                                        

Sinar matahari di pagi hari menembus jendela sebuah kamar yang terlihat rapi. Di dekat kasur berdiri lemari baju yang terlihat rapuh, namun masih berdiri tegak di sudut kamar yang terlihat kecil itu. Di sebelahnya terdapat sebuah meja belajar berisi beberapa buku yang tampak berantakan seolah-olah tidak pernah dirapihkan.

Sebuah jam terus berdenting di dinding yang berwarna biru langit, menunjukkan pukul 6 pagi lewat beberapa menit.

Di luar, matahari sudah terbangun, siap menaiki tahtanya. Suara ayam telah berkokok sedari beberapa puluh menit yang lalu. Tetapi si empunya kamar masih tertidur pulas saking lelahnya.

Kasur yang ada di dalam kamar itu di isi oleh dua anak remaja laki-laki. Mereka terlihat damai dalam tidurnya. Seolah-olah tidak ada beban.

Kakak adik itu terpaksa tidur dalam satu kamar. Di rumah itu hanya ada dua kamar, satu untuk bundanya dan satu lagi untuk mereka berdua. Jika dilihat secara sekilas, orang-orang akan beranggapan bahwa mereka adalah kakak adik yang sangat akur. Kenyataannya tidak seperti itu. Sang adik sangat membenci kakaknya, seperti dia membenci sosok Ayah yang menelantarkannya.

Sang kakak merupakan seorang pemuda yang menjadi tulang punggung sebuah keluarga kecil sejak masih SMP. Dunia yang kejam membangun seorang Ravindra menjadi sesosok manusia apatis. Tidak mudah bergaul, terkesan dingin dan menjauhkan diri dari teman sebayanya.

Yang pemuda itu miliki hanya dua sosok sahabat yang mengerti kepribadiannya. Selvian Dirgantara dan Miselia Putri. Dia tak butuh siapapun, hanya dengan mereka berdua dia merasa lebih dari cukup. Mereka layaknya matahari yang selalu memberinya cahaya tiap hari di kala hari-harinya begitu buruk.

Sebuah ketukan di pintu memecahkan keheningan di kamar itu. Remaja yang lebih tua membuka matanya. Melirik sekilas ke arah jam dinding yang menggantung di ujung sana. Dia masih punya waktu sekitar 1 jam lebih.

Dengan tergesa-gesa remaja itu mengambil handuk yang menggantung. Tak lupa dia membawa seragamnya. Karena di rumah kecil ini tak ada kamar mandi di dalam kamar. Kamar mandi cuma ada satu dan itu pun di dekat dapur.

"Ravin? Renan?"

"Iya Bun, aku udah bangun," sahut Ravin sambil berjalan ke arah pintu mengabaikan rasa sakit di kakinya akibat kejadian kemarin malam, lalu segera membuka pintu kamar yang ada dihadapannya.

"Renan belum bangun?" tanya wanita berumur 40an tahun itu. Di usianya yang segitu wanita itu tetap terlihat sangat cantik meskipun dibalut sebuah daster yang terlihat lusuh. Wajahnya terlihat sangat cantik dengan sorot kehidupan yang besar. Senyum senantiasa selalu hadir di bibirnya yang alami tanpa polesan apapun.

"Masih tidur dia Bun." Ravin tersenyum manis. Tidak ada Ravin yang dingin. Di rumah ini Ravin selalu memasang senyumnya yang manis. Di dedikasikan untuk bundanya yang sangat cantik. "Aku mandi duluan ya Bun, Renan kalau mandi lama."

Ravin menghela napas lelah. Di dalam kamar mandi kecil ini, remaja itu memandang pantulannya di cermin kecil. Wajahnya menyiratkan banyak masalah. Tatapan datar muncul di matanya yang sebiru langit. Mata yang diwarisi oleh sosok bajingan itu. Tiap kali dia melihat mata ini semakin Ravin merasa hina karena terlahir dari bibitnya.

Remaja laki-laki itu merasa tubuhnya kotor. Orang selalu bilang, buah tak jauh dari pohonnya. Demi apapun, hal itu membuatnya takut menjalin sebuah hubungan. Meski hanya hubungan pertemanan. Dia merasa sangat takut.

Mereka bilang wajahnya tampan, tapi dia merasa tidak senang dengan wajahnya ini. Meski kemiripan dengan sosok itu tidak banyak, tetap saja matanya yang berwarna biru adalah bukti hasil dari bibitnya. Ravin sangat membenci sosok itu.

