-IMMORTAL-
[Warning! Typo(s)!]
"Sialan!"
Taehyung kembali menghajar Yugyeom tanpa ampun, murkanya telah pada puncaknya. Rahangnya kian mengeras saat Yugyeom kembali tersenyum remeh.
"Sekalipun aku hancur di tanganmu, tidak akan mengingkari jika mate mu telah jatuh cinta padaku."
"Bedebah! Makhluk rendah sepertimu tahu apa tentang cinta? Hancurlah bersama pesakitmu"
Taehyung bersiap dengan cakarannya, menggantung di udara sebelum melayangkannya pada tubuh Yugyeom. Kilatan angkara terpapar nyata dari iris netranya, tenaganya tidak berkurang sedikitpun, dan Yugyeom tahu, jika Inner Alpha milik Taehyung yang di hadapinya sekarang.
Yugyeom sadar jika ini semua salahnya. Sudah seharusnya ia merasakan ini. Yugyeom menikmati sakitnya, karena apa yang hadir di setiap luka pada tubuhnya adalah pembuktian cintanya pada Jungkook. Yugyeom tidak akan menyerah jika Jungkook tak menolaknya saat itu, dirinya bisa saja mereject pasangannya dan bertahan demi Jungkook. Namun semua telah pada titik saat ini, dimana ia dan amarah sang mate dari kasihnya sedang beradu.
"Aku tidak akan menyesal jika harus mati di tanganmu. Karena aku tahu, bahwa aku berhasil memiliki apa yang tidak kau miliki, Alpha Kim."
Sraggh..
Sraggh..
Tersusuli dentuman dahsyat menyuar kepenjuru hutan. Taehyung berhasil mendaratkan cakarannya pada tubuh Yugyeom, membenamkan cakarnya pada pusat kehidupannya dan meremasnya hinga hancur tak tersisa. Yugyeom telah hancur, tubuhnya kembali pada asalnya. Taehyung lihat itu, bagaimana Yugyeom tersenyum didetik kematiannya.
"Jika aku harus binasa hari ini, dan itu mampu menukar bahagiamu. Maka binasaku untukmu, dan bahagiamu adalah bahagiaku. Aku selalu menyayangimu, Jungkook. Selalu mencintaimu."
-
"Aku mohon, Jim."
Yoongi kembali menciumi pusat feremon Jimin. Memberikan afeksi pada kehidupannya yang menghitam. Tidak masalah jika yang hancur adalah dirimya, Yoongi tidak mengapa. Hanya saja mengapa harus Jimin juga?
"Kau bilang hanya aku saja! Kenapa kau limpahkan pada Jimin juga? Tidak bisakah kau pindahkan saja padaku? Moon Goddes, apa kau anggap semua ini hanya sekedar penghiburmu?"
Yoongi berteriak lantang, tatapannya sarat kepedihan. Kembali menitik pada terkasih yang semakin melemah, Yoongi berhasil dibuat mendingin untuk kesekian kalinya.
Dirinya kembali mengukung Jimin di bawah kesedihannya. Pikirannya kacau, menatap wajah sang mate tak berdaya seperti ini. Yoongi percaya, jika matenya adalah sosok yang kuat, sama seperti dirinya.
Hanya ini satu-satunya cara yang dapat Yoongi lakukan. Cara terakhir dan penentu bagi keduanya.
Mating
Yoongi menatap lamat wajah damai Jimin, tidak menyiratkan kesakitan sedikitpun. Merendahkan kepalanya pada pangkal leher Jimin, pusat feremonnya. Yoongi perlahan menyapu pusat feremon Jimin yang terasa panas di lidahnya, taringnya perlahan menyentuh kulit Jimin.
Tubuh Jimin bergetar hebat saat taring Yoongi berhasil menembus pertahanannya, dirinya tersentak saat Yoongi semakin membenamkan taringnya pada lehernya.
Tidak ada manis yang tercecap, Yoongi semakin gencar menghisap feremon Jimin. Mencoba membangkitkan Inner Wolf Jimin yang terkubur. Tidak, Yoongi tidak akan salah. Feremon Jimin menghilang, Yoongi menghentikan kegiataanya. Tidak ingin repot membersihkan darah Jimin yang tertinggal pada bibirnya.
"Jimin aku mohon, aku mohon. Bertekadlah untuk hidup, aku mohon."
Yoongi kembali menghisap feremon Jimin. Akalnya bak hilang ketika perlahan dunianya memutih. Yoongi kembali merasa jatuh saat Wolf dalam dirinya berkata,
"Kau dan Jimin sama saja. Jimin menukar hidupnya untuk melihatmu hidup. Dirinya menyesali keputusan untuk merejectmu. Pesakitmu tidak cukup sakit untuk kau rasakan sendiri, kehidupan ini ada karena kalian sendiri. Jimin tidak akan mati, karena di tangannya ada aku dan kau yang bergantung hidup. Aku tidak akan berbohong jika aku kecewa padamu, bukankah kau tahu jika aku makhluk yang bergantung pada mate?..."
"...Inner wolf milik Jimin, mateku, belahan jiwaku. Kau tega merejectnya. Aku sedang menahannya, agar tak lagi kau sakiti dengan kata-katamu. Kau nikmati sakitmu, dan jika memang keputusanmu untuk mereject Jimin adalah akhir, maka relakan aku dan Jimin pergi bersama. Karena tidak ada omega yang berhasil bertahan setelah Alpha mereka mereject. Feremonnya menghilang, karena Jimin sedang bersamaku, diduniaku. Cukup aku yang menjaganya, kau beristirahatlah. Tidak ada luka yang paling pedih melainkan setitik luka di hati."
"Maafkan aku Jimin, maafkan aku."
-Send Warm Regards-

KAMU SEDANG MEMBACA
IMMORTAL : MYG
FanfictionBagi Werewolf Mate adalah segalanya. Hidup mati dan jiwanya. Pelengkap sekaligus pasangan untuk selamanya. Namun bagaimana jika Mate yang ditakdirkan oleh Moon Goddes sangat bertolak belakang dari keinginannya? Akankah takdir dapat mempersatukan mer...