Sehari setelah kembali ke Los Angeles, Renjun pun kembali ke kegiatan sehari-harinya. Bekerja di kantor milik Jeno.
"Sudah selesai?" Tanya Jeno yang baru saja keluar dari ruangan-nya.
"Proposal yang anda minta buat meeting nanti, sudah selesai." Ucap Renjun. Renjun tetap berbicara dengan bahasa formal kepada Jeno di kantor. Berbeda sekali kalau mereka sedang berdua di luar kantor.
Hubungan Jeno dan Renjun pun mulai membaik setelah pulang dari Los Angeles.
"Bisakah kau ikut dengan saya?" Tanya Jeno.
"Kenapa Tuan? Bukan-kah meeting anda masih dua satu jam mendatang. Lagi pula ini sudah jam makan siang. Tidak mungkin anda ada pekerjaan di jam makan siang bukan?" Tanya Renjun, menatap Jeno dengan tatapan heran.
Jeno yang mendengar balasan Renjun pun langsung melihat sekitar, sebelum akhirnya ia mendekati wajah-nya ke Renjun. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitarnya.
"Kita makan siang bersama sayang. harus ya aku jelaskan secara rinci? Atau kau ingin semuanga tau tentang hubungan kita? Kau ingin hubungan kita go-public? Oke kalau itu mau-mu, aku akan mengatakan-nya." Ujar Jeno.
"Jangan!" Cegah Renjun, dengan spontan langsung menahan pergerakan Jeno yang ingin menjauh.
"Jangan, aku tidak menginginkan itu. Lagipula kita tidak punya hubungan apapun selain atasan dan bawahan." Seru Renjun, memperingati Jeno.
Toh perkataan yang ia lontarkan benar adanya. Hubungan antara dirinya dan Jeno tuh hanya sekedar atasan dan bawahan. Serta mantan kekasih.
Ya kan emang mereka belum balikkan. Jeno yang belum menjadikan Renjun sebagai kekasihnya kembali. Serta Renjun yang tidak mau kembali kepada Jeno, sebelum Jeno memutuskan pertunangan antara dirinya dan Joo Seokyung.
Jeno yang mendengar itu pun mendengus kasar. Ia bertekad akan memutuskan hubungan-nya dengan Joo Seokyung, kalau wanita itu sudah kembali dari study-nya di Jepang.
"Sabar ya sayang. Aku akan menjadikan diri-mu menjadi milik-ku seutuh-nya. Tunggu sebentar lagi." Pinta Jeno, berbisik tepat di sebelah telinga Renjun.
Jeno langsung jalan lebih dulu dan masuk ke dalam lift, di susul Renjun di belakang-nya.
Renjun cuma bisa mengangguk seraya menampilkan senyuman manisnya. Ia tidak bisa memaksa Jeno. Toh ini juga salah-nya yang tidak ingin menikah sehabis lulus sekolah, dan malah memilih untuk pergi meninggalkan Jeno, untuk kuliah di luar negeri.
Jadi, Renjun cuma bisa menunggu Jeno. Menunggu Jeno mengambil tindakan yang tepat untuk kehidupan Jeno. Kalau Jeno lebih memilih untuk mempertahankan Joo Seokyung? Terpaksa ia harus mundur dan pergi dari kehidupan Jeno lagi. Begitu juga sebalik-nya. Jika Jeno menginginkan dia? Jeno harus memutuskan hubungan serta pertunangan-nya dengan Joo Seokyung. Katakan-lah Renjun munafik dan seenak-nya. Renjun tidak perduli itu.
*ting* pintu lift terbuka. Baik Jeno dan Renjun pun segera keluar dari lift. Berjalan melewati lobby dan langsung masuk ke dalam mobil Jeno, yang sudah tersedia di depan perusahaan milik Jeno.
"Mau makan apa heum?" Tanya Jeno yang saat ini tengah mengusap pucuk kepala milik Renjun.
"Udon! Aku mau udon!" Seru Renjun. Tadi Renjun lihat di sosial media-nya, ada orang yang makan udon dan itu terlihat enak sekali.
"Oke, pak tolong ke restoran Udon ya." Pinta Jeno kepada supirnya.
"Apalagi jadwal-ku sehabis meeting dari perusahaan LV coorporation?" Tanya Jeno.
Renjun mengecek ponsel-nya sejenak, untuk melihat jadwal Jeno hari ini. "Tidak ada. Hanya itu jadwal meeting anda-- eh kamu maksudnya." Seru Renjun. Kadang Renjun suka lupa kalo Jeno ngelarang ngomong selain aku-kamu kalau lagi berdua.