Helaan napas terdengar dari remaja itu. Dia lelah memainkan dua peran yang berlawanan. Remaja itu sangat menyayangi bundanya, dia tidak mau membuat bundanya khawatir jika dia memasang wajah datarnya. Jadi, mau tidak mau dia harus menjadi orang yang munafik. Membohongi orang-orang, termasuk dirinya sendiri.

Ravin merasa sangat penat akhir-akhir ini. Selain tugas sekolah yang semakin membludak, masalah-masalah lain membuat kepalanya sakit.

Matanya memejam merasakan sesak di dadanya. Rasa sakit di kepalanya dia abaikan. Remaja itu mengambil sebuah cutter di kantong celananya. Menggoreskan benda tajam itu ke pergelangan tangannya. Mengatasi rasa sakit psikis dengan rasa sakit fisik. Wajahnya kembali datar saat melihat darah keluar dari pergelangan tangan putihnya.

Manik birunya menatap datar darah yang terus mengalir. Tubuh polosnya yang menempel di dinding, merosot dan terduduk di atas keramik. Pandangan kosong bak pecandu narkoba terpantul pada wajahnya. Begitu kosong layaknya kehilangan jiwanya.

Dari sekian banyak masalah, yang membuat energinya tersedot habis adalah kejadian semalam. Bukan karena begalnya, tapi karena sosok yang mengaku bernama Satya itu.

Jika memakai logika, memangnya ada cowok normal yang merasa baik-baik saja ketika dipaksa menjadi pacar dari seorang yang berjenis kelamin sama? Sepertinya tidak ada, kecuali cowok itu akalnya agak miring.

Ravin tidak habis pikir, bisa disukai oleh cowok yang bahkan tak pernah Ravin lihat. Dia sama sekali tidak kenal Satya. Tapi, bagaimana Satya bisa mengenalnya? Apakah benar Satya menyukainya? Atau hanya sebuah permainan?

Ravin menghembuskan napas depresi. Menjambak rambutnya dengan kasar hingga beberapa helai rambutnya putus. Rasa sakit yang adiktif itu terasa menenangkan.

"Ravin jangan lama-lama, adikmu juga mau mandi."

Suara Bundanya menyentak Ravin kembali ke dunianya. Dengan terburu-buru dia mencuci cutter itu lalu memasukannya ke dalam kantung celananya.

"Iya Bun, bentar lagi selesai kok."

Secepat kilat remaja itu melakukan ritual mandi. Memakai sabun, shampoo, dan menyikat giginya. Semua itu dilakukan tidak lebih dari lima menit. Genangan darah di lantai kamar mandi sudah hilang terbawa arus air.

Ravin mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Tidak lupa dia memakai seragam yang dia bawa, lalu memakai sebuah jam tangan yang menutupi luka di pergelangan tangannya itu.

Tanpa membutuhkan waktu yang lama dia keluar dari kamar mandi dengan seragamnya yang lengkap. Di luar kamar mandi sudah berdiri menjulang sosok yang lebih tinggi darinya.

"Ck! Lama banget lo udah kayak cewek!" sentaknya.

Sosok itu adalah Renan, adiknya. Jika melihat Renan, dia selalu teringat dengan sosok yang dulu selalu dia sebut Ayah. Karena Renan terlihat sangat mirip dengan sang Ayah. Sayangnya sosok bajingan yang dulu dia sebut sebagai Ayah itu tengah bahagia dengan selingkuhannya. Menjalin sebuah pernikahan baru tanpa mempedulikan kedua anaknya yang sudah remaja.

Tatapan keduanya saling bertemu. Ravin bisa melihatnya. Sorot kebencian di mata adiknya. Dia tahu Renan sangat membencinya dengan alasan yang tidak dia ketahui. Pernah suatu waktu dia bertanya mengenai alasan kenapa Renan membencinya, tetapi adiknya itu hanya diam dengan matanya yang menatap tajam penuh sorot kebencian.

"Minggir bego! Gue mau lewat!"

Ravin merasakan bahunya yang ditabrak dengan keras oleh adiknya. Sedikit terasa sakit, namun dia abaikan. Matanya mengikuti pergerakan Renan, sampai suara keras terdengar di telinganya ketika Renan menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras.

Ravin mematung dengan sendu, dulu Renan tidak seperti ini. Renan yang dulu sangatlah dekat dengannya. Tapi, kini sosok Renan yang manis sudah hilang digantikan oleh sosok Renan yang berandalan.

"Sorry," gumam Ravin pelan.

***

Ada yang inget nama Bundanya Ravin gak??

[1] Kang Begal (REMAKE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang