Losta Connecta by Andhyrama
www.andhyrama.com// IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama//FB: Andhyrama// Ask.fm: @andhyrama
***
"Totalnya sepuluh ribu rupiah, Bu," ucapku setelah menghitung belanjaan dalam plastik hitam yang ada di tanganku.
Sang pembeli yang dari tadi melihatku dengan tersenyum-senyum itu memberikanku uang lima ribuan. Aku mengatakan padanya bahwa uangnya kurang, tetapi dia diam. Dia tetap melihatku dengan pandangan aneh dan senyumnya yang aneh pula.
"Maaf, Bu, uangnya kurang," kataku lagi dengan pelan.
"Oh, ya? Maaf," ungkapnya langsung mengambil uang lima ribuan lagi dari dompetnya.
Setelah itu ia pergi dengan berjalan kaki. Ia masih sempat-sempatnya melirik ke arahku dengan tersenyum-senyum sendiri. Aku tak mengerti, jadi aku memilih membalikkan badanku dan kembali menata barang dagangan warung pamanku ini.
Liburan panjang aku habiskan di sini, rumah pamanku di Bogor. Aku membantunya menjaga warung dan kadang pula aku pergi ke bukit untuk menyusuri kebun teh bersama sepupuku, Eldo. Kami tidak ke sana untuk memetik pucuk daun teh melainkan hanya jalan-jalan. Beruntung jika kami melihat atau berpapasan dengan gadis-gadis yang lewat. Udara yang dingin akan semakin sejuk bila memandang paras-paras rupawan gadis-gadis itu.
Selain karena aku bisa bermain dengan Eldo, Paman dan Bibi juga sangat baik. Berada di tengah-tengah keluarga mereka membuatku merasa nyaman. Komunikasi satu sama lain terjalin hangat dan penuh rasa kekeluargaan, tidak ada teriakan-teriakan di sini. Semuanya damai.
Melihat anak-anak kecil berlari di jalanan depan warung ini. Aku jadi ingat saat aku dan Eldo masih kecil. Kami berdua sangat nakal. Ada saja kejahilan-kejahilan yang kami lakukan berdua. Sayangnya aku harus ikut pindah ke Jakarta karena ayahku membeli rumah di sana untuk mempermudah perjalanan ke kantornya.
Suara motor terdengar keras, Eldo pulang dari membeli paku karena disuruh ayahnya. Eldo punya tampang tengil, rambut acak-acakan dan tubuh kurus, namun tinggi. Alisnya terlampau tebal dan kupingnya punya proporsi besar jika dibandingkan dengan besar kepalanya.
"Angga! Tadi gue ketemu Tika, cewek yang lu suka dulu," kata Eldo sembari memarkirkan motornya.
"Paling dia sudah punya pacar, lagi pula aku sudah tidak menyukainya," jawabku sembari menata tumpukan mie instan sesuai rasa dan mereknya.
"Bener juga sih, dia kelihatannya tak sepolos dulu. Pastinya pacarnya anak berandalan," ungkap Eldo yang tengah turun dari motor.
"Aku rasa zaman sekarang sudah tidak ada cewek yang polos lagi," kataku berpendapat.
"Ada kok ada," sahut Eldo.
"Mana buktinya?" tanyaku menantang.
"Di Posyandu banyak tuh cewek yang polos," jawabnya sembari tertawa.
"Itu bocah!" kataku yang akhirnya tertawa juga.
"Positif aja, Ngga! Gue yakin di luar sana masih ada cewek polos," kata Eldo yang segera masuk ke dalam rumah.
Aku tidak benar-benar yakin dengan kata-kata Eldo. Cewek polos di zaman sekarang? Pastilah seperti sebutir berlian di gurun pasir. Perkembangan teknologi dan pengaruh budaya asing sudah merambah begitu pesat. Hampir tidak ada yang tidak mengenal internet dan di sana banyak sekali hal-hal yang negatif. Demikian juga televisi dan media lainnya.
Di otakku memang ada pikiran naif bahwa aku akan mendapatkan cewek polos yang baik hati, tetapi itu sama saja mengharapkan hujan salju di Jakarta. Hubunganku dengan Ratna saja kandas begitu saja karena dia sudah memilih yang lain, sekarang yang aku lakukan cuma ingin melupakan dia. Buat apa juga aku memikirkan cewek yang meninggalkanku? Aku seharusnya sadar dia cantik cuma modal bedak. Baru ada cowok datang bawa mobil saja aku ditinggalkan begitu saja. Alasan putusnya dia bilang karena aku tidak bisa mengantarnya terus-terusan ke salon langganannya. Aku ini pacar atau tukang ojek? Sekarang aku jadi memikirkannya lagi. Angga, pindahkan channel pikiranmu!
KAMU SEDANG MEMBACA
Losta Connecta 「END」
Teen Fiction[12+] Semua akan menjadi sulit jika kami berdua Losta Connecta. Pemenang THE WATTYS 2016 kategori #CeritaSosial Goblok! Tidak ada yang membuatku menjadi segoblok ini selain hanya jatuh cinta! Hana Paramita! Di...
