Losta Connecta by Andhyrama
www.andhyrama.com// IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama//FB: Andhyrama// Ask.fm: @andhyrama
***
Mingguku tidak sesuai harapan. Aku tidak bisa mengirim pesan ke Hana karena ternyata Sella selalu mengawasi Hana. Sedangkan anak itu benar-benar bertanya banyak hal tentangku. Aku tidak bisa menelan apa yang aku katakan sebelumnya sehingga begini jadinya. Aku menjadi seperti narasumber yang ditanya banyak hal oleh Sella walau aku hanya menjawab satu huruf dia akan menyambung terus tanpa putus bahkan ketika aku tidak membalas dia mengirim ping banyak sekali padaku. Ini yang namanya panitia MOS dikerjai oleh peserta MOS.
Selain pekerjaan menjadi narasumber, aku hanya bermain game di laptop dan menonton televisi. Nala beres-beres rumah dan menyiapkan makan untuk aku dan Ayah sedangkan Ayah sendiri, dia pergi setelah sarapan. Dia hanya bilang kalau dia ada urusan dengan temannya.
Alarm berbunyi dan aku segera bangun. Hari pertama ini aku mendapat tugas untuk menjaga gerbang sehingga aku berangkat lebih awal. Sebelumnya Risa sudah mengirim pesan bahwa dia akan berangkat sendiri padahal kali terakhir dia membawa motor ke sekolah, ia menabrak gerobak tukang bubur. Entah apa yang akan dia tabrak nanti, kadang kebiasaannya sama seperti sepupuku suka ngebut-ngebutan.
Jam setengah enam dan aku sudah berada di depan gerbang bersama dengan Reno dan Kina. Reno Putra Atmojo adalah saudara kembar Rani Putri Atmojo mereka sama-sama kelas sebelas sekarang, berbeda dengan Rani yang cerewet—dia selalu dijadikan pembawa acara untuk kegiatan-kegiatan di sekolah— Reno tidak banyak bicara namun dengan postur tegap dan tinggi dia tampak berwibawa. Sedangkan Kina adalah gadis yang menggebu-gebu dan terkenal galak.
"Adek itu jalan apa ngesot? Cepat! Waktu adalah uang!" teriak Kina pada gerombolan peserta mos yang memakai topi kerucut berwarna-warni itu.
"Awas tasnya jatuh," ucapku saat melihat mereka lari tergopoh-gopoh.
"Kasih salam! Punya sopan santun kan?" kata Kina lagi saat mereka sudah sampai di depan gerbang.
"Selamat pagi Kak!" ucap mereka dengan terpaksa.
"Senyum! Pelit amat kasih senyum!" teriak Kina lagi dengan geram.
"Pagi!" jawabku yang juga tersenyum ke arah mereka.
"Pagi," jawab Reno datar.
Melihat anak-anak itu aku jadi teringat dua tahun yang lalu saat aku berada di posisi mereka. Aku benar-benar geram dengan panitia MOS yang serasa ingin sekali dihormati. Kami dituntut mengeluarkan senyum palsu kepada mereka dan berucap salam pada akhirnya kami dimarah-marahin hanya untuk kesalahan sepele. Aku benar-benar geram pada kakak kelasku yang menjadi panitia MOS dulu. Aku masih ingat Kak Tari yang memarahiku sampai cipratan-cipratan ludah keluar dari mulutnya, benar-benar ingin kugampar waktu itu.
Positifnya dari MOS ini sebenarnya tentang kekompakan satu kelompok, pembelajaran disiplin dan pelatih kesabaran. Akan tetapi tentu tidak semua mampu menarik kesimpulan ini ketika mereka begitu marah. Terlalu banyak kemarahan yang dipendam oleh peserta MOS dengan sistem yang seperti ini. Kemarahan yang dipendam ini akan menjadi dendam.
Awal aku ingin masuk menjadi OSIS pun salah satu alasannya adalah karena dendam walau di samping itu aku memang ingin berorganisasi. Tidak berbeda dengan yang lain apalagi si Kina ini. Kalau Risa hanya kebetulan saja kenal dengan salah satu kakak kelas anggota OSIS sehingga dia ikut masuk juga. Dendam itu luntur saat aku mulai diterima menjadi anggota OSIS saat kelas sepuluh, ternyata kami juga masih tetap dididik dengan suara keras oleh OSIS kelas sebelasnya. Aku mulai merasa bahwa itu semua tidak ada artinya siklus ini tidak akan terhenti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Losta Connecta 「END」
Teen Fiction[12+] Semua akan menjadi sulit jika kami berdua Losta Connecta. Pemenang THE WATTYS 2016 kategori #CeritaSosial Goblok! Tidak ada yang membuatku menjadi segoblok ini selain hanya jatuh cinta! Hana Paramita! Di...
