[5] Selvian Dirgantara

14.6K 2.1K 50
                                        

Sorry baru update, kemarin hp gue rusak lcdnya, mati total :)

***

Saat itu matahari tengah bersinar terang di langit, namun suasana di dalam hati Satya begitu gelap. Kekesalannya masih membekas bersamaan dengan langkah-langkahnya yang terhentak.

Di sampingnya, Ravin tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah kaki Satya, karena tangannya dicengkeram begitu erat; diseret entah menuju ke mana tanpa sepatah kata.

"Masih pagi, tapi guru sialan itu bikin gue kesel!" sungut Satya dengan wajah yang penuh kerut dan kesal. Suaranya yang terdengar seperti sedang membentak menciptakan dentuman di udara yang hening. "Sebagai ketua dari Ethereal, gue bakalan bikin tuh guru nyesel udah ngehina lo Rav. Lo bisa pegang kata-kata gue."

Ravin hanya mendengus pelan, seperti merespon tanpa benar-benar mendengarkan. Langkah mereka berdua seakan-akan membentuk melodi yang aneh, di mana satu pihak sedang menyuarakan kekesalannya dan yang lainnya sibuk dengan dunianya sendiri.

"Lo dengerin gue, 'kan?" tanya Satya menghentikan langkahnya, menatap Ravin dalam.

Ravin hanya menjawab dengan anggukan seolah-olah mengiyakan pertanyaan Satya, meskipun esensi acuan itu mungkin hilang di dalam kepalanya yang tengah terbang di awan-awan.

Satya tersenyum, "Good!" ucapnya sambil menoleh ke kelas yang di sampingnya.

"Ini kelas lo, 'kan?" tanya Satya sambil memperhatikan kegiatan belajar mengajar yang terjadi di dalam ruangan itu.

Ravin yang sepanjang jalan tadi sibuk dengan dunianya sendiri tidak sadar kalau Satya ternyata mengantarnya ke kelas, sedikit bingung. Untuk apa pemuda itu mengantarnya?

"Ayo, anggap aja ini sebagai bentuk tanggung jawab gue karena udah buat lo telat," ujar Satya sambil menarik tangan Ravin, membawanya ke depan pintu kelas.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk."

Beberapa pasang mata menatap ke arah pintu yang terbuka, di mana Ravin yang berjalan memasuki ruang kelasnya dengan tangan yang dipegang erat oleh cowok paling populer di sekolah ini. Hal itu menimbulkan berbagai macam ekspresi, ada yang terkejut, heran, bingung, dan berbagai ekspresi lainnya.

Satya berdiri di hadapan guru tersebut dengan penuh percaya diri. Matanya yang setajam elang memindai seisi kelas dengan raut dingin.

"Eh Ravin? Tumben sekali kamu telat, ini yang pertama kalinya kan?" tanya guru fisika itu sambil tersenyum. "Dan Satya, ada apa ini?"

"Tidak ada apa-apa, saya cuma mau mengembalikan Ravin ke kelasnya. Saya harap, Ibu tidak memberikannya hukuman." Satya tersenyum ramah, namun siapa pun tahu kalau ada ancaman dibalik kata-kata yang terdengar sopan itu.

"Ibu gak akan nanya kenapa kamu bisa telat, kamu bisa duduk di kursimu Ravin." Guru itu kemudian menatap Satya. "Dan Ibu gak akan memberikan Ravin hukuman, karena ini pertama kalinya dia telat."

Satya mengangguk dengan puas. Lalu netranya beralih ke arah Ravin yang sedari tadi mematung dengan pasrah. "Gue balik dulu ke kelas," ucapnya sambil mengacak-acak rambut Ravin, lalu langsung berbalik keluar kelas tanpa berpamitan atau berterimakasih pada Guru yang tengah memberikan keringanan.

Di tengah suasana yang hening itu, Guru tersebut segera memberi instruksi kepada Ravin agar segera duduk di kursinya.

Segera saja remaja itu berjalan ke arah kursinya. Di kursi sebelahnya sudah terisi sesosok remaja yang kini tengah memberikan cengiran bodoh khasnya. Selvian atau yang sering Ravin panggil Vian itu memang selalu satu kelas dan satu meja dengan Ravin, bahkan sejak TK. Seolah-olah mereka sudah sehidup semati.

[1] Kang Begal (REMAKE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang