Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kala ngos-ngosan, memang salah dirinya sebenarnya mengejar Angga sampai parkiran sedangkan bocahnya udah ga kelihatan. Untung saja hujan sedikit menjeda air miliknya turun, jadi Kala tak perlu repot-repot untuk menutup kepalanya atau mengusap wajah nya yang basah.
Gadis itu menepi ke teras kelas dua belas. Sekolah hari itu sudah sepi, sebenarnya Kala sedikit takut apalagi tas nya tertinggal di UKS yang terkenal angker itu. Aduh Kala jadi bingung mau kemana.
"Loh nak Kala? Belum pulang?" Seseorang menepuk pundak Kala, ternyata itu pak Mamat penjaga sekolah.
"Oh, belum pak. Bapak sendiri? Masih ngunci kelas ya?" Kala nanya balik sambil tersenyum manis.
"Baru saja selesai ngunci kelas, Nak Kala segera balik ya tadi bapak lihat Nak Angga udah pulang."
Pak Mamat ini kenal banget sama Angga dan Kala, dulu waktu masih kelas sepuluh mereka berdua pernah kena hukum bersihin seluruh kelas karena ga sengaja jatuhin pot bunga dari tingkat dua dan mengenai kepala Pak Jamal. Selain itu juga mereka ga boleh pulang kalau warga sekolah belum pulang semua, dan waktu itu yang tertinggal hanyalah pak Jamal, jadi deh mereka sekalian bantuin bapak itu.
"Loh beneran pak? Bapak lihat dimana?"
"Tadi lewat dari gerbang samping, sama satu gadis geulis pisan, bapak pikir tadi itu Kala." Jawab Pak Jamal membuat Kala tersenyum kecut. Sialan dirinya di tinggal.
"Yaudah kalau gitu, Kala balik ya pak, bapak juga jangan lama lama disini, duluan pak." Setelah berujar begitu Kala pun menyalimi tangan pak Jamal kemudian pergi berjalan dengan lantang, menghiraukan hujan yang masih turun dengan kilatan petir yang menyambar-nyambar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di sinilah Kala sekarang, di depan halte menunggu bis yang akan datang. Sebagian tubuhnya basah, mengingat dirinya yang inisiatif menempuh hujan yang berubah berganti menjadi deras saat di jalaninya. Ojol yang di pesan nya pun mengcancel dirinya, membuat Kala sedikit frustasi karena bingung mau pulang bagaimana.
"Emang harusnya gue ga nolongin Angga, biar aja berantem." Monolog nya kesal.
Jam sudah menunjukan pukul set empat sore. Jalanan sunyi tak ada orang berlalu lalang, baik angkot maupun bus. Kalau begini saja sudah jelas Kala akan menunggu di sini sampai malam. Semua teman nya sudah ia chat satu persatu ingin meminta tolong menjemput dirinya, namun sampai sekarang tak ada balasan, di tambah lagi baterai gawai nya mulai menipis.
Ting
notifikasi dari gawai Kala berbunyi, buru-buru ia periksa
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mata Kala membulat, tumben teman nya yang satu ini peka. Dengan segera Kala menuju room chat dirinya dengan teman nya itu, namun ketika hendak mengirim balasan chat tersebut, sebuah motor berhenti tepat di depan nya.
Kala pun mendongak, setelah melihat siapa yang ada di depan nya senyum nya mengembang.
"Huwee akhirnya ada yang jemput, mau nangis." Ujar Kala, air matanya beneran menetes.
"Gausah cengeng, cepat pakai nanti hujan tambah lebat." Ujar seseorang tadi seraya memberikan jas hujan berwarna pink itu kepada Kala.
"Mari, berangkat!" Kala berucap semangat ketika dirinya sudah siap berada di goncengan.
"Kala jangan rusuh, pegangan gue mau jalan."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Oh tidak, Pagi kembali menyapa. Dan pagi Kala disambut dengan ocehan dari pak Kuncoro, si guru kesiswaan yang hari itu menjaga siswa siswa yang terlambat datang. Padahal saat itu kepala Kala mendenyut tak karuan, pusing datang menghampirinya. Untung saja dia tak pingsan.
"Kala? Kamu lagi yang terlambat, bapak sampai bosan loh lihat kamu?" Ucap Guru kepala empat tersebut. Kala tak terlalu mendengarkan, karena kepalanya yang kurang baik.
"Saya juga bosan pak di sini terus, saya ke UKS ya pak. Kepala saya pusing." Jawab Kala, tak bisa di pungkiri kepalanya memang sangat pusing, badan nya lemas. Mungkin ini efek hujan hujanan kemarin bersama teman nya.
Pak Kuncoro yang memang melihat wajah Kala pucat pun iba, dengan cepat guru tersebut menganggukkan kepala tanda mengiyakan.
"Yaudah sana ke UKS, hati-hati!"
Pak Kuncoro kembali kepada siswa yang terlambat. Pikirnya kalau Kala tak dia kasih ke UKS bisa-bisa gadis itu pingsan, wajahnya udah kaya orang albino sangking pucat nya.
Sesampainya di UKS Kala langsung menuju ranjang kosong, pagi itu UKS sepi. Hanya dirinya dan satu orang di ranjang paling depan. Ohiya Kala semalem juga meninggalkan tas nya di sini, kalau di bawa pulang bisa basah, di dalam tas nya juga ada buku tugas yang ga boleh lecet maupun basah. Kalau itu kenapa-napa ntar nilai milik Kala terancam.
"Enak ya, udah punya Angga masih aja deketin Rakha."
Kala yang tadinya sudah hampir masuk ke dalam dunia mimpi kini terbangun lagi. Suara yang tadi itu berasal dari mana? Dari mana juga dia tau Rakha itu teman nya Kala.
"Gausah sok ga denger deh ya, cewe murahan kaya lo ga pantes deketin mereka berdua!"
Ucapan itu menggema lagi, kini sudah jelas bukan kalau perkataan itu di lontarkan untuk Kala. Karena selain dirinya dan orang itu siapa lagi di sini.
"Kalau ngomong tuh di depan orang nya langsung, jangan di balik tirai, ga punya muka?" Tukas Kala menjawab. Hadeuh mau tidur aja ngapa susah banget yak.
"Dih gue ga punya muka? Gue males aja berhadapan sama lo, muka lo tuh najis parah tau ga? Ntar gue ketularan murahan lagi."
Srek
"Bukannya lo emang murahan ya, Susan?"
gaiseu maaf baru up, waktu itu aku lagi writer's block parah banget huhu:((