Iya! Jeno ngelarang Renjun untuk berbicara selain pakai aku-kamu kalo lagi berdua. Kalau lagi tidak berdua sih, panggilan mereka anda-saya. Sangat formal bukan? Yup, Renjun tidak mau orang lain tau kalau mereka itu dahulu-nya sepasang kekasih. Ya walaupun tidak ada yang memutuskan hubungan masing-masing. Jadi tidak ada istilah mantan kekasih untuk hubungan mereka berdua.
"Pulang kerja, ke apartemen aku ya?" Ucap Jeno, meminta Renjun untuk pergi ke apartemen miliknya.
"Jen, aku juga punya rumah." Peringat Renjun. Pasalnya sudah dari kemarin, semenjak dia pulang dari Los Angeles, dia menginap di rumah Jeno, tanpa pulang ke rumahnya.
Renjun sudah menolak kawan. Tapi Jeno tetap kekeh untuk membawa Renjun ke apartemen miliknya. Jadi, mau tidak mau Renjun menuruti permintaan Jeno. Jeno itu keras kepala kalau menginginkan sesuatu.
"Kata siapa kamu gak punya rumah." Balas Jeno acuh.
"Ya maka dari itu aku harus kembali ke rumah. Aku belum menginjak rumah-ku sejak kemarin." Balas Renjun.
"Tidak usah. Kau tinggal di apartemen-ku saja." Ucap Jeno.
"Tapi--" Ucap Renjun yang ingin mengelak. Namun Jeno sudah lebih dulu mengintrupsi-nya.
"Aku mohon. Pindah-lah ke apartemen milik-ku. Aku akan membantu-mu pindahan kalau kau mau." Pinta Jeno, seraya menujukkan tatapan penuh permohonan.
Renjun ragu, tapi ia tau kalau melawan Jeno itu tidak ada guna-nya. Ia pasti bakalan kalah, karena sikap keras kepala milik Jeno. Jadi, mau tidak mau Renjun menyetujui-nya.
"Baiklah." Ucap Renjun yang lebih memilih pasrah.
Jeno langsung tersenyum, menunjukkan eye smile andalan-nya begitu mendengar jawaban dari Renjun.
"Kalau gitu, nanti pulang kerja, kita pulang bersama. Biar--"
"Jangan pulang bersama." Seru Renjun, memotong ucapan Jeno.
"Loh, kenapa?" Tanya Jeno dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Aku tidak mau ada gosip yang beredar mengenai aku dan kamu hanya karena pulang bersama. Jadi, biarkan aku pulang sendiri. Aku akan membereskan baju-ku lebih dulu. Baru setelah itu kau menjemput-ku." Pinta Renjun, memberikan penjelasan kepada Jeno.
"Tapi Injun-ah." Ujar Jeno.
"Aku mohon. Kali ini saja kau turuti permintaan aku." Pinta Renjun, menujukkan tatapan penuh permohonan kepada Jeno, agar Jeno mau menuruti permintaan-nya.
Jeno memandang ragu Renjun. Namun pada akhirnya dia menyetujui permintaan Renjun. Ia tidak bisa menolak jika Renjun sudah menunjukkan mata yang penuh binar itu.
"Baiklah." Ucap Jeno yang sukses membiat Renjun berseru senang.
"Tuan, kita sudah sampai di restaurant yang tuan inginkan." Seru sang supir, yang membuat obrolan antara Jeno dan Renjun terputus.
Jeno dan Renjun segera keluar dari mobil-nya.
"Bapak mau ikut gak?" Tanya Renjun, mengajak supir Jeno. Kan tidak sopan kalau hanya dia dan Jeno yang makan.
"Ah tidak usah non. Saya makan di tempat lain saja. Nanti saya kembali lagi ke sini untuk menjemput Tuan dan Nona." Seru Pak supir, menolak tawaran Renjun.
"Bapak yakin?" Tanya Renjun yang ragu atas jawaban Supir Jeno.
"Iya Non." Seru pak supir.
KAMU SEDANG MEMBACA
NOT SEVEN DAY - NOREN
FanfictionCERITA INI KHUSUS NOREN (JENO X RENJUN) SHIPPER! APABILA KALIAN TIDAK SUKA DENGAN SHIPPER YANG BERSANGKUTAN? DIMOHON UNTUK TIDAK BERKOMENTAR NEGATIF DI KOLOM KOMENTAR! ATAUPUN DI KEHIDUPAN PRIBADI LEE JENO DAN HUANG RENJUN!
