29. Kepergian Aleta

1.3K 135 5
                                        

Senja mulai datang membawa kesan sendu pada bumi. Semburat cahayanya mengintip dibalik awan gelap bagai pernyataan perpisahan. Tapi tidak akan lama, bumi dan mentari akan segera bertemu lagi. Perpisahan yang singkat.

Aleta terdiam menunggu Revin seperti biasanya. Bukan senyum manis yang ia bawa seperti biasanya tapi air mata pilu yang ada. Suara pintu terbuka mengantarkan muka lelah Revin. Pandangan mereka beradu, mata merah Aleta dan mata terkejut Revin.

"Kenapa?," tanya Revin bergegas masuk melemparkan tas punggungnya ke tempat tidur. Aleta menggeleng, mengusap pipinya.

"ayo bicara vin, satu hal yang serius,"

Revin mengangguk, mengambil duduk di samping Aleta menggenggam erat kedua telapak tangan Aleta. Air mata kembali luruh sebelum sempat Aleta berucap.

"bicara ya bicara, ga usah nangis," ucap Revin mengusap air mata Aleta yang mulai semakin deras. Revin tidak mengerti ada apa dengan Aleta saat ini, tapi ia sudah tahu apa yang Aleta alami akhir-akhir ini.

"Maaf, ayo bercerai,"

Satu kalimat terdengar membawa mendung di tengah langit berbintang. Revin diam begitupula Aleta. Tidak ada yang saling bicara setelah satu kata terkutuk itu terdengar.

Revin meneguk salivanya dengan susah payah disertai tarikan napas berat, "Ayo,".

Tanpa bertanya air mata Aleta kembali turun tanpa disertai isakan, hanya mengalir. Dadanya sesak seakan tidak ada oksigen lagi untuk bernapas. Revin menyetujuinya, lantas itu yang orang-orang inginkan tapi kenapa ia tidak ikhlas. Baru saja ladang bunga masuk ke dalam hubungan mereka namun semua itu hanya sebentar seperti hidup yang katanya hanya mampir minum.

Tautan tangan mereka terlepas, Revin berdiri.

"Terimakasih, lo bertahan sejauh ini udah sebuah ukuran yang bagus untuk pernikahan yang cuma lelucon aja. Semua akan segera di urus, silahkan tinggalkan rumah ini secepatnya," tegas Revin berjalan keluar kamar meninggalkan Aleta yang sudah hujan air mata.

"Gue berharap ini cuma perpisahan singkat Aleta,"

— Married Dadakan —

Aleta menatap beberapa tas yang sudah penuh dengan barang-barangnya. Ia menatap menyusuri seluruh kamar Revin. Rasanya seperti dejavu, ingatan pertama kali ia datang kesini berputar bagai film bersamaan dengan kenangan lainnya di rumah ini.

Setelah pembicaraan malam itu, Aleta tidak melihat sedikitpun Revin bahkan bayangannya tidak Aleta lihat. Bahkan ini sudah dua hari.

"Sudah selesai?," tanya Alvina yang berdiri di depan pintu kamar. Aleta tersenyum, lebih tepatnya memaksakan senyum. Ia menghampiri Alvina memeluk erat ibu mertuanya itu dengan isak tangis yang kembali terdengar.

"sstt ... hanya sebentar Aleta, demi Cally juga Revin. Kamu gak apa kan harus berkorban sedikit?," Alvina menengangkan mengusap kepala Aleta perlahan dengan air matanya yang ikut mengalir juga.

Aleta mengangguk, "iya ma, tapi Revin .... Revin pikir Leta ...," ucapnya terpotong dengan isakan tangis lagi.

Dalam bayangan Aleta, lelaki itu akan setidaknya menolak sehingga dirinya bisa mencari cara lain tapi kenyataannya berbeda.

Ponsel berdering nyaring menandingi suara tangis Aleta. Segera Alvina melepas pelukan berjalan meraih ponsel Aleta yang tergeletak bebas di tempat tidur.

Ia berdesis menatap layar ponsel, "Amora sudah telpon, angkat nak jangan menangis," titahnya pada Aleta yang tengah mengatur napas agar tidak menangis.

Married Dadakan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang