[7] Anggota Ethereal

14.7K 2.1K 203
                                        

"Urusan apa yang lo maksud?" tanya Ravin tanpa basa-basi. Remaja itu duduk di samping teman Satya yang berwajah tampan seperti aktor drama korea.

Bukannya menjawab Satya malah balik bertanya dengan raut masam. "Lo deket banget ya sama temen cowok lo yang tadi?" tanyanya balik.

Ravin mendengus kecil. "Apa penting buat gue jawab?"

"Pentinglah! Jangan bilang dia juga suka sama lo?" sahut Satya dengan nada kesal.

Ravin mengerutkan kening, lalu menjawab dengan suara pelan namun tajam, "Dia bukan tipe manusia homo kayak lo."

Mendengar itu membuat teman-teman Satya saling memandang satu sama lain. Merasa kagum karena cowok dingin ini sangat berani berkata seperti itu pada Satya, seolah lupa bahwa semalam bahkan Ravin berani menampar pipi Satya. Anehnya Satya tidak marah dan malah terkekeh, seolah sudah mendengar sebuah lelucon yang lucu.

"Hmm."

"PMS ya lo? Jutek amat," kata teman Satya yang terlihat seperti orang korea.

"Dia kan emang dingin jutek gitu, makanya Satya suka," jelas yang berkacamata.

Ravin tetap diam, tatapannya datar dan sama sekali tidak terpengaruh.

"Buruan, Sat. Gue gak ada waktu buat denger basa-basi lo," ucap Ravin, menatap Satya yang masih tampak santai.

Satya terkekeh pelan, lalu melirik ke arah teman-temannya. "Kenalin dulu mereka. Penting, biar lo tau siapa aja orang yang bisa lo andelin kalau suatu hari gak ada gue, dan lo ada masalah."

"Hm?" Alis Ravin terangkat. Masalah? Masalah gue ya dideketin lo!

"Yang di samping lo namanya Jaehwan Daniel Lesmana, campuran korea dia."

Ravin dan cowok bernama Jaehwan itu saling menatap beberapa detik.

"Gue Jaehwan Daniel Lesmana, lo bisa panggil gue Jae atau Niel."

"Yang disana ada ketua eskul basket, Rakanza Shakiel Zafran. Terus yang pake kacamata namanya Kalingga Pramudya. Kalo ini Atlas Zhian Kalandra, dan yang disitu ketua osis kita, Avanza Alterio. Lo harus inget mereka, karena mereka orang kepercayaan gue."

Ravin hanya mengangguk kecil tanpa niat mengingat nama-nama itu. "Udah?" tanyanya singkat dengan ekspresi datar.

Satya mengangguk dan tersenyum manis yang langsung membuat siswi-siswi yang memperhatikan mereka langsung tersedak ludah sendiri. Meskipun mereka tidak tahu apa yang membuat Satya tersenyum. Andai saja mereka bisa mendengar percakapan di antara Satya dan gengnya itu, pasti mereka jadi tahu alasannya. Menurut mereka, ini momen yang sangat langka bisa melihat Satya tersenyum, apalagi dengan adanya sosok remaja yang terkenal sangat dingin berada di antara cowok-cowok populer itu.

Mereka merasa Ravin pantas-pantas saja apabila bergabung dengan geng Satya. Meskipun Ravin miskin, tapi Ravin memiliki modal wajahnya yang tampan. Lalu, apakah ini acara perekrutan Ravin ke dalam geng Satya? Gadis-gadis itu mengiranya begitu. Karena jarang sekali ada orang lain yang bisa duduk bersama dengan geng cowok-cowok tampan itu. Kecuali para gadis berkelakuan centil seperti Jumi dan dayang-dayangnya.

"Gue mau ke kelas."

Ravin hendak berdiri namun lengannya di tahan oleh Satya.

"Ngapain buru-buru gitu? Temenin gue makan dulu."

"Gue masih ada tugas," sahut Ravin dingin.

"Kerjain nanti aja, kasian itu Satya keliatan masih kangen," saran Lingga sambil membenarkan kacamatanya. Meski berkacamata dia sama sekali tidak terlihat seperti nerd. Mungkin Lingga satu-satunya orang pintar yang ada di geng Satya.

[1] Kang Begal (REMAKE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang